Acara penyambutan Luna Xynerva secara sederhana telah selesai. Kini semua pelayan sudah kembali ke pekerjaan masing-masing. Xynerva cukup terkesan dengan acara tersebut. Berbeda dengan Fahar yang biasa saja. Kamar Xynerva di kamar yang lama, sedangkan Fahar di kamar yang lain.
Di kamar Xynerva
Xynerva sedang berkutat mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan Ibu Fitri, pelajaran fisika. Wajah gadis itu tampak serius saat menuliskan jawaban dari pertanyaan soal nomor satu dan dua.
Dia beralih pada soal yang lain, Xynerva berekpresi muram, keningnya ditekuk dalam. "Ini kenapa jawabannya tidak ada, ya?" ucapnya sembari melihat kembali hasil jawaban dari pertanyaan nomor empat. Mengambil segelas air dingin kemudian meneguknya perlahan.
"Ah, aku tidak tahu harus bagaimana? Ini sudah tiga kali aku cek, tapi tetap saja hasilnya tidak ketemu!" ujarnya dengan nada putus asa. Dia memijat kepalanya yang sedikit sakit dan menyenderkan punggungnya pada kursi.
Alpha Lory melangkah masuk setelah Xynerva memberi izin. Pria itu berjalan menghampiri matenya yang tampak sedang kesusahan.
Ada apa dengan Luna Xynerva? Sepertinya dia punya masalah? mindlink Jayce dalam hati. Saat ini Jayce yang mengambil alih tubuh Alpha Mallory.
Tanyakan pada Luna Nerva saja, jawab Alpha Mallory.
"Ada apa Xynerva? Kenapa wajahmu tampak kusut begitu?" tanya Jayce dengan nada lembut dan hangat.
Xynerva menoleh dan menemukan seorang pria berpakaian kaos merah dan celana panjang duduk tepat di sampingnya sedang menatapnya.
"Itu aku sudah beberapa kali mengecek apa ada yang salah dengan hasil hitunganku. Ternyata tidak ada yang salah, tapi ... setelah aku lihat di jawaban yang ada di buku cetak a, b, c, dan d nya tidak ada yang cocok." Xynerva menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan kalimat selanjutnya. "Aku jadi bingung dan tidak mengerti. Dan tugas ini harus dikumpul besok, sedangkan aku belum menyelesaikannya," adu Xynerva pada Alpha Jayce seperti sedang mengadu pada ayahnya.
"Baiklah, aku mengerti bagaimana kesusahanmu. Sini, biar aku lihat terlebih dahulu soal dan jawaban yang telah kau kerjakan." Alpha Jayce menatap deretan soal di buku cetak dan jawaban di buku latihan yang disodorkan Luna Xynerva dengan teliti.
"Mall, memangnya kau bisa mengerti soal dari fisika ini?" tanya Xynerva penasarab karena dari yang dia lihat wajah pria itu tampak serius saat memeriksa hasil pekerjaannya itu.
Alpha Jayce menarik sudut bibirnya tersenyum. Senyumannya sangat menawan seperti bunga. "Kenapa? Apa aku terlihat tidak bisa mengerjakannya?" Jayce bertanya balik.
Xynerva menggeleng. "Tidak bukan begitu Mall. Aku melihat ekpresi wajahmu itu yang tampak begitu serius."
Jayce mengambil pensil yang tergeletak di atas meja dan selembar kertas polos. "Xynerva, dari soalnya tidak ada yang salah. Dan hasil hitunganmu juga tidak salah."
Xynerva menarik kursinya lebih dekat ke arah Alpha Jayce. Dia menatap fokus tulisan yang sedang ditulis pria bermata abu-abu itu. "Kalau soal dan jawabanku tidak salah, lalu mengapa jawabannya di soal tidak ada?" tanyanya.
"Xynerva sekarang akan aku tunjukkan di mana letak kesalahanmu. Kau harus melihatnya dengan baik. Kau melupakan salah satu rumus yang ada. Seharusnya ini sebelum dibagi harus dikalikan dulu dengan yang ini," jelas Alpha Jayce sembari menuliskan kembali jawaban soal dan mengajari sang gadis dengan pelan-pelan.
"Oh, iya ya. Kau benar Mall. Aku benar-benar lupa dan tidak sadar kalau ada rumus yang tidak sengaja ketinggalan di jalan," jawab Xynerva, lalu tertawa menatap hasil jawaban tersebut.
"Nah sekarang kita lihat, apa jawaban yang sudah kita temukan ada atau tidak." Jayce melihat kembali soal di buku cetak fisika.
"Jawabannya ada yaitu A." Jayce melingkari jawaban A memakai pena.
"Cara mengerjakannya terasa lebih mudah Mall. Bagaimana sekalian jika membantuku mengerjakan soal yang lain sekaligus mengajariku?" pinta Xynerva. Iya, mengerjakan tugas rumah memang akan lebih enak dan mudah jika ada yang bisa menjadi tempat kita bertanya jika ada soal yang tidak dimengerti.
"Tentu saja aku tidak akan menolak. Aku merasa senang bisa membantumu Xynerva." Jayce tersenyum lembut sembari mengusap puncak kepala sang gadis dengan penuh rasa kasih sayang.
"Kalau begitu aku hanya bisa mengucapkan terima kasih yang banyak, Mall," sahut Xynerva tersenyum tulus.
Aku senang bisa dekat dengan Luna Xynerva. Mengajarinya mengerjakan soal-soal fisika, ucap Jayce dalam hati.
Jayce, sudah cukup lama kau mengambil alih tubuhku. Aku juga mau bersama Luna Nerva, sahut Alpha Mallory yang kini ada di sudut ruang khusus di pikiran.
Mana ada? Aku saja baru mengambil alih tubuhmu beberapa jam yang lalu dan kau sudah berani bilang lama? Apakah kau tidak ingat selama ini aku membiarkanmu bersama Luna Xynerva? Dan saat ini adalah giliranku bersamanya, protes Jayce.
Kau! Baiklah, aku akan membiarkan beberapa jam lagi, sahut Apha Lory sebal. Dia 'kan juga mau mengajari Luna Nerva.
Jayce mengajari sang gadis dengan pelan-pelan dan sepenuh hati sampai Xynerva mengerti. Tidak terasa dalam waktu satu jam semua soal yang berjumlah dua puluh soal itu semuanya telah selesai dikerjakan.
"Wow! Hebat sekali! Aku tidak pernah mengerjakan soal secepat ini! Apalagi dalam waktu cuma satu jam. Biasanya aku mengerjakannya paling tidak lima jam. Semua ini berkatmu Mall."
Jayce merapikan beberapa buku cetak dan buku latihan beserta alat-alat tulis ke dalam lemari belajar yang terletak di sudut ruangan kamar yang luas.
"Bagusnya setelah mengerjakan soal hitungan dan belajar. Kita ke taman belakang menikmati pemandangan," ajak Alpha Jayce yang disetujui Xynerva.
***
Hari ini adalah hari pertama memasuki musim gugur di Kota Osrin. Pepohonan menghiasi taman belakang istana pack Quirin. Daun-daun berwarna cokelat, kuning, dan merah jatuh berguguran dan mengering di atas tanah. Angin semilir berembus menerbangkan rambut panjang hitam terurai Xynerva.
Xynerva mengambil posisi duduk pada salah satu kursi yang ada. Begitu juga dengan Alpha Jayce yang duduk di sampingnya.
"Daun-daun yang berguguran merupakan salah satu hal yang indah di dunia. Ditambah seorang gadis cantik," ucap Jayce memuji gadis yang tengah menikmati pemandangan yang sangat indah.
"Sepertinya tempat kita tinggal berbeda ya? Soalnya di kotaku saat ini masih musim semi dan di sini sudah musim gugur." Gadis itu berkata tanpa mengalihkan pandangan dari pepohonan dan tumpukan daun-daun yang berguguran.
"Kau benar sekali, nama tempat tinggal kita berbeda. Di sini adalah Kota Osrin, bagian dari negara Asrin. Sebuah negara yang bersebelahan dengan Kota Arisia, dunia manusia." Jayce mengambil beberapa daun yang berjatuhan.
Osrin? Bukankah nama kota itu termasuk salah satu kota yang dihuni oleh makhluk immortal? Itu artinya Mall merupakan salah satu dari makhluk immortal yang ada, batin Xynerva. Dia ingat pernah membaca salah satu buku mengenai dunia makhluk lain ketika di perpustakaan daerah.
"Kau adalah salah satu makhluk immortal?" tanyanya langsung tanpa basa-basi, berbalik dan mendongak menatap pria yang lebih tinggi darinya.
Apa ini saat yang tepat untuk mengatakan semua kebenaran itu? batin Jayce sedang menimbang-nimbang. Dia menatap dalam diam gadis cantik yang menatapnya lekat itu.
Tapi bagaimana jika dia tidak menerimaku dan malah pergi menolakku? pikirnya.
Bukannya tambah dekat, takutnya dia malah menjauh dari kami? batin Jayce bimbang.
Aduh, kenapa aku bisa keceplosan soal nama tempat ini? Sekarang harus bagaimana? tanya Jayce sedikit menyesal pada Alpha Lory.