Chapter 34 - Lily

1117 Kata
Fahar dalam hati ingin bersorak gembira karena dia memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta Natasha. Gadis yang berhasil mencuri perhatiannya. Iya, betul sekali ketika dia tidak sengaja melihat Alpha Lory yang menjengkelkan itu membawa Natasha, Fahar mengikutinya secara sembunyi-sembunyi. Tentu saja Fahar ingin tahu apa yang mau dilakukan Alpha Mallory dan juga apa yang mau dikatakannya pada Natasha. Semula Fahar sudah merasa deg-degan takut Natasha menerima cinta Alpha Lory, terutama pemimpin pack Quirin itu mengatakan jika dia mate dari Natasha. Berbeda dengan siluman burung emas merah dua belas bulu tidak terikat yang namanya mate atau pasangan yang ditakdirkan. Siluman burung emas merah bisa sesuka hati memilih siapa pun yang dicintai. Fahar berjalan dan duduk di samping gadis berambut hitam yang tampak sedang menghirup aroma alam dan menikmati pemandangan. "Natasha, aku lihat kau tampak bosan. Bagaimana jika aku memenuhi janjiku untuk mengajakmu pergi bersenang-senang?" tawar Fahar berharap mendapat jawaban iya. Xynerva menoleh sekilas. Dia juga butuh waktu untuk merefresingkan otaknya yang mumet. Terutama setelah kejadian pernyataan cinta Alpha Lory yang ditolaknya. "Baiklah, bawa aku jalan-jalan." Fahar merubah wujudnya menjadi burung emas dua belas bulu. Dua sayap emas yang indah dan elegan terbentang di balik punggungnya. Lambang berwarna merah muncul di dahi pria tampan itu. "Kau bawa aku dengan terbang?" tanya Xynerva yang mendapat anggukan dari Fahar. Pria bermata hijau itu menggenggam tangan Natasha. Menoleh ke arah Natasha. "Kau siap untuk bersenang-senang?" "Iya, tentu saja Fahar." Kepakan sayap Fahar membawa Natasha terbang di langit. Angin sejuk menerpa wajah dan tubuh. Rambut ikut berkibar. Xynerva bisa melihat di daratan rumah-rumah dan pepohonan yang sebagian besar daunnya berguguran tampak begitu kecil. "Dari atas semua pemandangan begitu indah," ucap Xynerva dengan nada kagum mengalihkan pandangan ke sekelilingnya. Kawanan burung terbang melewati mereka. Dia melihat danau yang ditumbuhi bunga teratai yang sedang mekar. "Kau benar semua pemandangan yang ada indah dan bagus," sahut Fahar setuju. Setelah puas melihat pemandangan dari atas langit. Mereka memutuskan untuk turun dan beristirahat terlebih dahulu terlebih perut Xynerva sudah berbunyi nyaring minta diisi. Fahar memutuskan untuk singgah di sebuah pondok yang terbengkalai oleh pemiliknya. Kedua sayap Fahar disimpan kembali. "Pondok kecil ini sering aku jadikan sebagai tempat aku singgah untuk istirahat." Fahar mengajak gadis cantik bermata cokelat itu untuk berjalan masuk ke dalam bangunan. Halaman pondok dedaunan kering tampak berserakan. Burung-burung liar sedang mematuki buah matang yang jatuh di tanah. Ketika burung-burung liar itu melihat dua orang yang berjalan masuk, hewan-hewan itu seketika terbang. "Sepertinya pondok ini sudah lama tidak kau singgahi?" Xynerva melihat sarang laba-laba membangun tempat tinggalnya di beberapa sudut dinding. "Iya, aku sudah satu bulan tidak ke sini." Fahar mengambil lap bersih dari dalam membersihkan meja dan kursi yang berdebu. Saat membersihkannya Fahar beberapa kali bersin. "Di pondok ini memang tidak ada yang menghuni ya?" tanya Xynerva memakan manisan buah persik, mengunyahnya pelan. "Pondok ini sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Awalnya bangunan ini dihuni oleh sepasang orang tua keluarga Li, namun kedua orang tua itu memilih untuk tinggal bersama anak dan cucunya di kota lain. Dan memberikan pondok ini kepadaku," jelas Fahar melihat bangunan yang tampak sudah tua, tapi masih kokoh. Bahan bangunan yang membangun termasuk bahan yang berkualitas dan tahan. "Keluarga bermarga Li? Mereka orang China?" tanya Xynerva. "Iya, mereka orang China." "Oh, ya kenapa mereka memberikan pondok ini kepadamu, Fahar?" Xynerva penasaran mengapa