Chapter 29 - Dream

1115 Kata
Mimpi Xynerva Gadis berambut hitam itu sedang berada di ruang yang sangat gelap tanpa ada cahaya. Dia berjalan-jalan mencari saklar lampu. Hampir saja dia tersandung bantal biru bersih yang berserakan di ruangan tersebut. Tidak lama kemudian, dia menemukannya sakelarnya. Lampu seketika menyala. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling yang kosong tidak ada. Setelah diperhatikan lebih teliti baru sadar, ini adalah kamar yang dinding catnya berwarna kuning cerah seluruhnya. Tidak ada yang special di kamar ini, hanya ada beberapa bantal bersarung merah maroon. Kasur berukuran kecil yang muat untuk satu orang. Kasur itu dilapisi seprei warna yang senada dengan bantal. "Ruangan ini aku tak tau kamar siapa?" ucap Xynerva pelan. Dia ingin pulang dari tempat ini. Xynerva mencari jalan untuk keluar, tetapi pintunya tidak bisa dibuka. Ada sebuah jendela cukup besar bercat berwarna kuning emas. Jendela itu terbuka dengan lebar dan cocok pula tidak ada teralinya. Jadi, Xynerva bisa keluar dari ruangan dengan melewati jendela itu. Dia mendekat ke arah jendela itu, kemudian melihat ke arah bawah. Tidak terlalu tinggi hanya setengah meter saja. Nerissa Xynerva Zanitha melompatinya dengan mulus. Tentu saja tanpa kendala, Xynerva bahkan pernah memanjat tembok. Dia memandang ke sekitar, tanah cokelat berlapiskan rumput hijau. Gadis itu menilik ada sebuah air terjun, yang airnya mengalir dari atas menuju ke bawah dengan derasnya. Beberapa pohon berdaun hijau lebat turut menghiasi alam. Membuat netra mata terasa sejuk saat memandangnya. Xynerva bisa merasakan udara segar dan sejuk yang hinggap di indra pernapasannya. Tanpa disadari, dia melangkah mendekati air terjun itu. Terdengar dengan jelas bunyi riak air terjun yang jatuh dari atas ke atas. Tubuhnya rasanya ringan sekali saat berjalan seperti kapas. Oh, tunggu. Xynerva merasakan ada yang berbeda. Memberhentikan langkah. "Sejak kapan aku menggunakan gaun selutut berwarna biru diatasnya dan putih bagian bawahnya dengan hiasan bulan sabit dan juga flat shoes berwarna biru muda dengan hiasan bulan sabit putih yang cocok dengan gaun yang kupakai?" ucapnya bingung mengangkat sedikit gaunnya yang indah. "Oh, ya sudahlah itu tak usah dipikirkan. Lebih baik aku dengan tujuan awalku berjalan ke sini untuk melihat air terjun itu." Dia mengangkat bahu acuh. Nerissa Xynerva terus melangkah berjalan di atas batu-batu besar yang tersusun rapi dengan hati-hati. Hingga dia tepat berada di bawah genangan air terjun itu. Dia melihat pantulan dirinya sendiri di atas air yang berwarna biru serupa dengan warna langit di atas. Ada yang berbeda, rambutnya berwarna coklat kemerahan di ujungnya. "Apa yang di atas kepalaku?" ucap Xynerva pelan. Gadis itu menyentuh benda yang berada tepat diatas kepala menurunkannya-- mahkota putih keperakkan dengan tanda bulan sabit berwarna biru langit di bagian tengah, samping kiri dan kanannya. Ini begitu indah. Lupakan ini. Di kedua telinganya juga telah terpasang anting-anting yang senada dengan mahkota. "Sekarang aku ada di mana?" Xynerva memilih duduk di salah satu batu besar di bawah genangan air terjun itu, lalu mencelupkan sebagian kaki ke dalamnya. Air sejuk itu membuatnya merasa sangat damai. Xynerva memainkan air dengan jemari-jemari lentik, mencelupkan tangan, dan mengusap wajah dengan air terjun. Sangat sejuk. Setelah puas bermain dengan air, dia berdiri dan berjalan mendekati bunga yang terletak di sebelah kursi perak bagian kanan. Xynerva memutari bunga itu. Gadis berusia tujuh belas tahun itu menyentuh kelopak bunga kupu-kupu itu. Bunga itu memiliki sepasang mata kecil dan juga antena kecil. Dia menyentuh mata kecil itu, sedetik kemudian mata kecil itu dan bergerak menyentuh sepasang antena di atas kepala kecilnya. Mata kecil itu terbuka secara perlahan. Matanya berwarna hijau daun