Aroma kayu tercium jelas di indra penciuman. Xynerva dibawa Alpha Mallory ke ruang produksi biola. Beberapa pegawai laki-laki dan perempuan terlihat sedang memilih-milih bahan kayu yang berkualitas dan cocok. Ada banyak tumpukan kayu di pinggir ruangan.
Melihat kedatangan sang pemimpin perusahaan membuat pegawai menghentikan sejenak kegiatan dan menyapa Alpha Lory dengan sopan dan hormat.
"Tuan, apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Rangga, salah satu pegawai yang mengawasi jalannya produksi.
"Saya tidak membutuhkan sesuatu. Kalian bisa kembali ke pekerjaan kalian masing-masing. Jika saya membutuhkan sesuatu saya akan memberitahu," ucap Lory Osmond dengan nada tegas dan berwibawa.
"Baiklah, Tuan. Saya kembali terlebih dahulu," jawab Rangga sopan.
Alpha Lory mengajak Xynerva ke ruang yang lain. Di ruangan yang tidak kalah luas, kayu-kayu berkualitas terbaik sedang diukir memakai alat. Tangan para pekerja terampil dan teliti membuat setiap goresan ukiran.
Tempat ini adalah tempat alat musik gesek itu dibuat, batin Xynerva menatap fokus salah satu biola yang sedang dikerjakan pekerja.
"Mall, boleh aku mencoba untuk mengukir salah satu biola yang ada?" tanya Xynerva, dia ingin sekali mengetahui bagaimana rasanya mengukir.
Pria tampan bertubuh atletis dan tinggi yang semampai memanggil pegawai wanita terdekat untuk mengajari Nerissa Xynerva mengukir kayu.
"Nona, pelan-pelan menggores di badan biolanya. Karena alat pengukirnya cukup tajam, jangan sampai terkena tangan," ujar pegawai wanita mengingatkan.
"Baiklah," jawab Xynerva. Dengan perlahan gadis itu mengukir biola yang masih polos belum diberi senar. Karena belum terbiasa membuat jari tangan tak sengaja tergores. Cairan merah sedikit menetes dan rasanya pedih.
"Nerva, 'kan sudah dikatakan tadi harus hati-hati karena alat pengukirnya tajam. Tuh 'kan jarinya jadi luka," ucap Alpha Mallory dengan raut wajah khawatir dan nada bicaranya serius.
"Aku terlalu bersemangat mengukir biolanya, Mall. Jadi, tidak sengaja tergores. Aku tidak apa-apa." Alpha Mallory membalut jari tangan kanannya dengan perban kecil. Dia masih saja peduli padaku walaupun aku telah menolak dirinya, pikir Xynerva.
Walaupun lukanya kecil rasanya juga sakit, batin Xynerva menahan rasa sakit.
Dalam hati pegawai melihat kekhawatiran di wajah sang pemimpin yang terkenal dingin merupakan hal yang langka dan jarang terlihat. Selama ini Lory tidak peduli pada seorang gadis. Melihat kepedulian itu cukup membuktikan jika gadis bergaun merah muda itu memiliki tempat di hati Tuan Lory.
"Lory, kita tetap melihat ke proses yang selanjutnya ya. Jangan sampai karena luka kecilku ini aku tidak jadi melihat proses yang lain," pinta Xynerva. Mumpung memiliki kesempatan untuk melihat secara langsung, sayang jika disia-siakan begitu saja.
Xynerva diajak Alpha Mallory melihat proses perbuatan alat musik gesek sampai selesai. Gadis itu begitu antuasias dan bersemangat melihat semua proses. Alpha Lory juga memberikan satu buah biola khusus untuk Xynerva bermain.
Di ruang kerja Lory
Xynerva mencoba memainkan biola. Sudah lama sekali dia ingin membeli biola, tapi belum ada uang yang cukup. Kini mendapatkan hadiah dari Lory, Xynerva bisa bermain alat musik biola.
Alpha Lory meneguk teh yang disuguhkan pelayan, lalu menatap sang gadis yang sibuk bermain dengan biola.
Luna Xy nerva senang sekali mendapatkan hadiah biola. Jika saja aku tahu dari awal aku pasti akan memberikannya, mindlink Jayce melalui pikiran.
Kita harus mencarikan seorang guru untuk Luna Nerva. Dia tampak kesusahan saat menarik kayu kecil itu, ucap Jayce kembali.
Suara yang dihasilkan dari permainan biola Xynerva terdengar buruk dan menyakitkan. Ya, maklum saja dia baru pertama kali memegang biola secara langsung. Selama ini dia hanya bisa bermain lewat handphone saja. Ternyata bermain biola secara nyata, tidak semudah di handphone, batin Xynerva melihat alat musik yang terbuat dari kayu berukiran indah di tangannya.
