Chapter 38 - Emosional

1127 Kata
Alpha Lory sedang berada di ruang kantor memeriksa berkas rancangan produk parfum terbaru bulan ini dan mencium satu per satu botol kaca berisi parfum rancangan. "Ini baunya terlalu menyengat, bisa bikin orang bersin-bersin daripada memakainya," ucap pria bertubuh atletis idaman para gadis sembari menutup tutup botol dan meletakkannya di atas meja kayu. Dia beralih mencium aroma botol yang lain. "Aroma menyegarkan laut, tumbuhan menjadi satu. Parfum yang ini lumayan." Setiap botol parfum yang telah dicium dibedakan menjadi tiga jenis tempat yaitu pertama parfum yang gagal produk, kedua parfum menengah, dan terakhir parfum yang luar biasa. Di sela-sela kesibukannya itu, tak lama terdengar suara bunyi handphonenya yang khas tanda notifikasi masuk. Dia meraih smartphonenya yang terletak di atas meja, ternyata ada beberapa chat dari aplikasi si hijau. Alpha Mallory melihat secara sekilas siapa yang mengirimnya pesan, terdapat satu nama pengirim yang membuatnya tak sabar untuk membuka isi chatnya. "Dari Nerva, apa yang mau dia katakan padaku?" Alpha Lory melihat ke arah jam bulat yang terpasang di salah satu dinding ruang kerja. "Ini masih jam sembilan pagi, bukankah harusnya Nerva sedang sekolah? Mengapa dia memiliki kesempatan untuk mengechatku? Apa mungkin gurunya tidak masuk?" tanyanya. Lebih baik kau segera buka chat-nya saja daripada menerka-nerka sendiri, mindlink Jayce. Serigala berbulu halus dan lembut serta berbadan besar itu ingin tahu isi pesannya. Baik Jayce. Kau harus sabar sedikit, aku baru saja ingin membacanya, sahut Apha Lory. Di depan sang mate tingkah Alpha Lory bisa seperti orang lain. Luna Nerva Mall, aku dan Lily besok akan berangkat ke pantai acara sekolah. Kami liburan satu minggu ke depan. Jangan khawatir. "Wajar saja Xynerva bisa menghubungiku," ujar Alpha Lory. "Apa? Xynerva mau liburan tanpa mengajakku?" beo Alpha Lory. Jayce yang mengambil alih tubuh sisi manusianya itu. "Aku harus ikut! Aku takut nanti kalah sama si Fahar itu." Sebagai mate yang ditetapkan oleh Moon Goddes, Jayce harus menjaga sang Luna dari pria-pria lain. Alpha Lory bersikeras mengambil alih tubuhnya kembali. "Kapan aku mengatakan kita pernah kalah dari siluman itu?" tanyanya. Beruntung di dalam ruangan luas, rapi, dan tertata itu tidak ada orang selain Alpha Mallory sendiri. Para bawahan yang bekerja di perusahaan Gold Qui hampir semuanya manusia. Lokasinya juga terletak di dunia manusia. Para manusia itu juga tidak tahu kalau pemimpin yang sangat mereka kagumi dan hormati itu ternyata werewolf atau manusia serigala. Lory Osmond Quirin Xynerva, apa Fahar ikut bersama kalian? "Chat dari siapa?" tanya Lily ketika mendengar bunyi smartphone Xynerva. Xynerva melihat sekilas Lily yang sedang sibuk memasukkan pakaian-pakaian ke dalam koper. "Biasa dari Mall. Aku memberi tahu dia kalau kita pergi jalan-jalan. Takutnya kalau tidak dikasih tahu, pria itu nanti nyari-nyari kita," jelas Xynerva. "Iya, tidak ada yang salah dengan itu. Lagipula Tuan Lory juga sudah sangat baik dengan kita," puji Lily tersenyum manis. Xynerva berjalan mendekati Lily. "Ly, jangan-jangan kau suka dengan Mall ya?" goda Xynerva. Lily mencubit hidung sahabat perempuannya itu gemas. "Tentu saja tidak Xynerva." "Kalau kau suka aku akan membantumu mendekat dengannya," ujar Xynerva dengan raut wajah polos seperti bayi. Dipastikan seratus persen Alpha Lory akan tak sadarkan diri secara mendadak jika mendengar perkataan belahan jiwanya yang secara tidak langsung ingin menyerahkannya pada Lily. Xynerva mengusap hidungnya yang sedikit memerah. "Xynerva, apa kau tidak menyadari jika Tuan Lory menyukaimu?" pancing Lily. Karena dia heran mengapa Xynerva dengan mudah berkata begitu terutama dia berkata tanpa beban sedikit pun. Xynerva mengambil manisan apel dari toples, lalu mengunyahnya pelan. "Aku tahu, tapi aku tidak