seperti hutan. Xynerva tersentak kaget ketika bunga kupu-kupu itu terlepas dari tangkainya. Dia terbang dan hinggap di telapak tangan kanan Xynerva. Hewan itu mengepak-ngepak sayap kilau warna-warni dan terbang mengelilinginya seperti planet mengitari matahari dalam lintasan orbit. Mata hijau daunnya menatap tepat di manik matanya seolah ingin menembusnya, kemudian mata kecilnya menatap dari ujung rambut hingga ujung telapak kaki. Xynerva merasakan kupu-kupu itu tersenyum menatapnya. Aneh mengapa dia dapat merasakannya? Dia mendekat ke arah Nerissa tepat di depan, tetapi tidak terlalu dekat. "Hai." Sapaan seseorang mengagetkan Xynerva. Gadis itu mengernyitkan dahi, kebingungan. Kedua netra bergerak menyapu pandangan ke sekeliling berniat mencari orang yang telah mengajaknya berbicara. Seakan dia tahu apa yang sedang Xynerva cari. "Hei siapa yang kau cari?" tanya seseorang lagim "Kamu di mana? Aku tidak melihat wujudmu?" tanya Xynerva jujur. Tampaknya dia menyerah karena tidak menemukan orang lain selain dirinya sendiri. Kekehan kecil terdengar jelas di indra pendengarannya. "Oh, ayolah di mana kau? Bisakah jangan mempermainkanku?" tanya Xynerva dengan nada memohon. Xynerva mengambil posisi duduk di kursi perak, sembari merapikan gaun yang sedikit berantakan dan juga basah. Kini makhluk kecil bersayap itu hinggap di pegangan kursi. "Di sini," jawab seseorang lagi. "Apa kamu kupu-kupu?" tanya Xynerissa dengan nada penuh keraguan. "Iya, aku kupu-kupu," jawabnya. Rasa penasaran Xynerva terjawab juga. "Bisa kamu ubah wujudmu menjadi manusia saja? Rasanya kurang nyaman saat berbicara dengan hewan," pinta Xynerva. "Aku tidak dapat mengubah wujudku menjadi manusia," jawab makhluk kecil itu terdengar tidak bersemangat. "Tapi ada cara yang lain, kau bisa menyentuh kedua sayapku sambil mengucapkan mantra azaika butterflay sanmora," sambung si kupu-kupu kecil. "Mengucapkan mantra? Apa itu akan berhasil? Dan juga aku ini manusia, bukan penyihir yang bisa baca mantra," jawab Xynerva. Setahunya manusia tidak bisa memakai mantra. "Dari mana kau mendengar jika manusia tidak bisa membaca mantra? Tentu saja hal itu tidak ada. Biar aku beri tahu ya manusia jika mau dan ingin bekerja keras, bisa belajar mantra," jelas kupu-kupu yang membuka ilmu pengetahuan Xynerva. "Baiklah, jika kau telah mengatakan hal itu. Kita akan mencobanya terlebih dahulu." Xynerva mengangkat tangan kanannya, mengusap kedua sayap milik si kupu-kupu sembari mengucapkan mantra. Tiba-tiba kupu-kupu itu berubah menjadi sosok perempuan berparas cantik, rambutnya pirang sepunggung. Sepasamg matanya berwarna hijau daun, dan bulu matanya lentik. Kulit tubuhnya seputih awan. Dia memakai gaun berlengan sesiku berwarna ungu muda dengan flat shoes yang senada dengan gaunnya. Xynerva beberapa saat terpaku, dia mengerjap. "Aku berhasil mengucapkan mantranya dengan benar!" ujarnya terdengar senang. Gadis berambut pirang itu mengambil posisi duduk tepat di samping Xynerva. "Betul apa yang aku katakan 'kan?" tanyanya yang dibalas anggukan setuju Xynerva. "Perkenalkan namaku Adelia Yunnie," ucapnya sembari menyodorkan tangan. Gadis berkulit putih itu tersenyum membalas senyuman Xynerva. "Namaku Nerissa Xynerva," sahutnya menyambut uluran tangan Adelia. "Namamu indah. Nerissa artinya putri laut," puji Adelia. "Terima kasih atas pujiannya. Aku penasaran dari mana kamu berasal? Karena aku baru pertama kali ini melihat manusia kupu-kupu?" tanya Xynerva langsung. "Aku akan menceritakan tentang suatu cerita. Namun, bukan sekarang. Kau harus sabar menunggu," ujar Yunnie dengan nada tenang. Xynerva mengangguk mengerti. "Baiklah, kau bisa cerita padaku nanti. Aku akan menunggumu " Gadis berambut itu mengangkat tangan kanannya ke atas membentuk pusaran. Pusaran berwarna biru laut itu menarik Xynerva ke dalamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN