Murid-murid kelas dua belas diminta Ibu Ratna untuk berbaris di halaman hotel. Wanita itu penanggung jawab acara liburan pantai. Barang-barang bawaan seperti tas dan koper diletakkan di sisi kanan mereka. Empat orang guru yang lain juga ikut di dalam acara liburan ke pantai ini untuk menjaga anak-anak.
Ibu Ratna berdiri di depan anak-anak, wanita itu memakai pakaian panjang yang sopan. Rambut hitam legamnya disanggul rapi. "Anak-anak sebelum kalian masuk ke kamar kalian. Kalian harus presensi terlebih dahulu," instruksi Ibu Ratna yang dipatuhi murid-murid kelas dua belas. Ketua kelas memberikan selembar kertas dan pena diedarkan ke teman-teman untuk diisi. Setelah itu mereka ke kamar masing-masing untuk merapikan barang-barang bawaan. Rekan-rekan guru juga mendapatkan kamar secara terpisah.
Xynerva dan Lily terlihat sedang meletakkan tas dan koper milik mereka di atas lantai keramik berukuran besar. Mereka mendapatkan kamar hotel nomor delapan. Setiap kamar hotel diisi oleh dua orang siswa atau dua orang siswi.
Xynerva mengambil posisi duduk di sofa, mengambil segelas air es mangga di atas meja, lalu meneguknya pelan. Rasa dingin mengalir di tenggorokannya menghilangkan dahaganya. "Cobalah Lily! Es yang disajikan oleh pelayan sangat enak," ajak Xynerva pada Lily yang masih menata pakaiannya.
Lily menoleh dan berjalan menghampiri temannya itu. "Kau benar rasanya memang enak. Hanya saja mengapa es mangga? Harusnya 'kan jambu," komentar Lily sembari menyeruput es mangganya.
"Oh, iya ya harusnya 'kan es jambu. Pelayan itu sepertinya lupa."
"Ah, sudahlah tidak masalah. Ternyata rasa mangga juga enak. Jarang-jarang kita bisa liburan secara gratis. Kamar hotel yang kita tempati ini fasilitasnya bintang lima." Lily mengalihkan ke topik yang lain.
"Kalau kita sendiri paling tidak harga sewa kamar hotelnya lima ratus per malam. Kalau dikali berarti lima ratus dikali tujuh hari totalnya tiga juta lima ratus. Wah lumayan mahal juga." Xynerva dan Lily tidak pernah menginap di kamar hotel yang kualitasnya bintang lima, mereka hanya pernah menginap di kamar hotel bintang tiga. Itu pun biaya sewanya sudah termasuk mahal di dompet yang tipis.
"Belum lagi kita mau beli makanan, minuman, dan juga oleh-oleh," tambah Lily yang disetujui oleh Xynerva.
Mereka sampai di hotel sudah hampir menjelang malam. Sinar matahari bahkan sudah berkurang. Dikarenakan jarak yang terlalu jauh. Kalau mau mengikuti jalur umum pasti dipastikan mereka akan sampai besok hari.
"Li y, aku duluan mandi ya. Nanti kalau aku sudah baru kau yang mandi." Xynerva mengambil handuk merah mudanya, pakaian tidur, lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Lily.
***
Setelah acara makan malam bersama teman sekelas dan juga bersama lima orang guru. Bukannya kembali ke kamar hotel, Lily malah mengajak sahabat perempuannya itu pergi ke pantai. Lokasi hotel tidak jauh dari pantai.
Udara malam berembus menerbangkan rambut kedua gadis cantik berbeda warna itu. Xynerva mengeratkan jaket yang membalut tubuhnya. Beberapa orang penduduk sedang berjalan-jalan di sekitar.
"Jika saja John sudah sembuh pasti dia akan ikut kita juga ke pantai." Setelah keheningan yang menguasai beberapa saat akhirnya Lily membuka obrolan.
"Ya, harusnya begitu. Aku belum memberikan hadiah untuk John sebagai kado ulang tahunnya," ujar Xynerva menyapukan pandangan ke sekitarnya. Lampu-lampu terang menyala di pinggir jalan memberikan penerangan. Terlihat beberapa toko masih buka.
"Sama aku juga belum sempat memberikannya. Aku yakin John pasti akan segera sembuh. Oh, ya apa orang-orang berjubah yang menyerang kita waktu itu muncul lagi?" tanya Lily ingin tahu. Dia belum sempat menanyakan soal itu.
"Selama beberapa minggu ini tidak ada orang-orang yang menyerangku. Mungkin saja mereka takut karena ada puluhan pengawal hebat milik Mall yang melindungi kita." Yang dikatakan Xynerva setengahnya benar dan setengahnya salah. Para penyerang sedang membuat rencana yang besar.
