Xynerva membuka kelopak matanya secara perlahan. Dia masih berada di ruang dapur, pada posisi yang sama. Dua orang pria yang sama-sama tampan itu masih menunggu dengan setia.
Apa yang telah terjadi pada diriku? batin Xynerva terheran-heran.
Apa yang baru saja terjadi pada diriku itu, hanya mimpi? pikirnya dalam hati.
Namun semua tampak nyata. Anggap saja itu hanya mimpi saja, aku tidak perlu memikirkannya, batinnya.
Xynerva memilih udang sebagai makanan pertama yang dimakannya. Fahar memasang wajah senang sekaligus mengejek Alpha Mallory. Alpha Lory memasang wajah datar andalannya.
Luna Xynerva, mengapa dia tidak memakan makananku sebagai pembuka? mindlink Jayce wajahnya murung. Kedua mata abu-abunya yang biasa cerah kini redup.
Apa Luna Xynerva tidak menyukai kita? ujar Jayce lagi karena tidak ada respon Alpha Mallory.
Sebenarnya Alpha Mallory juga merasa sedih, tapi dia berusaha untuk menyembunyikannya.
Jayce, aku rasa Luna Nerva hanya menghargai pria itu sebagai temannya, mindlink Alpha Mallory.
Setelah menyelesaikan makan malam Xynerva kembali ke kamarnya, sedangkan Alpha Mallory diminta Zeline untuk menginap saja karena hari sudah malam, tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan pulang.
***
"Dokter Kalista, apa Lily dan John harus dibawa ke rumahnya Mall?" tanya Xynerva pada Kalista setelah wanita itu memeriksa keadaan Lily dan John.
Dokter Kalista mengangguk sebagai jawaban. "Ya, Luna. Nona Lily dan Tuan John harus dibawa ke istana Alpha. Karena di sana bahan-bahan obat dan alat lebih lengkap. Selain itu, keadaan dua teman Luna akan lebih terkontrol," jelasnya.
Ini bagaimana? Aku tidak mungkin membiarkan Lily dan John dirawat di sana, sedangkan kami dan Mall belum lama kenal dan pria itu juga bukan siapa-siapa, batin Xynerva dalam diam.
Dokter Anna Kalista kembali bicara saat Xynerva tidak menjawab. "Apa Luna merasa keberatan dengan itu?" tanyanya.
"Begini dokter Kalista, di rumahnya Mall. Mereka tidak mengenal siapa pun. Dan juga aku takut nanti orang-orang di rumah Mall ke keberatan karena harus merawat mereka berdua," jawab Xynerva jujur.
Alpha Lory yang berjalan menghampiri kedua wanita berbeda usia itu mendengar percakapan Anna dan belahan jiwanya. Dia tersenyum dan terlintas ide yang bagus.
"Sayang, kalau begitu ikut saja ke rumahku. Kau bisa merawat kedua temanmu dan juga tidak khawatir dengan keadaan mereka berdua."
Perkataan Alpha Mallory sedang dipertimbangkan oleh Xynerva. Keheningan beberapa saat menguasai hingga Xynerva berbicara. "Baiklah, aku setuju," jawabnya.
Fahar membawa setoples kerupuk udang dan meletakkannya di atas meja, penasaran. "Setuju tentang apa?" tanyanya menatap Natasha.
"Setuju kalau aku juga ke rumahnya Mall," ucapan Xynerva membuat Fahar menggeleng tidak setuju.
"Kenapa harus tinggal di rumah dia?" tanyanya tidak mengerti. Tangannya menunjuk Alpha Mallory yang berdiri.
Tidak sopan! Apa dia tidak tahu kita ini siapa? ucap Jayce sedikit arogan.
Biarkanlah, kita tidak mungkin menampilkan sisi yang bikin Luna tidak suka pada kita, jawab Alpha Mallory.
Setelah mendengar perkataan Lory, sisi humannya itu membuat Jayce mau tidak mau harus setuju dan menunda.
Baiklah, ini demi image di depan Luna Xynerva, sahut Jayce walaupun hatinya masih dongkol.
"Siluman burung, Nerva ke rumahku demi dua temannya. Ya, kenapa kau yang repot?" Alpha Mallory menatap Fahar dengan datar dan dingin.
Fahar akui aura yang dikeluarkan Alpha Mallory cukup sedikit membuat nyalinya ciut, tapi Fahar membuatnya seolah tidak apa-apa. "Jika Natasha ikut ke rumahmu, aku juga harus ikut."
Siluman itu mengapa mau ikut ke manapun Luna tinggal? jengkel Jayce.
"Kenapa kau juga mau ikut? Bukankah kau ada rumah?" Alpha Mallory bertanya dengan nada tidak setuju.
