Keysa mengangguk mengiakan. "Betul, tante. Aku juga berada di sana. Kami saat itu bertarung dengan orang-orang berjubah. Kami telah berusaha dengan semaksimal mungkin untuk melindungi diri, tapi ... kami tetap saja gagal," ujar Luna Keysa dengan nada lirih di akhir kalimatnya.
"Wanita-wanita berjubah itu terlalu kuat untuk kami para gadis untuk menghadapinya. Terlebih kami selama ini selalu berada di lindungan mate. Mereka juga dengan sengaja memisahkan kami dengan dengan mate kami," sambung Keysa dengan nada kesal di akhir kalimatnya.
Tatapan Luna Keysa teralih pada Alpha Lory yang menatapnya datar. "Untung saja ada Alpha Lory yang datang tepat waktu. Jika terlambat sedikit saja ... aku tak tahu bagaimana nasibku dengan Luna Xynerva," ujarnya menggeleng pelan.
Zeline mengusap bahu Luna Keysa lembut. Wanita itu tahu bagaimana kejadiannya walaupun tidak melihatnya secara langsung. "Kejadian buruk sudah berlalu. Jangan memikirkannya lagi." Wanita itu memberi jeda sebelum melanjutkan kalimat berikutnya. "Apa kejadian itu di pack red moon?" tanyanya menebak dan tepat sasaran.
Luna Keysa mengangguk mengiakan. "Iya betul tante. Kejadian itu terjadi di pack red moon," jawabnya.
Gadis itu terluka di beberapa bagian tubuhnya dan bahkan lebih parah dari Luna Xynerva. Tapi karena dia bangsa manusia serigala. Jadi, lebih kuat dari bangsa manusia.
***
Setelah satu hari berlalu. Cahaya matahari sudah memancarkan sinarnya untuk menerangi dunia. Xynerva perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Dia berusaha untuk bangkit, tapi tidak bisa. Tubuhnya terasa sakit dan perih. Gadis berambut hitam sepinggang itu meraba ke arah pusat rasa sakitnya dan menemukan perban yang melilit perutnya itu. Aroma obat-obatan tercium di indra penciumannya. Dia masih ingat kejadian sebelum dia jatuh pingsan.