Kado Terakhir Istriku
Part17
°Pov Alia° FLASHBACK.
"Ini videonya!" Toni menyerahkan video enak-enak yang di perankan suami dari Alena, ia bersama selingkuhannya seakan terbuai cinta berlumur dosa. Aku muak melihat lelaki seperti ini.
"Oke. Pantau Alena malam ini, jika ia keluar kandang, berarti itu saatnya."
Aku tersenyum sinis, melihat video gila itu. Dasar laki-laki b***t, tunggu saja! Akan kubuat kamu menyesal seumur hidup.
Alena, akan kukirim kamu ke surga, agar kamu tidak ikut menderita. Cukup Ibu dan suami sialanmu ini, dan tentunya, wanita itu pun akan merasakannya juga.
______
Dari kejauhan, aku selalu memantau kebahagiaan Alena, kembaranku yang pergi bersama Ibu. Ia meninggalkanku di rumah Nenek, saat aku terlelap tidur.
Flashback.
"Nenek, Ibu dan Alena mana? Kok Alia dari tadi nggak ada liat ya."
Saat itu, aku masih berumur empat tahun.
"Ngapain kamu cari-cari mereka? Ibu kamu pergi, dia membawa kembaranmu saja, kamu tidak ia butuhkan."
"Nenek bohong kan?" Aku menangis sesegukan, rasa tidak percaya begitu mendominasi hati.
Aku berlari ke teras depan, aku berharap yang Nenek katakan hanyalah bualan. Aku yakin, Ibu dan Alena akan pulang, mana mungkin mereka pergi meninggalkanku.
Satu jam, dua jam, hingga lima jam berlalu, mereka tak kunjung pulang.
Aku kembali menangis di teras depan.
"Alia, kenapa nangis? Nak."
Ibu Nunung, tetangga samping rumah, ia yang terlihat pulang dari pasar, dengan kantong belanjaan yang ia pegang, duduk di sampingku.
"Bu .... Alia, Alia di tinggal pergi, ibu dan Alena!" aduku, dengan suara serak dan berat. Kemudian Ibu Nunung meraihku dalam pelukannya, ia mengusap pelan rambut hitam panjang milikku.
"Ya Allah, Alia."
Hanya kata-kata itu yang ia ucapkan, aku semakin terisak dan sakit hati. Harusnya Ibuku yang kini memelukku, nyatanya malah orang lain.
"Al, kamu kenapa?" tanya Anton. Anak dari Nenenkku.
Umur Om anton delapan tahun, ia selalu sibuk kesana kemari, bermain bersama kawan-kawannnya.
"Ibu dan Alena pergi, Om."
Om Anton hanya mengangguk. "Alia ...." teriakkan panggilan Nenek dari dalam rumah mengejutkan aku dan Bu Nunung.
"Masuk Al, kamu yang kuat ya Nak. Main ke rumah ibu, jika kamu rindu dengan Ibu kamu."
Aku mengangguk pelan, kemudian beranjak dari duduk, dan berlari kecil menuju ke tempat Nenek berada.
Dirumah sederhana ini, semenjak kepergian Ibu dan Alena, penderitaanku di mulai.
"Ada apa? Nek."
"Cuci piring sana!" titah Nenek, aku yang saat itu masih berusia empat tahun, tidak begitu mengerti kerjaan seperti itu.
"Alia kan nggak paham! Nek."
"Belajar bodoh! Jangan manja kamu, Alia." Nenek berkata, seraya menjitak kepalaku dengan keras.
"Aduh .... ibu ...." tangisku pecah, layaknya anak kecil. Di usia sedini itu, aku di paksa harus serba bisa dan paham. Jika tidak, Nenek tidak segan-segan memukuliku tanpa ampun.
Jangan di tanya bagaimana tubuhku. Semua terbingkai indah, biru dan lebam. Bekas sabuk dan rotan menjadi saksi bisu, betapa kejamnya Nenek.
Setiap hari aku menangis, dan itu juga membuat Nenek semakin murka. Ia menendang tubuh mungilku, aku terpental menabrak dinding, Nenek menyiramku hingga seluruh tubuhku menjadi basah.
"Anak bodoh! Jangan ganti pakaian kamu. Harusnya kamu mati bersama Bapakmu saat itu, agar tidak menjadi beban."
Aku yang tidak paham dengan makian dan hinaannya saat itu, hanya bisa menangis.
Tubuhku menggigil, malamnya aku demam.
Nenek dengan tega menempatkanku di kandang bekas ayam, ia marah denganku.
Aku meringkuk, tubuhku menggigil, badanku panas.
Nenek tidak mau tahu keadaanku.
Pagi nya Aku berusaha berjalan, meski lemah, mencoba menuju rumah Bu Nunung meminta obat. Sedangkan Nenek pergi kondangan bersama Om Anton, mereka bahkan tidak membiarkan aku makan.
"Ya Allah, Alia." Bu Nunung langsung memeluk tubuhku, ketika melihatku diambang pintu mengucapkan salam, kemudian aku meluruh ke lantai. Tungkaiku kian gemetar hebat, nyeri di lambung dan panas yang semakin tinggi. Membuatku rasanya sudah mati rasa, saking sakitnya luar biasa.
Bu Nunung mengangkat tubuh mungilku, ia mengganti pakaianku yang sudah bau, sebab beberapa hari tidak kuganti. Semenjak Nenek menyiramkan air, ia tidak membolehkanku untuk mengganti pakaian. Dari basah hingga mengering, aku tetap mengenakannya.
Bu Nunug mengompres panasku, ia memberikanku baju ganti miliknya. Yang jadi daster di tubuh mungilku.
"Ya Allah, Alia sayang." Suara lirih itu berulang kali terdengar, Bu Nunung bercucuran air mata, sesekali ia mengusap d**a menatap pilu kepadaku.
"Kamu sudah makan? Nak."
Aku menggeleng lemah. Bu Nunung dengan sigap menuju dapur, beberapa detik kemudiam, ia datang membawakanku makanan.
Dengan lahap dan tergesa aku memakannya.
"Yang pelan, Nak."
Bu Nunung berkata dengan menyeka air matanya.
Aku tersenyum.
"Enak, Bu. Alia suka."
"Al, kalau Alia suka, nanti Ibu bungkuskan ya! Biar Alia makan di rumah."
"Jatah makan Alia, cuma tiga hari sekali."
"Apa? Jadi Alia makannya cuma sekali dalam tiga hari itu? Nak."
Dengan ekspresi kaget, seraya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Iya, kata Nenek hemat, Alia kan parasit. Em, parasit itu apa sih? Bu."
"Ya Allah, Alia." Bu Nunung menangis sesegukan, seraya memeluk tubuh mungilku, yang semakin kurus.
Hingga satu tahun berlalu, kini umurku sudah lima tahun.
semenjak kepergian Ibu dan Alena. Aku dinyatakan mengalami gizi buruk dan berbagai penyakit menghinggapi.
Nenek yang sudah muak denganku, memutuskan untuk menjualku ke rumah b****l. Om anton yang membawaku ke rumah itu.
Aku kembali di siksa, dan di jadikan pembantu di sana.
Aku di beli dengan harga dua juta, dan di jadikan babu, bukan pekerja s**.
Selama dua tahun, tubuhku kembali hancur, dengan berbagai kekejam yang mereka semua lakukan. Aku muak dan sakit hati.
Aku mulai menyalahkan Tuhan, Dia tidak adil padaku, membuat hidupku seakan hancur berkeping-keping.
Hingga tangan Bu Nunung kembali menarikku, dari lembah p********n.
"Bos, kami sudah melenyapkan Alena." Perkataan Toni, membuyarkanku dari lamunan perihnya masa lalu.
"Aku melihat semuanya. Kalian sesadis itu!" bentakku.
"Maaf, kami di pengaruhi alkohol."
"Baiklah, nikmati hidup baru kalian," ucapku, seraya melemparkan senyum. Kemudian menghitung mundur dari angka sepuluh.
Kedua preman bodoh itu meregang nyawa.
Aku keluar dari gudang, melangkah dengan penuh senyuman.
"Tunggulah, aku Ibu. Aku akan membuat air mata dan derita untukmu."
Kini aku berdiri, di depan rumah besar Alena dan Suaminya.
Aku membenci Alena, sebab dia lemah. Hal itu, mengingatkanku di masa lalu.
Aku akan membuat mereka semua menderita, termasuk Ibu.
Aku di sambut ramah lelaki pengkhianat itu.
Aku sengaja membiarkannya bebas, aku suka bermain dan membuatnya menyaksikan orang-orang yang dia sayang, kusakiti.
Melihat ibu yang terlihat hancur dan syok kehilangan Alena, membuatku semakin murka.
Hingga kujelaskan semua kepadanya keadaanku, serta, akulah otak dari p*********n Alena.
Ia menjadi semakin syok dan langsung stroke. Aku puas hati, penderitaanmu baru di mulai, Bu.
Selama ini ia hidup nyaman dan bahagia bersama Alena. Ia seakan lupa kepadaku.
Selama dua puluh satu tahun, ia bahkan tidak pernah berusaha mencariku.
"Maafmu tidak berguna, Bu. Aku terlanjur sakit hati dan hancur."
Tidak ada air mata lagi yang meluncur, yang ada hanya marah dan dendam.
Satu persatu dari mereka, akan membayar semua luka yang aku derita.
Melihat mereka menderita dan terluka, itu membuatku selalu merasa puas dan senang.
Aku berusaha mengendalikan emosiku, sebab itu aku selalu melampiaskan kebrutalanku dengan menghabisi binatang apapun, yang mudah kuhancurkan.
Kematian dua preman itu membuatku tersenyum.
Mereka tidak akan mudah untuk menangkapku.
Aku kembali teringat Bu Nunung, setiap kali ia marah dan bersitegang dengan suaminya. Ia akan membunuh ayam dengan brutal, bahkan, kadang kucing pun bisa jadi sasaran.
Setelah puas, ia kembali normal, dan lembut.
Kadang aku pun takut, jika mereka bertengkar, Bu Nunung akan brutal dan mengamuk.