***
"Bagaimana indah bukan?" tanya Alpha Lory kepada gadis cantik yang duduk tepat berada di sampingnya sembari menunjukkan lukisan air terjun, pepohonan, dan sepasang angsa.
Nerissa Xynerva Zanitha menatap dengan serius lukisan tersebut, kemudian dia mengangguk. "Ya, kau benar lukisannya sangat indah. Air terjun, pepohonan, dan sepasang angsa tampak nyata," ujarnya jujur.
"Sepertinya bakatmu selain bermain alat musik gesek biola juga bisa melukis." Beberapa jam yang lalu Alpha Lory menjadi guru privat, mengajarkan alat musik biola pada Xynerva.
Alpha Lory menarik sudut bibirnya tersenyum. "Sebenarnya wajar saja jika pemilik perusahaan biola bisa bermain biola. Akan menjadi bahan tertawaan jika aku tidak bisa bermain biola. Apalagi hampir tiap hari melihat biola," ucapnya dengan nada tertawa di akhir kalimatnya.
Xynerva ikut tertawa, lalu menepuk pundak Alpha Lory. "Kau benar sekali! Tapi ada juga pemilik perusahaan alat bulu tangkis, tapi dia tidak bisa bermain bulu tangkis."
"Dia pasti dianggap bahan candaan," ujar Alpha Lory. Hanya berbicara bersama Luna Xynerva dan orang terdekat Lory bisa bicara panjang. Biasanya dia jarang berbicara dengan para bawahannya.
"Ya, orang itu dijadikan bahan candaan oleh keluarganya."
"Lukisan ini kau bisa gantung di kamarmu jika kau mau. Aku lihat di sana belum ada lukisan air terjun," saran Alpha Mallory.
"Ide yang bagus. Melihat pemandangan air terjun membuat mata menjadi segar kembali."
***
Di dalam ruang pribadi dokter Anna Kalista. Aroma tumbuhan tercium dengan jelas. Wanita itu sedang berkutat dengan buku-buku tebal dan tua.
"Aku sangat penasaran mengapa seorang gadis manusia yang kesembuhannya baru lima puluh persen bisa mendadak langsung sembuh," ujarnya memasang wajah berpikir.
Sudah beberapa hari dia mencari tahu, tapi belum juga menemukan petunjuk soal itu.
Di ruangan itu hanya ada Luna Xynerva yang menjaga. Apa Luna yang telah memberikan obat untuk Nona Lily?
Tapi itu tidak mungkin! Atau mungkin saja omega yang merawat? Anna Kalista terus saja menerka-nerka.
Aku masih tidak mengerti.
Anna Kalista baru berhenti memikirkan soal itu setelah partner kerjanya memanggil karena ada seorang ibu hamil yang mau melahirkan.
***
Di sebuah ruangan yang mewah dan elegan. Beberapa orang pelayan berdiri berjejer di sudut ruangan untuk melayani. Barang-barang berkualitas tinggi ditata dengan rapi.
"Saya merasakan keberadaan permata ungu walaupun kecil." Raja Iblis berkata sambil menatap bola kecil yang berada di tangannya yang bercahaya kecil.
"Kalian berdua cepat cari informasi! Di mana keberadaan permata ungu berhargaku!" perintah Raja Iblis pada dua tangan kanan dan tangan kirinya itu dengan nada tegas dan berwibawa. Aura keagungan dan juga aura gelap keluar dari tubuhnya.
"Baik, Raja. Kami akan melaksanakannya!" jawab dua orang pria berusia ratusan tahun itu secara bersamaan, lalu mundur beberapa langkah, kemudian berbalik keluar dari ruangan.
"Akhirnya setelah ribuan tahun aku menunggu. Aku bisa menemukanmu permata unguku." Pria berpakaian mewah dan elegan itu berjalan menghampiri sebuah ranjang yang terbuat dari emas. Tampak seorang wanita cantik yang terbaring kaku, hanya napasnya yang kecil yang menandakan jika sosok itu masih hidup.
Raja Iblis menggenggam tangan wanita yang dingin itu, lalu mengecupnya pelan. "Istriku, sebentar lagi kau akan kembali mendapatkan sinar kehidupanmu. Setelah itu kita akan bersama kembali." Raja Iblis tersenyum bahagia membayangkan hal-hal indah yang akan dilakukan bersama sang pujaan hati, wanita yang paling dicintainya.
"Kita akan mengunjungi semua tempat yang kau mau. Dan aku akan membelikan semua makanan kesukaanmu, istriku," ujarnya lalu mencium dahi wanita yang sudah tertidur ribuan tahun itu.