kedua orang itu begitu baik hati memberikan pondok pada pria itu. "Waktu itu aku tidak sengaja menolong Nyonya Li dan Tuan Li dari perampok yang menyerang mereka. Oleh karena itulah mereka memberikan pondok ini," jelas Fahar. Kejadian itu terjadi dua tahun yang lalu. Lokasi bangunan ini terletak di kota yang penduduknya lumayan ramai. Wilayah ini termasuk bagian daerah kekuasaan pack Quirin tepatnya terletak di bagian selatan. "Nama kota ini apa?" tanya Xynerva. Tidak apa-apalah Xynerva ingin mengetahui soal itu, dan mungkin saja informasi itu akan berguna suatu saat nanti "Kota Pasrin. Dan Nyonya Li dan Tuan Li mereka werewolf atau manusia serigala," ujar Fahar sebelum Xynerva bertanya lagi. Xynerva tertawa pelan. "Sepertinya hanya kami bertiga yang manusia." Fahar tersenyum lembut. "Itu tidak masalah." *** Enam hari kemudian Xynerva melangkah ke ruang rawat setelah pulang dari sekolah. Lily dan John belum bangun dari tidurnya. Kasur perawatab Lily dan John berdekatan. Xynerva menyentuh tangan kanan gadis berambut pirang. "Lily, bagaimana keadaanmu sekarang? Aku harap kau bisa cepat sadar, dan kita bisa bermain bersama lagi." "Luna Xynerva, Nona Lily dan Tuan John pasti akan segera sadar. Saya akan mengambil beberapa obat. Luna bisa menunggu di sini," ucap dokter Anna Kalista, membungkuk hormat dan melangkah keluar ruangan. "Lily dan John. Beberapa hari ini ibu guru memberikan materi-materi yang baru dan materinya cukup sulit. Aku saja harus beberapa kali mengulang baru bisa mengerti," ucap Nerissa Xynerva Zanitha. Kedua matanya masih menampilkan kesedihan walaupun bibirnya menampilan senyuman. "Aku ingin kita bisa belajar sama-sama lagi." Tanpa disadarinya beberapa tetes air matanya menetes dan jatuh membasahi tangan Lily. Cairan bening itu meresap masuk ke dalam kulit gadis berambut pirang. Perlahan-lahan kelopak mata Lily terbuka, menampilkan netra matanya yang sayu. "Xynerva? Kau menangis?" tanyanya dengan suara pelan. "Lily, kau sudah sadar?" Xynerva bergegas menghapus air mata yang tersisa di pipinya dengan tangan. Membantu Lily untuk duduk bersender di dinding ranjang dengan ganjalan bantal. "Aku sudah berapa lama tidak sadar?" Lily menatap sahabat perempuannya itu. "Mungkin tujuh hari. Ah, sudahlah itu tidak penting Ly. Yang penting kau sudah sadar, aku sangat senang." Xynerva merasa senang karena salah satu sahabatnya sudah bangun dari tidur panjangnya. "John dan Fahar bagaimana keadaannya?" tanya Lily lagi. Tubuhnya terasa sedikit kaku dan badannya juga sakit. "John, dia ada di sampingmu. Kalau Fahar dia sudah sembuh. Aku akan panggilkan dokter Kalista untuk memeriksamu Li." Xynerva bergerak cepat melangkah keluar dari ruangan dan memanggil dokter Anna Kalista. Anna Kalista sedang berjalan menuju ke ruangan perawatan membawa senampan obat ketika Luna berjalan menghampirinya. "Dokter Kalista, Lily temanku sudah bangun dari tidurnya," ucap Luna Xynerva dengan raut wajah bahagia yang terpancar. Dokter Anna Kalista mengangguk, dia mempercepat langkahnya bersama Luna Xynerva. Dokter Anna meletakkan nampan berisi botol obat-obatan di atas meja kecil. Wanita itu mengambil peralatan kedokteran dari dalam tas hitam di dalam lemari, lalu bergerak memeriksa Nona Lily. "Dokter Anna, bagaimana keadaan Lily sekarang?" tanya Xynerva setelah dokter Anna berpakaian seragam merah muda itu selesai memeriksa keadaan Lily. "Nona Lily sudah sembuh Luna. Ini termasuk keajaiban. Sebelumnya saya memeriksa Nona Lily keadaannya belum pulih seratus persen." Penjelasan dokter Anna Kalista membuat Xynerva berpikir kenapa bisa begitu. Ah, sudahlah yang penting Lily sudah sembuh. Anggap saja ini berkah karena Lily adalah gadis yang baik, batin Xynerva. "Nona Lily ke depannya kau harus lebih banyak istirahat. Walaupun luka-luka yang ada sudah sembuh, tapi masih butuh istirahat."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN