Kejutan untuk Raka

1059 Kata
Kado Terakhir Istriku Part18 ▪Pov Alia▪ Aku kembali teringat, Bu Nunung yang tiba-tiba mati gantung diri di belakang rumah, membuatku semakin hancur dan sakit hati. Lagi-lagi aku harus sendiri, aku benci. "Bu ..., kenapa Alia di tinggal dengan cara seperti ini? Bukankah ibu sudah berjanji, tidak akan  meninggalkan Alia juga." Aku menangis tersedu, di depan jenazah Bu Nunung. "Sepertinya, dia anak pembawa sial." "Iya, Ibunya saja meninggalkannya. Neneknya mati terbakar dan Bu Nunung mati bunuh diri. Hiiiyy." "Jangan dekat-dekat kitanya, takut s**l juga."  Terdengar bisik-bisik para tetangga, yang menggunjingku. Mereka seakan menabur garam di luka basahku. Suami dari Bu Nunung datang, ia pun sama, memarahiku dan menyalahkanku. Ia bahkan b***t, datang dengan perempuan barunya, yang kini hamil tua. Aku benci laki-laki, aku murka. Begitulah ketika aku melihat perselingkuhan Raka, suami dari kembaranku, Alena. Aku berniat membuatnya menderita, kehilangan satu-persatu orang yang ia cintai. Pasti menyenangkan, melihat laki-laki itu ketakutan dan menderita. Meskipun terkadang aku merasa tidak nyaman, dengan kebaikan Mamah dari Raka, tetap saja tidak bisa meredamkan api kemarahan di benakku. Dari tatapan saja, aku bisa dengan mudah memahami. Aku merasa Raka sudah mulai curiga denganku, hingga kuputuskan untuk kembali memeriksa kamarku. Ketika Mamahnya membawaku jalan-jalan. "Mah, putar balik bentar dong! Ada yang ketinggalan." "Oh, oke sayang."  Untung saja Mamah Raka tidak cerewet dan banyak tanya. Sesampainya aku di pekarangan rumah, terdengar dering ponsel Mamah berbunyi. "Sayang ..., Mamah tunggu di mobil ya, kamu cepetan ambil yang ketinggalan, jangan lama." "Iya, Mah." Aku melempar senyum, dan berjalan menyusuri seluruh ruangan. Ketika melihat kamarku telah terbuka. Aku memastikan, tidak ada orang lain di rumah, selain Raka. Aku berjalan pelan, kemudian mengunci pintu luar, agar tidak ada yang masuk. Aku kembali bergegas masuk ke dalam kamarku, terlihat Raka yang tengah mengobrak-abrik laci, yang berisi mata pisau dan gambar-gambar mereka semua. Kuputuskan untuk memberitahukannya, semua yang aku lakukan, selama ia tidak memiliki bukti, itu tidak akan menyulitkanku. Dari perdebatan kecil kami, sudah dapat kupahami, bahwa Raka ini bukanlah orang yang cerdas dalam bertindak. Ah, sungguh mudah untukku membungkamnya. Setelah ia lengah, aku pun memukulkan sesuatu kepadanya, yang membuat ia pingsan. Kuseret tubuhnya, dan meletakkannya di atas kasur. Aku bergegas membereskan seluruh barang bukti, dan menyimpannya di tempat aman. Sedangkan foto-foto itu, akan menjadi kejutan selanjutnya. Setelah berhasil memasukkan Amira ke penjara, kini giliran Raka. Akan kubuat ia dalam ketakutan. Menyelam sambil minum air, Ibu akan menyaksikan, bagaimana aku membuat mereka semua menderita. Aku tidak ingin Alena ikut merasakan derita mereka, sebab itulah, dia lebih dulu kukirim ke surga. Papah Raka, Satpam dan Bibi terlihat selalu tegang, jika berpapasan denganku. "Pah, apa yang Papah lakukan? Biarkan anak itu menebus kesalahannya." "Mah, biar bagaimana pun, Raka itu anak kita, Papah tetap akan membantunya bebas." "Terserah, Mamah nggak dukung sebenarnya." "Papah ngerti, tapi Mamah juga harus paham keadaannya. Raka itu anak kita satu-satunya." "Ini semua karena Papah, selalu memanjakan anak itu." Terdengar keributan dua pasutri itu, aku hanya menyunggingkan senyum. Keluarkanlah Raka, sebab ada kejutan yang menantinya. Pertemuan terakhirku dengan Raka, menyisakan banyak tanya. Sepertinya Raka menyelidikiku, makanya ia tahu tentang Anton. Baiklah, aku tidak akan tinggal diam. ___________ Enam bulan berlalu, Raka di bebaskan bersyarat. Berkat pengacara Papahnya yang lumayan handal, membuat Raka kini bisa menghirup udara kebebasan. Aku menunggunya penuh senyuman, membuat Raka menderita, itu memang prioritasku. Aku bersantai di depan rumah, sambil menyiram tanaman di pagi hari. Aku terlonjak, melihat seseorang dari kejauhan. Seseorang yang sangat aku kenali. "Om Anton," lirihku pelan. Ia terlihat begitu mengamati rumah besar ini, kemudian menyebrang jalan, menuju ke arah rumah. Aku berlari untuk bersembunyi, di belakang pos Satpam. "Hallo, apakah benar, ini rumah Bu Mumun?" tanyanya, menyebut nama Ibuku. "Benar," jawab Mamang.  "Saya Anton, keponakannya dari Surabaya! Boleh saya bertemu, Bu Mumun." "Kebetulan Bu Mumun saat ini tengah sakit, ia mengalami stroke." "Siapa Mang?" tanyaku, langsung keluar dari tempat persembunyian. Om Anton pasti tidak mengenaliku. Ia pasti mengira, aku Alena. "Ini non, ada yang ngaku sebagai Keponakannya, Ibu non." Aku berpura-pura tidak mengenalinya. Kulihat ia dari ujung rambut, hingga ujung kaki. "Maaf, Ibu tidak pernah cerita apapun tentang keluarganya. Saat ini ibu juga stroke, kami nggak bisa percaya begitu saja, pada orang asing." "Tapi saya ini benar keponakannya." Om Anton terlihat marah, dan menggebrak kasar pagar yang masih tertutup. "Mana buktinya?" bentakku balik. Ia terlihat semakin marah, namun aku yakin, ia tidak memiliki bukti apapun.  "Pergilah, jangan pernah datang lagi kesini!" kataku. Dengan tangan bersedekap di d**a. "Awas kamu! Kamu akan membayar penghinaan ini." Aku menyunggingkan senyum. "Silahkan, mana tau kamu yang akan menyesalinya lebih dulu."  "b*****h ...." Om Anton pergi, setelah menendang kasar pagar rumah.  Aku menatap datar wajah satpam, ia nampak tegang melihatku. "Mang, jangan mudah percaya dengan orang!" imbuhku. Mamang mengangguk, kemudian aku pun pergi, melangkah kaki menuju rumah. Aku tahu betul watak Om Anton, ia pasti akan melakukan apapun, agar keinginannya tercapai. "Kamu itu tidak berguna sama sekali, mending kamu kami jual." Teriakan Nenek saat itu selalu terngiang di ingatan. "Jual saja, Bu. Anton perlu uang ini, Mami Laura pasti mau membayarnya." "Yasudah, Ton. Bawa dia ke Mami Laura, biar kamu ada uang jajan." "Jangan Om, Nek! Kasihani Alia, jangan jual Alia!" Aku mengiba, aku memohon belas kasihan.  Namun mereka tidak perduli, bahkan Om Anton dengan tega menyeretku paksa. Sepanjang perkampungan, mereka acuh dengan perbuatan Om Anton kepadaku, sebab Om Anton terkenal preman yang brutal. Ia juga menyeretku, dengan membawa s*****a sajam di tangannya. Tentu saja, hal itu membuat orang-orang tidak berani mendekat. "Alia ..., sayang! Kok ngelamun, Nak." Kedatangan Mamah membuyarkan lamunanku tentang masa lalu yang teramat pahit dan menyakitkan itu. "Ah, enggak Mah, hanya mikirin kesehatan Ibu! Semakin hari semakin menurun." "Sabar ya sayang!" Mamah meraih tubuhku kepelukannya.  Beruntung sekali Alena selama ini, ia di besarkan Ibu dengan penuh kasih sayang. Mendapatkan cinta mertua yang luar biasa, aku iri. "Hari ini Raka bebas, semoga semua jadi pelajaran penting untuknya, agar tidak berlaku hal seperti itu lagi." Mamah berkata dengan mata berkaca-kaca. "Jangan sedih, Mah. Semoga Mas Raka menjadi pribadi yang baik." "Raka itu sebenarnya baik, hanya saja Mamah nggak nyangka! Ia bisa melakukan itu, pada wanita lain." Mamah menghela napasnya panjang. "Kata orang, laki-laki yang sudah pernah selingkuh, maka ia akan selingkuh lagi." "Tergantung orang-orangnya juga sayang! Tidak semua itu benar." "Ah, semoga saja!" sahutku sambil tersenyum. Welcome back to Raka, ada kejutan menantimu. Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan kamu bahagia begitu saja! Raka Sebastian. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN