Kado Terakhir Istriku
Part16
"Mang, silahkan balik ke Pos," titahku.
"Baik, Pak!" sahutnya.
"Sebentar, Pak, Tuan. Bukan maksud saya menebar gosip atau membual. Hanya saja, kemarin saya melihat non Alia menari di depan rumah, tepat tengah malam."
Mamang menunduk.
"Saya sebenarnya ngeri melihat semua itu, apalagi wajah non Alia, begitu mirip non Alena."
"Mamang yakin itu Alia?" tanya Papah.
"Yakin, Tuan."
"Raka juga baru lihat, malam tadi. Pah, tolong jaga Mamah, Alia sangat mencurigakan."
Aku hanya berkata seperti itu, aku berkata dengan hati-hati, takut Papah malah tidak percaya denganku seperti Mamah.
"Papah akan minta orang, menyelidiki siapa Alia sebenarnya."
"Berhati-hatilah, Pah. Jangan sampai Mamah menjadi sasarannya."
"Apa maksud kamu? Raka."
"Alia, dia psikopat. Dari gerak-geriknya, Raka yakin, Alia mengalami gangguan kejiwaan semacam itu.
Papah nampak terkejut, begitu pula dengan satpam.
Wajah mereka tiba-tiba nampak menegang, dan langsung berucap istighfar berulang kali.
Ketika melihat Alia menatap tajam, kearah kami bertiga, pandangan mata penuh ancaman.
Aku berpura-pura tidak melihat Alia.
"Tuan, beberapa hari ini juga saya melihat, seperti ada seseorang yang terus mengawasi rumah ini." Kembali satpam bercerita.
"Baik, secepatnya saya akan mencari orang, yang akan menemani kamu, bekerja."
"Terimakasih, Tuan, Pak. Saya kembali bekerja dulu."
"Silahkan." Aku berkata bersamaan dengan Papah.
___________
Aku menghampiri Alia, yang merenung duduk di tepi kolam ikan, samping taman kecil rumahku.
"Apakah kamu puas, melakukan semua ini?" tanyaku, tanpa menolehnya sama sekali.
"Ha ha ha ..., aku senang melihat binatang yang lucu dan menggemaskan bagi kalian itu mati."
"Begitulah seorang yang sakit jiwa, senang berbahagia di atas penderitaan orang lain."
"Apakah Ibuku termasuk orang yang sakit jiwa?" Alia bertanya dengan mimik wajah datar. Kali ini ia menatap lekat wajahku.
"Kamu yang sakit jiwa!" jawabku. Tanpa mau melibatkan bu Mumun di perdebatan kami.
Alia tertawa sumbang. "Jika menurutmu, orang yang berbahagia di atas derita orang lain itu sakit jiwa, berarti kamu dan ibuku, termasuk kategori itu."
"Itu lain ceritanya."
"Bulshit .... hentikan omong kosongmu! Ingat Raka, aku bisa saja melenyapkan orang lemah seperti Ibu dan Mamahmu."
Mendadak kepala ini tiba-tiba memanas, mendengar ancaman Alia.
Kutatap tajam wajah wanita yang kini menatap datar ke arahku.
"Kupastikan, akan mengubur kamu hidup-hidup, jika itu sampai terjadi."
"Coba nanti kita buktikan, apa kamu bisa melakukannya. Kurasa, aku jauh lebih pintar dari kamu."
Alia kembali tersenyum, kemudian ia beranjak pergi, meninggalkanku yang terdiam mematung.
_________
Bibi menyiapkan makan malam, sedangkan Alia masih di kamar Ibunya.
"Bi, apakah ada yang mencurigakan lagi dari Alia?" tanyaku.
"Nggak ada Pak, non Alia hari ini nggak ada di rumah."
"Kemana dia?" tanyaku lagi.
"Kurang tau, Pak. Non Alia setiap di tanya, nggak pernah jawab."
Aku pun hanya menanggapinya dengan anggukan.
"Raka .... Raka ....."
Terdengar suara Mamah berteriak-teriak memanggil namaku.
"Di meja makan, Mah."
Mamah pun muncul di muara dapur.
"Ada apa?" tanyaku.
Mamah berjalan cepat dan Plakkk .... sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Terlihat Alia yang tidak jauh berdiri dari belakang Mamah tersenyum puas melihatku kesakitan.
"Keterlaluan kamu, Raka. Kamu sukses mempermalukan keluarga ini, mencoreng nama baik kami, mau di taruh kemana ini muka!" teriak Mamah, di sertai isak tangisnya yang terdengar penuh emosi.
"Ada apa? Mah. Kenapa tiba-tiba menampar Raka?" kataku hati-hati, melihat Mamah menangis seraya menghentak-hentakkan tangannya di meja. Bibi pun terlihat kebingungan.
Mamah kemudian mengeluarkan handphone miliknya, dan memperlihatkan kepadaku, adegan panas. Yang ternyata aku dan Amira, pemeran dalam video yang berdurasi beberapa detik itu.
"Astagfirullah ...."
Mamah menatapku seketika. "Untuk apa kamu nyebut sekarang, sedangkan saat kamu berbuat seperti itu, kamu menikmatinya."
Mamah kembali berteriak, dengan ekspresi wajah yang siap menerkamku hidup-hidup.
"Kamu tau, video itu di bagikan di pesan w******p berantai, hingga ke group sosialita Mamah. Teman-teman Mamah membully kamu dan mengatakan Mamah dan Papah gagal mendidik kamu, membesarkan seorang pengkhianat dan tukang zina."
Aku hanya menunduk, aku pantas mendapatkan perlakuan seperti ini.
Namun, lagi-lagi kulihat Alia tersenyum puas, ia sepertinya datang kerumah ini bukan hanya untuk melihat Ibunya menderita.
Tetapi, membuat seluruh keluarga ini juga menderita. Licik, dan jahat.
Aku bersimpuh di lutut Mamah, aku memohon ampun dan maaf atas segala kekhilafanku.
"Khilaf katamu? Kalau istrimu tidak mati, tidak mungkin kamu bisa mengatakan khilaf. Mungkin sampai detik ini pun, kamu akan terus menikmati perselingkuhanmu."
Aku hanya bisa menahan segala sesak di hati.
"Aku ini seorang perempuan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Alena, jika ia tahu, suami yang begitu ia cintai ternyata hanyalah lelaki murahan."
Lagi-lagi kata-kata Mamah, sukses menggerogoti hatiku.
"Kalau sudah begini, bukan cuma kamu yang menanggung malu, tapi semua Raka, semua."
Mamah terlihat begitu kecewa dan sakit hati kepadaku, lagi-lagi Mamah harus sering menangis.
Bagaimana aku bisa melindungi kalian, sedangkan orang yang menyakiti Mamah, adalah orang yang begitu ia sayang.
Mamah beranjak pergi, dengan menendang keras kursi meja makanku hingga hancur. Aku bergidik ngeri, melihat emosi Mamah.
Terlihat Alia langsung menyambut Mamah, ia kemudia memeluk Mamah dan mengarahkan wajahnya ke arahku. Ia kemudian kembali tersenyum lagi.
'b******k! Wanita itu selalu bergerak lebih cepat, seakan tiada henti. Alia seolah tidak menyukai kedamaian rumah ini.
Informan kembali mengirimkan pesan kepadaku.
"Bos, ada kabar terbaru. Anak Romina kabur dari penjara."
"Kamu yakin? Yang kabur itu anak Romina?" tanyaku memastikan.
"Yakin, Bos."
Aku menghela napas berat, sepertinya aku harus lebih berhati- hati lagi, segala kemungkinan bisa saja terjadi, jika aku lengah.
"Terimakasih, informasinya."
Niat makan malamku menjadi urung, aku meninggalkan meja makan, tanpa menyentuh makanannya sama sekali.
Kurebahkan diri di atas kasur, kucoba pejamkan mata, menghilangkan sejenak penatnya pikiran.
___
Entah kenapa, kakiku terasa berat berpijak di gedung tinggi menjulang ini. Kantor tempat aku bekerja, kini seakan menakutkan bagiku.
Jika sebelumnya para karyawan akan bersikap segan, kali ini lain ceritanya.
Semenjak tersebarnya video asusila milikku itu, dan kabar kematian Alena yang mencuat ke media. Aku menjadi bahan bully dan kecaman para emak-emak pecinta ikan terbang.
"Gayanya alim, padahal b***t, bentar lagi juga di ciduk."
"Kejam, istrinya sampe mati di kantor, dia nya nggak tau apa-apa."
"Laki-laki bodoh memang begitu."
Setiap aku lewat, selalu saja ada bisik-bisik yang membuatku sakit hati.
Rasanya mentalku benar-benar merasa tertekan, akhirnya kuputuskan untuk mengundurkan diri.
Polisi pun membawaku, untuk di mintai keterangan, mengenai video asusila itu.
Aku dan Amira mengatakan hal yang sama, bahwa video itu di rekaman oleh orang lain.
Namun, aku tetap harus bertanggung jawab, atas pasal perzinahan. Ditambah Amira yang kini mengandung anakku, yang kehamilannya semakin membesar.
Aku pun kini mendekam di balik jeruji besi, Papah mengupayakan, agar aku mendapatkan keringanan hukuman. Sebab yang kulakukan bukan tindakan pemaksaan, kami melakukannya atas dasar, suka sama suka.
Sedangkan Mamah, ia mengurung diri di dalam kamar, itu selalu membuatku khawatir. Di tambah Alia, aku takut ia akan menyakiti Mamah dan seisi rumah.
Malang sekali nasibku, kehilangan istri tercinta, karir redup dan hancur, serta kini mendekam di penjara.
"Dengan saudara Raka Sebastian. Ada seseorang, yang ingin bertemu."
Aku pun mengekor penjaga lapas itu, menuju ruang besuk.
Alia, ia tersenyum, melihatku muncul.
"Ada apa?" tanyaku datar. Sambil meraih kursi, kemudian duduk.
"Mau lihat kemalangan, sepasang pengkhianat." Alia menyahut dengan santai.
Aku menghela napas.
"Sekarang, bagaimana cara kamu, menyelamatkan keluarga kamu?"
Aku menahan emosi di dalam d**a, dan mencoba bersikap tenang.
"Alia, berhati-hatilah, bisa saja, kini Anton memburumu."
Mendengar aku menyebut Anton, mendadak wajah Alia langsung memucat dan tegang.