"Oh, tidak bisa! Aku harus ikut dengan Natasha, untuk menjaganya," sahut Fahar tidak kalah.
Kata Fahar benar juga, bagaimana pun juga aku juga baru kenal dengan Mall, batin Xynerva melihat dua orang pria secara bergantian.
"Mall, tidak apa-apa 'kan aku juga ingin mengajak Fahar untuk nginap di rumahmu?" tanya Xynerva menatap mata dengan matanya yang indah membuat yang melihatnya tidak bisa mengalihkan pandangan.
Alpha Lory terlihat mengembuskan napas kasar mendengar permintaan mate yang sangat dicintainya itu. "Baiklah, aku memperbolehkan dia untuk ikut ke rumah." Itu dilakukan Alpha Mallory dengan terpaksa.
***
"Maafkan kami pemimpin! Kami hampir saja berhasil jika saja para warrior pack Quirin tidak datang." Ketua Altar sudah beberapa kali gagal membuat sang pemimpin merasa kesal dan marah.
"Lagi-lagi kau gagal melaksanakan perintah yang saya berikan? Sepertinya nyawamu sudah tidak berguna lagi untuk dipertahankan," jawab sang pemimpin dengan nada datar dan dingin, lalu meneguk araknya pelan.
"Hamba mohon Tuan tolong ampuni saya!" pintanya bersujud memohon ampun.
"Baiklah, kau bisa berdiri kembali!" perintah sang pemimpin.
"Terima ka-" Belum sempat ketua altar mengucapkan terima kasih, sang pemimpin sudah menghujamkan pedang tajam tepat di jantung ketua altar. Tidak menunggu waktu lama ketua altar mengembuskan napas terakhir. Jatuh roboh ke bawah. Darah kehitaman keluar dari mulutnya.
"Untuk apa memelihara anjing yang tidak berguna! Lebih baik lenyapkan saja," ucapnya kembali duduk kembali di atas singgasananya dengan berwibawa.
Tanpa diperintah, para bawahannya bergerak membereskan kekacauan yang terjadi.
"Sepertinya aku harus bergerak secara perlahan. Tidak bisa bergerak secara cepat," ujar sang pemimpin beberapa saat kemudian.
Pria itu menoleh sekilas pada seorang kasim yang berdiri di sampingnya. "Bagaimana menurutmu Jordy?"
Jordy mengangguk setuju. "Hamba setuju dengan rencana Yang Mulia. Lebih baik melaksanakan dengan perlahan." Pakaian hitam dan merah tua membalut tubuhnya. Jubah merah sebagai lapisan terluar.
***
Siapkan penyambutan kedatangan Luna Nerva! perintah Alpha Mallory pada Alex, Beta Kedua yang sedang berada di pack Quirin. Tugas menjaga perbatasan dilaksanakan secara bergantian.
Baik, Alpha akan segera dilaksanakan, jawab Alex tanpa bantahan.
Alex segera meminta para omega dan gamma untuk menghias istana pack Quirin dengan sebaik mungkin.
Saat ini Xynerva, Alpha Mallory, Fahar dan Darren berada di dalam perjalanan ke istana pack Quirin. Dengan Darren yang menyetir mobil. Alpha Lory dan Fahar sebelumnya berebutan untuk duduk di samping Xynerva. Hingga Xynerva memilih untuk duduk di kursi bagian depan, di samping Beta Pertama, sedangkan Lily dan John berada di kursi bagian belakang dengan dua orang pelayan yang memegangi.
Jalanan seperti biasa ramai oleh lalu lalang kendaraan. Ada beberapa gerobak dan stan makanan yang jualan di pinggir jalan. Satu dua orang sedang berjalan kaki di trotoar.
Sebelumnya aku melarikan diri dari rumah Mall karena mengira dia pria yang jahat, batin Xynerva melihat wajah Mall dari cermin.
Kini aku kembali, tinggal di rumahnya lagi demi Lily dan John, pikir Xynerva.
Waktu Lily bayi dibuang. Lily tidak ada keluarga, sebelumnya dia tinggal di panti asuhan. Hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari panti asuhan dan berusaha untuk hidup mandiri.
Sedangkan John, kedua orang tuanya bercerai dan meninggalkan John yang saat itu masih berusia empat belas tahun di rumah sederhana dengan satu orang pelayan. Waktu itu John masih duduk di bangku kelas sembilan sekolah menengah pertama. Xynerva, Lily, dan John berteman sejak di bangku sekolah dasar(SD) kelas satu.
Bayangkan sudah berapa lama mereka berteman? Ibarat kata bibit pohon kecil yang ditanam di tanah pun sudah tumbuh menjadi pohon yang tinggi, besar, dan berdaun lebat serta bisa menjadi tempat perlindungan.