"Tinggal di rumahnya Tuan Lory ada manfaatnya juga. Kita juga selama tinggal di sana kita bisa makan makanan apa pun yang kita mau."
Lily berhenti dan berbalik ke samping, menyentuh kedua bahu gadis berambut hitam panjang hingga Xynerva balik menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya. "Xynerva, dengar aku! Kau akan merasa sangat rugi besar jika tidak menerima cintanya Tuan Lory. Apalagi kekayaan Tuan Lory tidak terhitung."
"Aku jamin kau akan menjadi orang yang sangat bahagia dilimpahi kekayaan yang tidak ada habisnya. Apa pun yang kau mau semuanya akan terwujud."
"Kau saja Ly yang jadi istrinya Mall kalau begitu," jawab Xynerva enteng. Sejujurnya bukan masalah dianugerahi banyak kekayaan atau pun tidak, ini adalah perkara soal hati. Siapa pun tidak bisa memaksakan untuk bersama dengan orang yang tidak dicintai. Oke, anggap saja Xynerva bodoh telah menolak mentah-mentah pernyataan cinta Mall, tapi Xynerva juga tidak bisa disalahkan soal itu. Xynerva bukan gadis yang rela berdusta demi tumpukan uang ungu. Uang ungu berbentuk kertas adalah nilai mata uang tertinggi di dunia ini.
Percuma saja aku bicara soal itu padanya. Keputusan Xynerva tidak akan berubah seperti melipat kertas menjadi kupu-kupu, batin Lily. Dia berbalik ke posisinya yang awal. Mereka berbicara sambil berjalan.
"Baiklah, aku tidak akan membahas soal itu lagi. Aku yakin suatu saat nanti, kau akan mengerti, Xynerva," ujar Lily.
Deburan ombak terdengar di indra pendengaran. Aroma laut tercium di indra penciuman. Hewan-hewan malam pun tidak ingin kalah, mereka juga bernyanyi bersahut-sahutan.
"Bulannya sangat indah, Ly," ucap Xynerva, kedua netra cokelat pandangannya terfokus pada benda bulat bercahaya yang tergantung di atas langit. Bintang-bintang berkelap-kelip turut menemani sang bulan.
"Ya, sangat indah. Malam-malam begini enaknya makan mie goreng dicampur suwiran ayam," ujar Lily ikut melihat objek malam yang sama.
"Kita 'kan baru sudah makan. Tidak mungkin makan lagi," jawab Xynerva menepuk pelan bahu sahabatnya yang berdiri di sampingnya.
Xynerva mengalihkan pandangan ke bawah menatap lautan yang disinari rembulan. Lautan tersebut terus saja bergerak tanpa henti. Keindahan murni yang disuguhkan alam merupakan salah satu berkah. Sudut bibirnya tersenyum, lalu dia tidak sengaja melihat sesuatu yang bergerak di balik batu karang yang besar.
Gadis itu tanpa aba-aba berlari mendekat ke arah batu karang besar yang terletak di bibir pantai, meninggalkan Lily yang kemudian ikut mengejarnya di belakang. "Xynerva, ada apa kenapa kau berlari seperti dikejar sesuatu?" tanya Lily. Xynerva tidak langsung menjawab, dia menatap batu karang bersisi yang tidak rata itu menelitinya dan tidak menemukan apa pun yang mencurigakan.
"Aku tadi melihat sesuatu di balik batu karang ini. Mengapa setelah aku lihat lebih dekat rupanya tidak ada apa-apa?" tanyanya dengan nada heran. Dahinya mengernyit. Tangannya diletakkan di pinggang. Air laut yang dingin bergoyang membasahi telapak kaki kedua gadis muda yang hanya dilapisi sandal jepit.
"Mungkin kau salah lihat, Xynerva. Apalagi ini sudah malam. Mungkin saja tadi itu ada seekor kepiting yang kebetulan sedang lewat atau mungkin seekor ikan kecil yang tersesat," sahut Lily. Dia melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 20.30 malam. "Xynerva, ayo ! Kita harus kembali ke kamar takutnya Ibu Merry memeriksa kamar kita, kalau dia tidak menemukan kita nanti akan marah. Besok pagi setelah makan pagi, kita akan kembali ke pantai untuk bermain," ajak Lily, menggenggam tangan kanan Xynerva.
"Baiklah, Ly. Kita kembali dulu," balas Xynerva menurut tanpa bantahan. Mereka meninggalkan pantai dan kembali ke kamar hotel.
***