menyukainya. Aku hanya menganggap Mall seperti teman saja, sama seperti aku menganggap John sebagai teman kita." "Lalu bagaimana dengan Fahar? Apa mungkin kau menyukainya? Atau jangan-jangan kau juga menganggapnya sebagai teman juga?" Tebak Lily tepat sasaran. Xynerva mengangguk pelan. Xynerva Zanitha Tentu saja tidak. Fahar 'kan harus merawat ayahnya yang sakit. Lagipula liburan ini hanya untuk kelas kami saja. Alpha Lory mengembuskan napas lega setelah membaca chat dari Xynerva. "Itu sangat bagus si siluman tidak ikut liburan," komentar Jayce dengan raut wajah senang. Lory Osmond Quirin Baiklah, Xynerva kau di sana harus hati-hati. Jangan mudah percaya dengan orang asing. Xynerva Zanitha Iya, aku mengerti. Tidak ada yang bisa menyakiti kami. Ada guru juga yang mengawasi. Alpha Lory tertawa geli karena kepercayaan diri sang gadis yang tergolong tingkat tinggi. Dia melanjutkan kembali pekerjaannya mencium aroma parfum. *** Barang-barang yang akan dibawa sudah disiapkan semua. Sebelum berangkat ke sekolah Zeline dan Khansa seperti biasa msmberikan nasihat terlebih dahulu yang berkaitan tentang keselamatan. Murid-murid kelas dua belas sudah berbaris dengan rapi di lapangan upacara sembari menenteng tas dan koper. Di depan tepatnya di atas podium kepala sekolah memberikan nasihat dan wejangan ketika liburan di pantai. Setelah pidato yang lumayan panjang itu sebagian besar anak-anak naik ke bus milik yang telah dipersiapkan oleh pihak sekolah sementara sisanya naik kendaraan masing-masing. Mereka duduk sesuai dengan teman sebangku. Xynerva memilih duduk di dekat jendela supaya bisa melihat pemandangan alam secara langsung. Ekpresi wajahnya cerah dan bersinar seperti matahari. "Lihat Ly ada sepasang kera yang bergelantungan di dahan pohon," ujar Xynerva seraya jari tangannya menunjuk ke arah yang dia maksud. "Oh, iya kau benar. Dua ekor kera itu ibarat kita berdua yang suka bermain," balas Lily, lalu tertawa. Xynerva tak kuasa menahan tawanya. Jalan yang ditempuh melewati hutan yang dilindungi oleh pemerintah. Hutan ini menyimpan berbagai hewan dan tumbuhan yang langka. Suasana di dalam bus dipenuhi oleh suara anak-anak yang saling bercanda dan mengobrol. "Xynerva, ayo kita ambil photo," ajak Lily, lalu mengambil smartphonenya mengambil beberapa photo mereka dalam beberapa pose. Udara sejuk menyegarkan pikiran. Xynerva menutup kelopak matanya, punggungnya bersender di kursi. Tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran. Sesekali mobil bus berguncang ketika melewati bebatuan. Aku selama ini belum pernah melihat wajah papa secara langsung. Apa papa tidak pernah ingin melihatku? Apa papa tidak pernah menyayangiku? batin Nerissa Xynerva Zanitha. Tiba-tiba rasa emosionalnya muncul. Xynerva membuka kelopak matanya, lalu melirik Lily yang tertidur. Sebenarnya lebih mending aku daripada Lily. Lily tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya dan neneknya. Aku harusnya bersyukur karena ada mama dan nenek yang selalu menyayangiku. Lily tidak pernah terlihat merasa sedih, pikir Xynerva. Gadis itu mengembuskan napas berusaha mengalihkan perasaannya. Perjalanan yang ditempuh masih sangat jauh, Xynerva memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. *** "Anak-anak ayo bangun! Kita sudah sampai." Ibu Ratna menggoyangkan bahu Lily dan Xynerva secara bergantian. Xynerva membuka kelopak matanya dan matanya menatap sayu khas bangun tidur. "Sudah sampai ya, Bu?" "Ayo turun, Nak. Makanan lezat sudah menunggu kalian. Ibu turun duluan ya," sahut Ibu Ratna. Wanita itu berjalan turun dari mobil bus. "Ly, kita sudah sampai di pantai. Kata Ibu Ratna sudah ada banyak makanan enak yang menunggu kita." Xynerva mengguncang bahu Lily. "Eh, sudah sampai? Aku kira perjalanan kita masih jauh." Lily mengusap-ngusap kelopak matanya pelan, menatap Xynerva.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN