Fahar mengambil sebuah gitar dari cincin penyimpanannya. Jari-jarinya memetik senar gitar. Setiap kali Fahar merasa sedih atau pun senang dia akan memainkan alat musik, sedangkan untuk lagunya sesuai dengan suasana hatinya. Sekarang suasana hatinya sedang buruk seperti cuaca yang mendung dan petir menyambar-nyambar, dia akan menyanyikan lagu yang sedih. Judulnya Asal kau bahagia yang dinyanyikan oleh Armada.
Yang, kemarin ku melihatmu
Kau bertemu dengannya
Ku rasa sekarang kau masih memikirkan tentang dia
Apa kurangnya aku di dalam hidupmu?
Hingga kau curangi aku
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong, kau masih menginginkannya
Ku rela kau dengannya asalkan kau bahagia
Yang, ku rasa sekarang kau masih memikirkan tentang dia
Apa kurangnya aku di dalam hidupmu?
Hingga kau curangi aku
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong, kau masih menginginkannya
Ku rela kau dengannya asalkan kau bahagia
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong, kau masih menginginkannya
Asalkan kau bahagia
Setiap lirik lagu yang dia nyanyikan mengandung kesedihan. Bahkan kawanan burung-burung kecil yang terbang melintas sampai singgah mendengarkan nyanyian Fahar.
"Apa kau sedang bersedih, Fahar?" tanya salah satu burung yang memiliki bulu kuning bercampur hijau di tubuhnya.
Fahar meletakkan gitar di pangkuannya, lalu menatap burung kecil yang bertanya. "Aku tidak sedih, Ardy," sahutnya, lalu berusaha membentuk senyuman yang hanya sebatas di bibir saja, sementara kedua matanya sendu.
"Kau tahu, dirimu tak bisa berbohong. Walau kau mengatakan tak ada masalah, tapi kedua mata hijaumu itu tak bisa menyembunyikannya," sahut burung kecil jantan yang lain. Bulunya berwarna lebih terang dari burung yang berdiri di sampingnya.
"Dia benar," jawab yang lain setuju.