Kado Terakhir Istriku
Part20
Aku bergegas pulang ke rumah, dan menitipkan Anita kepada suster.
Mobilku kini memasuki pekarangan rumah, ketiga penyidik itu tengah menungguku, di ambang pintu.
Aku pun membuka pintu rumah, dan mempersilahkan mereka untuk menyelidiki barang-barang bukti, yang akan menyeret Alia lebih dalam lagi, ke dalam neraka dunia itu.
Para penyidik itu mengawali penggeledahannya dari kamar Alia, namun tidak ada satupun barang bukti yang mereka temukan.
Kemudian ke kamar Ibu Mumun. Ia mereka menemukan tumpukan baju kotor berlumur darah kering, juga bau. Baju milik Ibu Mumun.
Kemudian beberapa mata pisau, selanjutnya, mereka menuju kamarku.
Aku syock. Ketika melihat foto-foto yang sebelumnya ada di kamar Alia, kini malah tersimpan rapi di dalam lemariku.
"Ini fitnah," kataku. Mamah menatap tajam ke arahku. Apalagi, ketika ia melihat beberapa lembar foto Alena, yang bertuliskan bagian belakangnya, MATI.
Mamah melirikku penuh curiga.
"Raka, apakah demi menutupi kegilaanmu dan gundik gilamu itu, kamu tega melenyapkan Alena?"
"Mah ...." aku berteriak. "Raka tidak segila dan sejahat itu, mana mungkin Raka tega, membunuh wanita yang paling Raka cintai."
"Bulshit ..., cinta kamu bilang! Mana ada cinta sekotor itu." Mamah berkata dengan napas memburu.
"Kamu bisa berbagi peluh dengan wanita lain saja, itu sudah menyatakan dihatimu tidak ada cinta lagi. Andai kamu bukan anakku, mungkin sudah kuhajar sampai mampus, kamu."
Aku membeku, entah kenapa aku merasa menjadi anak tiri dihati Mamah, sedangkan Bibi hanya mematung memandangiku.
"Pak Raka, tolong ikut kami, dan jelaskan semuanya di kantor!" ucap penyidik, yang sudah mengantongi, begitu banyak barang bukti.
Aku memandangi Mamah, namun ia membuang muka, dan pergi begitu saja. Kutatap lagi Bibi.
"Mana Papahku, Bi?" tanyaku pelan. Tanpa menghiraukan ucapan penyidik tadi.
"Tuan ke kantor Polisi, mereka membawa dua perawat yang di sekap non Alia, untuk memberikan laporan dan keterangan."
"Oke, ini kunci, nanti serahkan ke Mamah."
Aku memberikan kunci rumahku kepada Bibi, kemudian mengikuti langkah ketiga penyidik, dan ikut masuk ke dalam mobil mereka.
________
Aku masuk ke ruang introgasi, disana pun sudah ada Alia, yang tersenyum datar melihat kedatanganku.
Baru saja aku bebas, sekarang balik kesini untuk di introgasi lagi.
"Beneranlah Pak, saya tidak tahu menahu soal foto-foto ini."
"Tapi foto-foto ini, ada dalam lemari pakaian kamu, Pak Raka."
"Wanita ini pasti memfitnah saya, Pak."
"Team kami akan menyelidiki lagi, mengenai foto tersebut. Pak Raka akan di tahan dulu, sebelum ada kejelasan tentang foto itu."
"Ya Allah, Pak. Saya baru keluar sehari yang lalu, kok harus di tahan lagi."
"Maaf, Pak Raka, kami sudah membuat keputusan itu.".
Aku menghela napas panjang, dengan perasaan yang teramat hancur.
Alia benar-benar licik, ia menjebakku dalam situasi seperti ini.
Setiap kali pertanyaan penyidik, tidak ada satupun yang Alia bantah. Ia hanya mengangguk tersenyum, mengangguk tersenyum. Hal itu, berulang kali ia lakukan.
_______
Akhirnya, aku pun di tahan kembali di balik jeruji besi ini. Aku rasanya lelah, dengan kehidupan ini, bahkan aku di kurung bersama Alia, di tahanan sementara. Sebelum di bawa ke rutan.
"Dasar physco gila!" desisku, menatap tajam wajah Alia.
Ia hanya datar, tidak bereaksi apapun, bahkan seolah ia tidak mendengar ucapanku.
Hingga keesokan harinya, aku di bebaskan kembali.
Sebab, sidik jari di foto itu, bukan milikku, melainkan milik Alia.
Papah kembali menjemputku di kantor Polisi.
"Besok sidang vonis hukuman Alia, Papah jadi semakin bingung."
Papah berkata seraya menyetir mobil, menuju pulang ke rumah.
"Papah bingung karna Mamah?" tanyaku.
