Kado Terakhir Istriku
Part19
Lumayan berat, selama enam bulan ini aku lalui, di penjara. Bukan hanya menjadi babu para napi, aku juga menjadi bulan-bulanan mereka. Parahnya lagi, aku mendapatkan pelecehan s*****l.
Rasanya aku jera setengah mati, semoga setelah keluar dari neraka dunia ini, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki disana lagi.
Tiba hari kebebasanku, Papah menjemputku di depan gerbang.
Mobil meluncur pelan, menuju rumah.
"Pah, bagaimana keadaan rumah?" tanyaku.
"Mamah sih sehat, semua normal. Tapi, keadaan Bu Mumun, semakin memprihatinkan."
"Memperihatinkan bagaimana?" tanyaku penasaran.
"Bu Mumun semakin kurus, bahkan kini terlihat hanya kulit keriput yang membalut tubuhnya."
"Astagfirullah, yang ngasih makan, obat dan vitamin siapa?" tanyaku.
"Alia, pernah Papah carikan perawat, sudah tiga perawat yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Setiap di tanya pada Alia, ia hanya menjawab tidak tahu."
"Apakah tentang masa lalu Alia sudah ada informasi lagi?"
"Ada, katanya Alia di adopsi oleh keluarga yang lumayan berada. Namun, pasutri itu tidak memiliki anak kandung. Juga istrinya bunuh diri, dan suaminya menikah lagi. Harta yang mereka punya milik istrinya, semua harta warisan jatuh ke Alia."
"Kok Alia malah kesini?"
"Seluruh harta warisan, Alia sumbangkan ke panti asuhan."
Rupanya Alia masih memiliki sisi baiknya, namun aku tetap tidak akan melepaskan Alia, ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Alenaku.
Sesampainya kami di rumah, aku di sambut datar wajah Mamah, ia bahkan tidak pernah menjengukku sama sekali selama aku di hotel prodeo.
"Bagaimana kamu disana? Menyenangkan?" tanya Mamah dengan wajah datar.
"Entah." Hanya itu jawabanku, kemudian meraih tangannya, dan menciumnya.
"Makan, Alia sudah masak di dapur!" titah Mamah. Ternyata wanita gila itu, bisa masak juga.
Aku berjalan menuju dapur. Terlihat Alia yang sudah duduk, di susul Mamah dan Papah.
Kami semua mulai bersiap makan, tanpa ada kata terucap.
Kami semua memulai ritual makan siang, aku yang begitu lama tidak makan makanan lezat, begitu lahap menyantapnya.
Alia menatap geli kepadaku, sedangkan aku cuek saja.
Usai makan, entah kenapa rasanya mendadak mulas. Aku dan Papah bergantian masuk ke wc, membuat Mamah menatap heran pada kami, tidak dengan Alia. Ia seakan menahan tawa, melihatku dan Papah yang bolak-balik wc.
Bahkan Mamah sempat emosi, mendengar bunyi kentutku.
"Jorok banget sih," bentak Mamah, ia langsung menghentikan aktivitas makannya.
Mamah dan Alia memang belum usai makan, hanya aku lebih dulu. Sedangkan Papah belum juga selesai, keburu sakit perut duluan.
Kebetulan wc dalam rumahku berada di ujung dapur, kupikir setelah buang hajat, aku bisa ke kamar. Baru sampe ruang makan, aku sakit perut lagi.
Sialan, ini pasti ulah Alia.
___________
Makan malam.
"Siapa yang masak?" tanyaku pada Bibi.
"Saya, Pak. Ada apa?" Bibi bertanya balik.
"Emm ..., mana Alia?"
Aku tidak menjawab pertanyaan Bibi.
"Masih di kamarnya, Pak. Pak, kemaren ada laki-laki datang, ngakunya ponakan Bu Mumun. Namun sama Non Alia di larang masuk."
"Siapa? Bi."
"Kata Mamang, namanya Anton, kalau nggak salah!" jawab bibi antusias.
"Beberapa hari sebelumnya, ada juga keluarga Anita datang ke rumah ini, mereka mencari keberadaan Anita. Katanya setelah pamit dari rumah, untuk bekerja disini, Anita menghilang, sudah setahun ini, katanya." Bibi melanjutkan ceritanya.
"Astagfirullahhaladzim ...." Bibi memekik, kala melihat Alia berdiri mematung, menatap dingin wajah Bibi.
"Alia, biasakan kalau muncul itu bersuara, jangan tiba-tiba nongol kayak hantu!" Celetukku, kesal rasanya. Dengar bibi nyebut tadi saja, seakan jantungku mau meloncat dari tempatnya.
Alia tidak menyahut, pandangannya datar, kemudian ia duduk di meja makan dengan santai.
Aku mengamati dalam wajah Alia.
Bibi bergegas izin undur diri, ia langsung menuju pulang ke rumah Mamah.
Aku makan berdua dengan Alia, seakan rasanya kini aku bersama Alena, namun nyatanya dia bukan Alenaku.
Alena, wanita cantik yang memiliki tatapan teduh dan mendamaikan hati.
Namun, sayangnya takdir sudah memisahkan kami berdua, semua karna kelalaian dan kebodohanku.
Juga karena wanita yang kini makan bersamaku, kupastikan kamu akan segera mempertanggung jawabkan semuanya.
Usai makan, aku pun bergegas masuk ke dalam kamarku.
Merebahkan diri yang terasa sangat lelah, kemudian bangun kembali, untuk melihat rekaman cctv.
Aku tercengang melihat rekaman hari ini, Alia memberikan serbuk di nasi soto milikku, juga papah. Pantas saja, aku dan Papah mulas seharian, ternyata memang benar ulah Alia.
