Chapter 78 - Jangan Dipatuk!

216 Kata
"Aku tidak bisa menyembunyikannya dari kalian teman-teman. Aku memang sedang sedih saat ini." Pada akhirnya Fahar mengaku dengan jujur. Kawanan burung-burung kecil, kemudian terbang hinggap di tangan kanan dan kirinya. Cengkraman kakinya tidak kuat. Ukuran tubuhnya sebesar burung gereja. "Biar aku tebak, pasti masalah percintaan?" tebak burung berbulu putih bersih tepat sasaran. "Wih, masalah percintaan rupanya," sahut burung berbulu kuning bercampur hijau. "Tidak ada masalah yang lebih rumit dari masalah percintaan dengan seorang betina," balas burung berbulu merah cerah. Burung berbulu putih mematuk kepala burung berbulu merah cerah. "Bukan betina, tapi seorang wanita atau gadis!" tekannya. Burung merah cerah mengusap kepalanya menggunakan sayap kanannya. "Ya, ya, ya terserah kau saja! Kau selalu saja mematuk kepalaku. Rasanya itu sakit. Bagaimana jika nanti tidak ada seekor burung betina yang menyukaiku karena kepalaku benjol?" tanyanya dengan ekspresi wajah yang menyedihkan. "Ya itu sangat bagus. Kalau bisa aku patuk lagi, biar ukuran benjolnya tambah besar," ujar burung putih sarkas. "Kau! Kejam sekali padaku!" sungut burung merah sebal. Fahar yang sedih merasa sedikit terhibur karena tingkah lucu teman-teman burungnya. "Teman-teman, kalian sebenarnya sedang apa? Ingin membantu masalah Fahar atau hanya ingin bertengkar saja?" Burung berbulu hijau kuning mencoba melerai kedua temannya itu yang sibuk bertengkar. "Tentu saja membantu masalah Fahar!" jawab burung merah dan putih secara bersamaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN