Lily mengangguk mengiakan. "Baiklah, dokter aku akan lebih banyak istirahat supaya cepat sembuh. Dokter terima kasih karena telah merawatku selama ini," ujarnya dengan suara yang pelan, tapi masih bisa didengar oleh Xynerva dan dokter Anna Kalista. Wanita yang berstatus sebagai dokter itu adalah seorang penyihir penyembuh.
"Sudah kewajiban saya untuk merawat Nona Lily dengan baik," jawab Anna Kalista tersenyum hangat. Dia ikut senang karena berhasil menyembuhkan pasiennya.
Wanita itu kemudian beralih memeriksa keadaan John dan memberinya obat. Lily memutuskan untuk beristirahat kembali karena tubuhnya masih lemah.
"Dokter Kalista, kalau keadaan John bagaimana apa dia akan sadar sebentar lagi seperti Lily?" tanya Xynerva berharap.
"Keadaan Tuan John tahap penyembuhannya masih empat puluh persen. Karena tulang-tulang bergeser dan membutuhkan banyak waktu untuk mengembalikannya seperti semula," jelas dokter Anna Kalista apa adanya.
"Baiklah, dokter saya mengerti. Apa ada obat-obatan yang harus aku cari untuk mempercepat penyembuhan John?" tanya Xynerva menatap wajah dokter Anna yang memiliki wajah yang manis, tidak bosan dipandang seperti gula aren.
Dokter Anna Kalista memasang wajah berpikir sejenak sebelum melanjutkan. "Ada, tapi Alpha Lory pasti tidak akan mengizinkan Luna untuk mengambil obat itu."
"Kenapa, Mall tidak mengizinkanku untuk mengambilnya?" tanya Xynerva kembali.
"Luna, Alpha Lory sangat takut anda terluka dan dia juga sangat mencintai anda. Obat yang akan diambil itu lokasinya sangat jauh di tengah hutan dan di sana banyak hewan-hewan buas yang berkeliaran jumlahnya sangat banyak terutama Luna hanya manusia biasa." Penjelasan dari dokter Anna membuat Xynerva merenungkannya.
Gadis berzodiak gemini itu mengembuskan napas kasar. "Iya, dokter Kalista benar. Hewan-hewan buas itu bukanlah tandinganku. Lalu obat untuk John bagaimana?" Sejak p*********n itu Xynerva tahu banyak makhluk yang kekuatannya lebih besar darinya. Yang Xynerva heran kan kenapa kaum manusia menganggap dirinya lebih tinggi dari kaum yang lain? Padahal kaum manusia sendiri termasuk makhluk yang lemah. Apalagi jika tanpa senjata yang canggih seperti pistol, peluru, senapan. Kekuatan manusia bukanlah apa-apa.
"Luna tidak perlu cemas soal itu. Saya akan meminta penyihir penyembuh yang lain untuk mengambil obat tersebut." Jangan kalian kira penyihir penyembuh tidak bisa bertarung. Penyihir penyembuh selain mempelajari cara mengobati orang, mereka juga mempelajari ilmu sihir yang lain.
"Kalau begitu terima kasih dokter Kalista."
"Sama-sama, Luna. Saya permisi terlebih dahulu karena ada pasien yang sudah menunggu di ruang rawat." Dokter Anna Kalista membungkuk, lalu berjalan keluar kamar perawatan.
Dua orang omega wanita berjalan masuk ke dalam. Di depan sang Luna, kedua omega wanita membungkuk hormat. Pakaian hitam dan putih membalut tubuh mereka berdua. "Luna bisa keluar untuk melakukan aktivitas. Kami berdua yang akan melayani Nona Lily dan Tuan John." Ditebak dari wajah umur kedua pelayan itu empat tahun lebih tua dari Luna Nerva. Iya, walaupun Luna lebih muda, tapi kedudukannya lebih tinggi. Jadi, orang dengan kedudukan yang lebih rendah harus membungkuk hormat.
"Baiklah, aku akan keluar. Kalian berdua harus menjaga kedua temanku dengan baik. Kalau tidak aku akan memberikan kalian berdua pelajaran!" tegas Xynerva menatap kedua pelayan wanita secara bergantian.
"Baik, Luna. Kami mengerti!" Kedua pelayan mengangguk secara bersamaan.
***
Xynerva kembali ke kamarnya yang terletak di lantai dua. Mengambil benda pipih canggih yang tergeletak di atas meja kecil, lalu menekan aplikasi berwarna hijau yang bernama whats apps. Terlihat ada beberapa pesan chat dari Zeline, mamanya.
Mama Sayang
"Xynerva, bagaimana keadaanmu sekarang di sana?"
Xynerva Zanitha
Keadaanku baik-baik saja, Ma. Bagaimana keadaan mama dan nenek di sini?
Mama Sayang
Mama senang mendengarnya, Nak. Orang-orang di rumah Mallory apakah memperlakukanmu dengan baik?
Keadaan mama dan nenek baik juga. Hanya saja kami berdua merindukanmu Xynerva.
Nerissa Xynerva Zanitha
Mall dan pelayan-pelayan yang ada di sini memperlakukanku dengan sangat baik. Mereka juga ramah. Ma, aku punya kabar baik.
Xynerva juga merindukan mama dan nenek.
Mama Sayang
Syukurlah mereka memperlakukanmu dengan baik.
Kabar baik apa, Nak? Kau membuat dan mama dan nenek jadi penasaran ?
Nerissa Xynerva Zanitha
Sebentar akan aku kasih tau. Lily sudah sadar Ma ?.
Mama Sayang
Syukurlah Lily sudah sadar. Lalu John temanmu yang satu lagi bagaimana? Apa dia sudah sembuh? Jika mereka berdua sudah sembuh, kau bisa kembali ke rumah lagi.
Nerissa Xynerva Zanitha
Sayangnya belum bisa, Ma. Soalnya kata dokter Kalista, John belum sembuh total. Dia masih membutuhkan perawatan karena sakit yang dideritanya lebih parah dari Lily.
Mama Sayang
Baiklah, mama dan nenek do'akan semoga John bisa sembuh. Oh, ya Mama lupa bagaimana kabar Fahar?
Nerissa Xynerva Zanitha
Keadaan Fahar baik, Ma. Hm, sudah dulu ya nanti aku chat lagi.
Mama Sayang
Iya, Nak. Mama juga sekarang harus melayani pelanggan yang datang.
Xynerva menutup aplikasi hijau dan memainkan salah satu game kesukaannya ketika Alpha Lory berjalan masuk dan menghampirinya.
Menyadari ada yang duduk di samping membuatnya menoleh dan menemukan seorang pria berpakaian seragam kantor yang rapi tengah menatapnya dengan senyuman. Aroma harum tercium dengan jelas.
"Sedang main game apa Nerva?" tanya Alpha Lory melihat di handphone Nerva yang masih berada di tangannya.
Apa dia masih marah atau tidak karena peristiwa kemaren? Namun sepertinya tidak lagi, batin Xynerva.
"Aku sedang main game musik biola," ujarnya, lalu kembali fokus bermain game.
"Kebetulan sekali, aku mau mengajakmu pergi melihat biola secara langsung," ajak Alpha Lory.
"Melihat biola secara langsung? Aku mau ikut," sahut Xynerva dengan nada antusias.
"Aku akan mengganti pakaian seragam sekolah terlebih dahulu dengan pakaian santai." Xynerva berjalan masuk ke dalam ruangan tertutup khusus tempat ganti pakaian dan semua pakaian.
Xynerva memilih pakaian yang enak dan nyaman dipakai.
Alpha Lory terpana ketika Xynerva berjalan keluar dari ruang ganti pakaian. Gaun merah muda lengan sesiku sebatas lutut, rambut hitam panjang yang dibentuk dan ditata dengan rapi dihiasi perhiasan sederhana yang sesuai dengan gaun yang dipakai. Sepatu flatshoes yang tampak cocok dan manis di kedua kakinya. Penampilan yang sederhana, namun cantik dan elegan. Ah, sayang sekali Fahar tidak bisa melihat kecantikan Xynerva karena siluman burung emas merah dua belas bulu itu harus kembali ke kediamannya untuk melihat ayahnya yang sakit.
Xynerva berjalan menghampiri Alpha Mallory yang tidak berkedip.
"Woy, Mall! Badanmu di sini, tapi pikiranmu sudah melayang ke mana-mana." Perkataan Xynerva membuat pria berusia dua ratus tiga tahun itu tersadar dari terpesonanya.
"Xynerva, kau kelihatan cantik," puji Alpha Lory tulus dari hati.
"Terima kasih atas pujiannya Mall. Ayo kita berangkat!" ajaknya bersemangat.
***
Semua karyawan mengalihkan pandangan ke arah sang pemimpin yang berjalan berdampingan dengan seorang gadis muda yang cantik.
"Selamat datang, Tuan!" Para karyawan kompak mengucapkan dan membungkuk hormat ketika Alpha Lory dan Xynerva berjalan melewati.
Banyak sekali karyawan yang berada di sini, batin Xynerva melihat ke sekelilingnya.
"Gadis cantik itu kekasih Tuan Mallory?" tanya seorang karyawan wanita dengan suara berbisik pada karyawan wanita yang lain.
"Sepertinya iya. Tuan selama ini tidak pernah terlihat bersama dengan seorang gadis," jawab karyawan wanita yang memiliki rambut pendek itu dengan suara berbisik pula.
Xynerva mengernyitkan dahi. Dia bisa mendengar perkataan beberapa karyawan yang membicarakannya itu. "Orang-orang itu sepertinya kurang kerjaan, ngomongin aku."