Aku yang emosi, bergegas mengambil rekaman itu dan menyimpannya sebagai barang bukti.
--------------
Seharian aku hanya tertidur, dari malam hingga menjelang siang.
Saat bangun, aku hanya makan, dan kembali masuk ke dalam kamar, nasib pengangguran.
Aku mulai memutar kembali rekaman belakang rumah, yang memang sengaja aku letakkan cctv. Sebab, Alia lebih sering berlaku aneh di belakang rumah.
Terlihat di beberapa rekaman di hari-hari sebelumnya. Alia selalu berjalan ke belakang, ke arah gudang rumah Mamah.
Rasa penasaran dan juga curiga, menggiring langkahku menuju kesana.
Aku bergegas memindai di sekitar rumah, tepat pukul empat sore, aku berjalan pelan ke arah belakang, menuju gudang rumah Mamah.
Suara lirih terdengar, ketika langkahku tepat di depan pintu gudang.
"Tolong keluarkan kami ..., kasihan keluarga kami, mereka pasti sangat kehilangan.
Terdengar suara sumbang tawa Alia.
Kemudian terdengar langkah kaki Alia menuju pintu gudang, pintu terbuka. Muncul sosok Alia, kemudian ia mengunci pintu dengan gembok, dan berjalan santai menuju rumahku.
Aku sengaja bersembunyi, agar ia tidak memergokiku.
Setelah memastikan Alia pergi masuk ke rumahku, aku pun bergegas masuk ke dalam rumah Mamah.
Aku menghubungi pihak ke Polisian, untuk membantu menggrebek gudang.
Aku tidak boleh kecolongan lagi, Alia harus bisa tertangkap kali ini.
Lima belas menit menunggu, akhirnya Polisi pun datang, aku bergegas membawanya menuju gudang rumah Mamah.
Gembok dirusak, dan pintu gudang di buka. Aku, Mamah dan kedua Polisi tercengang. Melihat kondisi tiga orang yang berada di dalam gudang.
Aku mengenali wanita yang paling kurus, rambut sangat kotor, begitu pula pakaian dan seluruh badannya. Tangan serta kakinya berbingkai ukiran pisau, tubuhnya yang dulu aduhai, kini bagaikan tengkorak hidup.
Miris, hatiku sakit dan terpukul, melihat mereka menjadi korban kebiadaban Alia.
Sedangkan dua orang lainnya, mereka terlihat baru beberapa bulan di sekap. Mereka karyawan baru yang Papah datangkan.
Kami membantu mereka bangkit, isak tangis mengisi seluruh ruangan.
"Biadab kamu Alia ...." teriak Mamah mengejutkan Alia, ia yang tadinya tertawa-tawa mengukir luka di tubuh kurus Ibunya, kini memucat ketika melihat murkanya Mamah.
Mungkin saking gilanya, dibuka pintu pun Alia tidak sadar.
Tanpa ragu dan takut, satu tamparan mendarat di pipi Alia. Kedua Polisi bergegas membekuk Alia, sedangkan aku memeluk Mamah, agar ia menenangkan hatinya.
Dengan isak tangis, Mamah perlahan mendekati tubuh Bu Mumun yang semakin kurus, dimatanya, kini sudah tidak terlihat semangat hidup lagi.
"Ya Allah, Mun. Maafkan aku, aku lalai menjaga dan mengawasimu."
Kata-kata Mamah sukses melukai hatiku, lagi-lagi aku merasa tidak berguna, padahal akulah yang paling bertanggung jawab pada hidup Bu Mumun. Sebab ia tinggal serumah denganku.
Mamah perlahan membuka baju panjang yang di kenakan Bu Mumun.
"Ya Allah, astagfirullahaladzim," Mamah menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, matanya membulat sempurna, ia begitu terkejut.
Melihat begitu banyak luka di tubuh, tangan dan seluruhnya. Sayatan pisau, hingga begitu banyak kulit Bu Mumun yang sudah di koyak-koyak.
Mamah menangis, meraung-raung hingga pingsan. Sedangkan Alia, ia nampak santai dan tersenyum. Kemudian kedua Polisi itu membawanya.
Aku pun membawa Mamah ke ruang keluarga dan menghubungi Papah, untuk memintanya segera pulang.
Papah pun mengiyakan permintaanku, aku meminta Bibi memandikan Anita, dan juga memanggil perawat untuk menyuntikan vitamin buat kedua orang yang baru beberapa bulan di sekap Alia.
Sedangkan Anita, seusai mandi, aku membawanya, menuju rumah sakit, ketika Papah datang.
Anita sangat lemah, ia bahkan hanya bisa berbaring, tanpa ada tenaga sedikitpun.
Hanya kedua orang itu, yang nantinya akan menjadi saksi, kejahatan Alia.
Di rumah sakit, seusai mengurus administrasi untuk Anita, aku berniat untuk mencari kontak keluarganya.
Panggilan telepon dari Pak Arman membuatku menunda niat. Aku mengangkat telepon darinya.
"Pak Raka, saya sudah memberi surat perintah untuk kedua team saya! Mereka akan memeriksa rumah Bapak. Namun katanya Bapak tidak ada di tempat, bisakah Anda pulang? Untuk mempermudah penyelidikan!" tanya Pak Arman, kepala team penyidik.
●Pov Author.●
Alia tersenyum, melihat Pak Arman berbicara dengan Raka melalui sambungan telepon.
Mimpi buruk akan kembali padamu lagi, Raka. desis Alia, seraya tersenyum licik.