Mobil memasuki pintu gerbang perumahan elite summerland. Berdiri dua orang satpam dengan seragam khasnya yaitu biru tua dan putih serta topi biru tua dengan tulisan satpam. Di depan ada plang bertulisan perumahan elite summerland dan ada taman kecil yang ditumbuhi bunga-bunga dan rerumputan yang dipangkas dengan rapi.
John membuka kaca mobil.
"Mana kartu kalian?" tanya salah satu satpam mendekati mobil.
"Kartu apa ya, Pak?" tanya John dengan raut wajah tak mengerti.
"Kalian bukan penduduk sini?" tanya satpam satunya yang juga ikut mendekat.
"Bukan pak," sahut Lily yang duduk di samping John.
"Oh, baiklah! Ini kartu Identitas jika kalian memiliki akses masuk ke dalam perumahan elite summerland." Pak satpam yang tampak lebih muda memberikan sebuah kartu berwarna kuning cerah pada John.
"Dan juga kartu ini tidak boleh hilang. Jika hilang kalian harus menggantinya lima puluh ribu," lanjut pak satpam yang lebih tua yang dijawab anggukan John.
Mobil pun melaju dan kaca mobil tetap dibiarkan terbuka.
Xynerva memandang kagum bangunan perumahan serupa yang berderet dengan rapi. Semua perumahan tampak mewah, indah dan desain bentuk perumahannya juga sangat bagus. Banyak pepohonan yang tumbuh di sekitar perumahan. Membuat udara segar dan menenangkan.
"Perumahan ini sangat mewah pasti para pemiliknya orang kaya," ujar Xynerva.
"Itu sudah pasti, keluarga di sini pasti bahagia lingkungannya aja bagus," sahut Lily.
"Lihat di sana ada taman bermain ada ayunan, kuda-kudaan, perosotan dan banyak permainan yang lain juga. Wih benar-benar perumahan idaman. Kapan kita punya rumah yang lengkap seperti ini ya?" tanya Lily sambil berkhayal.
John terkekeh mendengar celoteh kedua teman perempuannya itu. "Kita pasti akan memiliki perumahan seperti ini. Xynerva, 'kan matemu kaya raya pinta dia bangun taman bermain," ujar John.
"Nanti akan aku coba katakan padanya," ucap Xynerva. Dia teringat Alpha Lory yang saat ini tengah berada di luar. Dia mengingat kenangan manis saat bersama Alpha Lory. Ah, dia jadi merindukan pria itu, pikirnya.
Semoga Mall baik-baik saja, ucap Xynerva dalam hati.
Terlihat ada beberapa anak kecil yang sedang bermain di depan rumahnya dengan wajah senang ditemani ibu mereka.
"Nomor berapa rumahnya?" tanya John menoleh ke arah Lily.
"Kalau tidak salah no. 45," ujar Lily mengingat-ngingat.
Mobil berhenti tepat di depan rumah nomor 45. John mematikan mesin mobil dan meminta kedua temannya turun.
Xynerva berjalan ke halaman depan rumah yang tampak asri dan hijau. Tidak ada satupun sampah berserakan di lantai.
"Aneh, kenapa rumahnya sepi?" ucap Lily melihat ke arah rumah. Lily berjalan mendekati jendela yang hordengnya tertutup.
John berjalan, lalu mengetuk pintu di hadapannya. "Permisi pak!" Berulang kali dipanggil namun tak ada sahutan dari dalam.
"Sepertinya tidak ada orang di dalam. Apa mungkin Pak Samuel masih berada di tempat kerja?" duga John.
"Mungkin saja, tapi aku tak tahu juga soal itu," sahut Xynerva.
Mereka menunggu sampai sore, tapi Pak Samuel tak pulang juga. Cahaya berwarna oranye khas sore dan para burung pun sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Ini sudah sore. Pak Samuel belum pulang juga. Kita datang besok lagi," ujar John yang sudah lelah menunggu.
"Iya aku juga capek," sahut Xynerva setuju. Tubuhnya sudah lelah dan perutnya juga sudah lapar.
"Pr dari sekolah juga belum kita kerjakan. Mana besok mau dikumpul lagi," keluh Lily.
Karena itu mereka memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. Untung saja John sudah mempersiapkan makanan instan seperti mie dalam gelas.
"Kita berhenti dulu sebentar di sana. Supaya bisa buat mienya dulu, " instruksi Lily.
"Baiklah," sahut John setuju. Dia juga lapar sebenarnya.
Di depan ruko kosong mobil berhenti. John mematikan mesin mobil, lalu mengambil tiga mie gelas di dalam penyimpanan makanan, kemudian memberikan pada dua temannya dan satu untuknya sendiri.
"Air panasnya ada di bagian belakang. Aku ambil dulu," ujar John, lalu turun dari mobil membuka pintu belakang mengambil termos yang berisi air panas.
John menatap ke langit yang sudah berwarna hampir gelap. Tandanya malam akan segera tiba.
"Ini airnya," ujarnya menyodorkan termos air panas pada Lily.
Secara bergantian menuangkan air panas, menunggu waktu sebentar mienya sudah jadi.
Sambil menikmati mie yang enak dan nikmat mereka menikmati pemandangan matahari tenggelam yang begitu indah.
"Xynerva, kau mau pulang ke rumahmu?" tanya John.
"Sepertinya iya. Kalian tahu sendiri mereka bagaimana?" ucap Xynerva.
"Mereka selalu khawatir," ucap Lily mengerti.
John mengantar Xynerva sampai pulang ke rumahnya baru setelah itu mengantar Lily pulang.
***
Rombongan Alpha Lory dan para warrior beserta naga merah yang merubah wujudnya lebih kecil hinggap di bahu Alpha Lory sudah sampai di air terjun naga berkat naga merah yang memberi tahu jalan yang lebih cepat. Mereka berjalan di jalan setapak.
Suara air terjun yang mengalir terdengar dengan jelas. Kicauan burung bernyanyi ceria.
"Tuan ini adalah air terjun naga. Sesuai dengan namanya air terjun ini dihuni dan dilindungi oleh naga putih," jelas naga merah.
Naga putih yang sedang beristirahat dengan tenang dan nyaman terbangun karena mendengar suara langkah kaki yang sangat banyak.
Ada banyak orang yang datang ke sini, ucap naga putih membuka kedua bola matanya yang jernih berwarna biru.
Naga putih keluar dari tempat tempatnya diiringi dengan raungannya, hingga akhirnya hinggap di atas tanah.