Chapter 37 - Masa Muda

1125 Kata
Mulai hari ini Lily sudah masuk ke sekolah. Cahaya matahari menyinari daratan dan lautan tanpa lelah. Di Sekolah Menengah Akhir Bunga Indah tepatnya di salah satu kelas. "Aku sudah merindukan sekolah," ujar Lily melihat ke sekitar dengan pandangan rindu. Teman-teman sekelas sempat bertanya mengapa Lily sudah lama tidak masuk, Lily hanya bisa menjawab jika dia sedang sakit. "Ibu Citra sudah berjalan menuju kelas!" ucap Ratna sembari berjalan masuk ke kelas. Anak-anak yang semula ribut tentang urusannya masing-masing kini berjalan kembali ke tempat duduk masing-masing. Tidak lupa juga merapikan meja dan kursi yang berantakan. Karena Ibu Citra tidak suka meja, kursi, dan sampah-sampah yang berserakan di kelas. Beberapa bulan yang lalu kelas sempat berantakan, dan kebetulan Ibu Citra yang masuk alhasil sekelas dihukum baris di lapangan sampai jam pelajarannya berakhir. Hal itu cukup membuat mereka trauma. Seorang wanita yang masih kelihatan cantik walaupun umurnya sudah tua. Berjalan sembari membawa buku presensi dan buku cetak di tangannya. Seragam guru berwarna biru membalut tubuh wanita itu. "Selamat pagi anak-anak!" sapa Ibu Citra menatap satu per satu murid-muridnya. Senyuman di wajah wanita itu terbit ketika melihat pakaian anak-anak rapi dan bersih. Dia beralih menatap ke bawah lantai, meja, dan kursi. "Kerja yang bagus, anak-anak! Kalian hari ini membuat Ibu senang!" jawab Ibu Citra. Anak-anak sekelas bernapas lega dan ikut tersenyum. "Hari ini kita tidak belajar biologi. Kalian tahu kenapa?" pancing Ibu Citra yang mendapatkan gelengan semua murid. "Baiklah, jika kalian tidak tahu. Ibu akan memberi tahu kalian, selama satu minggu ke depan kita akan liburan ke pantai," ujar Ibu Citra tersenyum. "Liburan ke pantai, Bu? Wah, itu pasti akan menyenangkan," ucap salah seorang siswi yang disetujui siswi dan siswa yang lain. Semua anak-anak bersorak gembira dan senang. Jarang-jarang bisa liburan sekelas. "Iya, tentu saja di sana akan menyenangkan. Ibu tahu kalian pasti membutuhkan liburan untuk merefrsingkan otak setelah berkutat tentang mata pelajaran. Nah anak-anak selama liburan tersebut kalian manfaatkanlah dengan baik," pesan Ibu Citra. "Baik, Bu! Kami akan memanfaatkannya dengan baik!" jawab sekelas kompak. "Kalian bisa pulang sekarang untuk menyiapkan barang-barang yang akan kalian bawa besok. Kita akan berangkat ke sana dengan menggunakan mobil bis. Apa ada yang ingin ditanyakan?" tanya Ibu Citra. Mungkin saja ada murid yang belum mengerti dan belum paham dengan penjelasannya. Seorang siswa laki-laki menunjuk tangan. "Ibu, saya ingin bertanya kita akan liburan di pantai di mana?" tanyanya dengan nada sopan. Pertanyaan itu mewakili sebagian pertanyaan anak-anak lain. "Nama pantainya belum Ibu kasih tahu ya?" Anak-anak serempak menjawab iya. "Kita akan ke Pantai Kireina. Anak-anak kalian besok harus sudah ada di sekolah jam 07.00 pagi. Karena jam 08.00 kita akan segera berangkat. Ada lagi yang ingin ditanyakan?" Kali ini seorang siswi yang menunjuk tangan. "Bu, kalau ada yang tidak bisa naik bus apa boleh kami naik kendaraan masing-masing?" tanyanya. Ada beberapa siswi yang tidak bisa naik bus akan mual dan pening. "Boleh saja, tapi harus ke sekolah dulu untuk mencatat presensi. Kalau kalian hilang ini bisa menjadi masalah untuk sekolah. Kalian mengerti terutama yang nanti akan bawa kendaraan sendiri?" Membawa anak-anak jalan-jalan liburan tanggung jawabnya besar. Apalagi ini berhubungan dengan keselamatan anak-anak dan juga tanggung jawab terhadap orang tua siswa. "Baik, Bu. Kami mengerti!" Kemudian Ibu Citra meminta ketua kelas untuk mencatat siswa dan siswi yang nanti akan berangkat naik bus sekolah dan siswa dan siswi yang bawa kendaraan sendiri. Setelah presensi murid-murid pulang ke rumah masing-masing untuk menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan. *** "Kasihan sekali ya John. Dia tidak bisa ikut kita liburan ke pantai." Xynerva membuka obrolan pertama kali setelah sampai di rumah Xynerva. "Iya, nih, tapi kalau kita tidak ikut, tidak mungkin nanti Ibu Citra marah lagi," sahut gadis berambut pirang. "Iya tuh! Tahu sendiri 'kan sifat Ibu Citra bagaimana? Dia maunya yang perfect, dia tidak mau menerima alasan kecuali kalau benar-benar tidak bisa." Ada teman sekelas mereka yang izin tidak masuk sekolah karena ada urusan keluarga, saat masuk ditanya oleh Ibu Citra, apa siswi itu sudah menikah dan apa hubungannya dengan urusan keluarga dan lagipula tidak mungkin masalah keluarga jadi tanggungnya. "Sudahlah, kita siapkan saja dulu barang-barang yang kita bawa besok. Kita liburan selama enam hari, berarti pakaian yang kita bawa untuk siang hari enam pasang dan pakaian tidur enam setel." Xynerva mengajak Lily ke kamarnya untuk memilih barang-barang. "Kita perlu bawa baju renang tidak?" tanya Xynerva sembari mengambil pakaian renang wanita. "Sebaiknya tidak usah kita bawa pakaian seksi ini. Kita renang nanti pakai kaos dan celana saja." Tidak bisa dibayangkan mereka memakai pakaian renang yang seksi di depan anak-anak cowok. Ah, bisa-bisa anak-anak cowok itu menggoda mereka dan mata mereka tidak berkedip lagi. 'Kan tidak lucu? Mereka berdua saling berpandangan, lalu tertawa bersama. "Apa pikiran kita sama?" tanya Xynerva di sela-sela tawanya. "Iya, sepertinya sama. Aku bayangkan kita pakai baju bikini yang seksi, lalu ..." Xynerva kemudian tertawa lagi. Lily mengajak Xynerva untuk tos karena pemikiran yang sama. "Itu benar-benar tak bisa kubayangkan, Xynerva." "Anak-anak kalian sedang apa?" Zeline, wanita cantik yang statusnya sebagai mama kandung Xynerva bertanya sembari berjalan masuk. Wanita itu baru saja selesai masak untuk makan siang nanti. "Kami besok berangkat ke pantai Ma, kami liburan selama enam hari," sahut Xynerva menjelaskan. "Kalian liburan sekelas?" Xynerva dan Lily mengangguk secara bersamaan. "Kalian berdua harus saling menjaga. Jangan sampai kalian terpisah," pesan Zeline. "Iya, tante. Kami tidak akan berpisah. Di mana ada Xynerva di situ ada Lily," ucap Lily, lalu tertawa pelan. "Bagus jika kalian mengerti!" "Baiklah, Mama akan bantu kalian menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan. Kalian tahu Mama waktu sekolah dulu sering liburan bersama teman ke pantai." Zeline bercerita sembari tangannya mencari koper. "Mama bisa ceritakan bagaimana liburan nya itu?" Kenangan Zeline berputar pada ingatan belasan tahun yang lalu. "Di pantai kami memainkan banyak permainan yang seru seperti bola voli pantai. Tim yang kalah harus mentraktir tim yang menang. " Zeline mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mama dan teman-teman Mama selalu saja menang. Kami ditraktir minum es kelapa muda. Anak-anak kalian tahu rasanya segar dan enak. Apalagi habis bermain bola voli," sambungnya. Kedua gadis yang sama-sama cantik itu mendengarkan cerita Zeline dengan serius sesekali ikut tertawa. "Lumayan tante bisa minum es kelapa muda secara gratis," jawab Lily. "Bisa sedikit menghemat uang," tambah Xynerva. "Setelah tamat sekolah mama dan teman-teman mama jarang sekali bertemu. Ya, namanya juga sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri. Tentu saja punya kesibukan masing-masing." "Oleh karena itulah semasa sekolah kalian harus menikmati waktu liburan kalian dengan baik. Karena nanti ada saatnya kita akan benar-benar sibuk dan bisa juga melupakan untuk liburan," nasihat Zeline. "Terima kasih Tante atas nasihatnya." "Aku akan mengingat nasihat mama dengan baik," jawab Xynerva mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN