Kado Terakhir Istriku
Part15
Terdengar suara gaduh dari dalam, membuatku semakin panik. Akhirnya aku memutuskan untuk mendobrak pintu kamar Ibu Mumun.
"Alia .... benar-benar keterlaluan kamu!" bentakku.
Alia membalikkan badannya, ia menyunggingkan senyum, seraya menggendong kucing milik Mamah.
"Al, kenapa kucing Mamah kamu bawa kesini?" tanyaku, berusaha tenang.
Alia mengelus-elus bulu kucing milik Mamah, namanya Brodi. Kucing lucu, berbulu tebal berwarna abu-abu.
"Kamu mau nyusul Puse nggak?" ucapnya, sambil menatap tajam Brodi, ia bahkan mengabaikan kepanikanku sedari tadi.
Ia mengelus leher Brodi dengan sebilah pisau, yang sedari tadi ia mainkan.
"Alia, kamu jangan gila, bisa ngamuk nanti Mamah."
Alia tersenyum kepadaku, matanya tajam, pandangannya seolah kosong.
"Kamu tau, itu yang aku suka! Melihat kalian menangis dan berduka. Ah, menyenangkan!" imbuhnya.
Aku tak habis pikir, Alia benar-benar tidak waras. Aku menatap datar wajah Ibu Mumun, yang ternyata tidak tidur. Matanya basah, namun ia tidak berdaya.
Ya Tuhan, Alia benar-benar sukses menyiksa Ibunya sendiri.
"Apa sebenarnya tujuan hidup kamu Al? Kamu senang membuat orang lain menderita, coba kalau kamu yang di buat menderita! Apa kamu juga senang."
Alia menatap tajam kepadaku, mimik wajahnya memancarkan aura kebencian.
"b*****h ...." Alia membanting kasar tubuh kucing gendut dan bulat Brodi ke lantai.
Kucing malang itu memekik, dengan bringas dan tatapan tajam, Alia menginjak tubuh malang kucing lucu milik Mamahku itu.
Aku pun langsung emosi, mendorong kasar tubuh Alia, hingga ia terpental dan menabrak dinding. Tubuh Alia jatuh ke lantai dan pingsan, sedangkan si kucing malang terkulai lemas tak berdaya.
Apa yang harus aku katakan pada Mamah, jika Brodi sampai mati, gara-gara perempuan gila ini.
Aku benar-benar merasa tertekan dengan perilaku Alia. Kubopong tubuhnya, kubawa Alia ke dalam gudang.
Aku yang kepalang sakit hati dan juga dendam, kubiarkan ia bermalam dengan tikus dan gelapnya malam.
Aku kembali ke kamar Ibu, kuraih tubuh yang kini sudah mati, Brodi mati. Aku menangis, melihat kucing malang ini juga menjadi korban, seperti Puse.
Aku mengubur kucing Brodi di belakang rumah, tidak kupedulikan meski masih tengah malam. Seusai mengubur, aku kembali masuk gudang.
Kunyalakan lampu gudang yang remang-remang, Alia menatap tajam ke arahku.
Sepertinya ia sudah sadar dari pingsannya.
"Wanita kejam, pantas saja hidupmu di liputi nasib buruk! Sama seperti hatimu, hanya ada keburukan."
Alia tertawa gelak. "Apakah hatimu bagus? Pengkhianat, lelaki pemuja selangkangan."
Aku tersenyum sinis. "Wanita model kamu ini, akan puas hati, jika lawannya merasa ketakutan. Sebab kamu sudah menunjukkan dirimu sebenarnya, maka aku tidak perlu segan lagi, untuk menunjukan kegilaanku."
"Apa maksud kamu?" bentaknya.
Aku menarik kasar tubuh Alia, yang tangan dan kakinya masih terikat.
Kuraih pisau milik Alia, yang kubawa dari kamar Ibu tadi.
Kusobek seluruh pakaian yang Alia kenakan.
"Kamu jangan gila ya, Mas. Aku tidak akan mengampunimu."
Aku tersenyum sinis, kemudian tetap menjalankan aksi gilaku.
Setelah pakaian Alia semua hancur dan kutarik dari tempatnya, Alia meringkuk.
"Kamu dengan kejam, melenyapkan Alenaku, memfitnah Amiraku, dan berbahagia di atas luka kami semua."
"Kalian pantas menerimanya!" teriak Alia, kemudian ia lemparkan ludah ke wajahku.
Aku menyeka kasar kotoran itu di wajahku. Lalu kucengkram kasar leher Alia.
"Wanita kesepian, cantik pun percuma! Seharusnya kamu tidak melakukan perbuatan kejam itu. Seseorang yang berbuat kejam kepadamu, kenapa kamu malah mengikuti kekejam itu? Bukankah kamu tau, sakitnya seperti apa."
"Aku tidak perduli."
"Aku perduli, kamu berhak bahagia. Berhentilah dari semua ini, kamu masih muda! Jangan hancurkan masa depan kamu, hanya untuk balas dendam."
Aku menghela napas, kemudian menarik kasar tanganku yang sedari tadi mencengkram lehernya.
"Kamu lihat Mamah, ia begitu bahagia, hanya dengan melihat kamu, dan sangat menyayangi kamu. Tapi apa? Balasan kamu begitu kejam menyakitinya."
Alia terdiam, air matanya meluruh, aku yang semula berniat jahat. Berbalik malah kasihan, aku pun akhirnya meninggalkan Alia di gudang.
Biarlah ia merenung dulu, dia pantas untuk di hukum.
Aku masuk ke dalam kamar, kuhempas kasar tubuh dan pikiran yang amat lelah.
Kupandangi jam dinding, sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Pikiranku kini melayang pada Alia, apa sebenarnya yang wanita itu alami selama ini, hingga ia begitu tega dan kejam.
Aku mengambil selimut dalam lemari, dan membawanya ke gudang.
Kulihat Alia menangis sesegukan, kudekati Alia, melilitkan selimut ke tubuhnya. Ia memandangku sendu, aku pun lekas memeluknya.
"Maafkan, Mas. Alia, tolong hentikan semua ini, lupakan semua kemarahan dan juga dendam. Aku hanya ingin, melihat kamu bahagia."
Alia tetap tidak menyahut, namun ia masih tetap menangis.
Aku mulai melepaskan semua ikatan, dan menggendong tubuh Alia menuju kamar mandi.
"Kamu bersihkan tubuh dulu, kamu kotor."
Aku menurunkan Alia, ia masih datar, kemudian masuk ke dalam kamar mandi tanpa suara.
Aku berjalan cepat menuju kamar Ibu, yang tidak jauh dari kamar mandi.
Kuambil handuk dari dalam lemari, kemudian mengetuk pelan pintu kamar mandi.
Alia mendongakkan wajahnya di balik pintu.
"Nih, handuk! Mandinya jangan terlalu lama, nanti kamu masuk angin. Selesai mandi, kamu langsung tidur! Jangan kesana kemari nggak jelas lagi. Oke!"
Alia meraih handuk, ia merespon titahku dengan mengangguk, kemudian menutup pintu kamar mandi.
Aku bergegas kembali masuk ke dalam kamar, namun mata masih sulit terpejam.
Kutatap kembali laptop, memutar cctv online, yang mengarah kamar mandi.
Terlihat Alia keluar, namun hal itu membuatku makin tercengang.
Alia keluar dari kamar mandi dengan menari-nari, seraya melenggang lenggokkan kepalanya.
Aku bergidik ngeri, melihat tingkah Alia, yang semakin diluar nalar.
Kupikir aku bisa menyentuh hatinya, hati yang mungkin begitu banyak menanggung luka.
Namun melihat Alia yang kembali bertingkah aneh, membuatku mengurungkan niat.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Alia.
______
Seperti biasa, Bibi akan datang ke rumah setiap pagi, untuk membuat sarapan.
"Pak, Nyonya menangis histeris pagi ini tadi, gara-gara kucing Brodi mati, bangkainya ada di teras depan rumah! Banyak tusukan pisau di tubuhnya."
"Astagfirullah, Bibi serius?" tanyaku, seraya beranjak dari duduk.
"Serius, Pak."
Kemudian aku berjalan cepat, menuju kehalaman belakang rumah.
Aku tercengang, melihat kuburan Brodi yang terbongkar.
Semua pasti ulah Alia, aku mengacak kasar rambut.
Kubalikkan badan, Alia berdiri diambang pintu dapur, seraya tersenyum puas menatapku.
Aku pun hanya menatap frustasi kepadanya, seraya menahan diri, melewatinya dengan kesal. Kutahan deru napas yang berpacu kuat dengan emosi.
Aku bahkan urung untuk sarapan, berjalan ke rumah Mamah, untuk melihat keadaannya.
Terlihat Papah yang mencangkul tanah, dengan bungkusan kain di sampingnya.
Sedangkan Mamah, ia menangis di ambang pintu, melihat bungkusan kain, yang kemungkinan itu bangkai kucing Brodi.
Aku mendekat ke arah Papah. "Pah, ada apa?" tanyaku, seraya menatap Mamah, yang masih terlihat menangis.
"Kucing kesayangan Mamah mati, nggak masuk akal matinya. Barusan Papah liat ke cctv, gelap. Sepertinya ada yang mematikan lampu, sebelum bangkai Brodi di lempar ke depan pintu."
Alia begitu licin, dan sangat memahami cara untuk menyelamatkan dirinya.
"Raka, sepertinya ada yang mulai meneror keluarga kita, tolong kamu panggilkan Mamang."
Aku mengangguk, kemudian memanggil Mamang, untuk menuju rumah Papah.
Rumahku dan Papah memang bersebelahan, serta pagar rumah yang jadi satu.
Mamang duduk di kursi, yang ada di teras. Bersama Papah dan aku. Sedangkan Mamah masuk ke dalam menenangkan diri.
"Mang, malam tadi kenapa kamu tidur?" tanya Papah.
Di pos satpam, memang di sediakan cctv, yang tersambung langsung, ke tivi di rumah Papah.
"Maaf, Tuan. Saya sering ketiduran akhir-akhir ini, saya juga bingung."
"Besok saya akan mencarikan teman, untuk bergantian jadwal kerja sama Mamang."
"Alhamdulilah, terimakasih, Tuan."
"Tapi, Mamang, saya tidak mau melihat Mamang tidur di jam kerja lagi. Keluarga kita mulai di teror seseorang."
"Astagfirullah, maafkan saya Tuan, saya yang lalai."
Aku terkejut, ketika melihat Alia dari kejauhan, yang menatap serius ke arah kami bertiga.