"Iya," jawab Papah lemah. "Mamah syock, ia bahkan tidak makan sama sekali hari ini, bahkan kembali mengigau memanggil-manggil Alena lagi."
Aku hanya mengusap kasar wajahku, Mamah begitu menyayangi Alena selama ini. Bahkan ia juga menyayangi Alia, namun tidak dapat di pungkiri, Alia dan Alena, adalah dua sisi yang berbeda jauh.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke rumah Mamah dan Papah. Mencari keberadaan Mamah, namun ia tidak ada di dalam. Bibi berlari masuk ke dalam rumah.
"Pak, tolong, Bu Mumun kejang-kejang!" teriak Bibi dengan panik.
"Apa?" kataku dengan terkejut, Papah pun berlari kerumahku.
"Mun bangun ..., ya Allah Mumun bangun ...." terdengar suara lirih Mamah.
Aku dan Papah seketika membeku diambang pintu kamar. Melihat Mamah memeluk tubuh kurus renta Bu Mumun yang kini wajahnya sudah memucat.
Papah mendekat, seraya memegang tangan Bu Mumun, mencari denyut nadi yang kini sudah tidak berdetak.
"Inalilahi wa inailaihi roji'un" ucap Papah.
'Ya Allah, kini Ibu Mumun pun menyerah, ia pergi membawa seluruh rasa sakit fisik dan batinnya.'
Mamah menangis lirih.
"Ya Allah Mumun, usai sudah perjuangan kamu di dunia ini. Yang damai di sana! Maafkan aku dengan segala kekurangan dan keterbatasanku mengurus kamu, Mun."
Mamah menangis, seraya membelai pipi Bu Mumun, kemudia mengusap pelan wajahnya.
Kami pun mengurus pemakaman untuk jenazah Bu Mumun. Aku ke kantor Polisi, meminta izin untuk bertemu Alia.
"Al, Ibu kamu meninggal dunia, tadi siang!" kataku pelan.
Alia hanya menunduk, menyembunyikan ekspresi keterkejutannya. Air matanya menetes, namun ia tidak menyahutku sama sekali.
"Apakah kamu mau melihatnya, untuk yang terakhir kalinya?" tanyaku.
"Tidak perlu, Ibuku adalah wanita yang paling aku benci. Untuk apa aku menemuinya? Bahkan aku turut berbahagia, dengan kematiannya."
"Kamu tidak usah menyangkalnya Alia. Aku tahu kamu menderita selama ini, aku tahu kamu merindukannya. Ini yang terakhir kali kamu melihat wajahnya Al, sekuat apapun kamu merindukannya, dia tidak akan pernah kembali lagi."
Alia menatapku datar.
"Dari usia empat tahun, aku terus berharap Ibu akan datang menemuiku, aku sangat merindukan pelukannya. Tapi kenyataanya, Ibu tidak pernah datang mau pun mencariku selama dua puluh satu tahun umurku."
Alia berkata dengan suara serak, air mata itu lolos dan jatuh ke pipi mulusnya. Alia menyeka kasar air matanya itu.
"Kamu tahu, aku pikir karena Ibu dan Alena hidup miskin, atau mereka telah mati. Nyatanya, mereka hidup mewah dan bahagia bersama kalian. Apakah aku tidak berhak marah akan hal itu? Apakah aku harus memaklumi semua itu?" bentak Alia.
Kemudian ia membuang muka.
"Aku lelah, kamu pergilah! Aku tidak akan pernah datang," lanjutnya, tanpa menunggu jawabanku, Alia bergegas beranjak pergi. Meninggalkanku yang diam mematung.
Aku bahkan tidak tahu, mengapa Bu Mumun selama ini diam, dan tidak pernah mengatakan apapun tentang Alia.
Aku pulang, dengan perasaan bimbang, memikirkan betapa sakit hatinya Alia di masa lalu, hingga mengubahnya menjadi manusia berhati dingin.
Usai pemakaman Ibu Mumun, aku, Papah dan Mamah duduk di ruang keluarga.
Aku mulai menceritakan semua pada Mamah, begitupun Papah, ia menceritakan semua tentang masa lalu Alia. Yang ia dapatkan, dari seorang informan handal.
Mamah kembali menangis.
"Ya Allah, anak malang itu!" lirih Mamah.
Namun semua tidak bisa di perbaiki, Alia tetap harus bertanggung jawab, dengan semua perbuatannya.
Amira di bebaskan, namun kini ia nampak berbeda, kurus dan kusam.
Aku hanya melihatnya dari kejauhan, saat Amira diantar Polisi untuk pulang ke rumah.
Menurut cerita dari Pak Arman, Amira mengalami sedikit trauma.
Katanya, ia selalu takut di dekati orang, dan selalu mengigau layaknya orang yang ketakutan.
Hari ini sidang vonis hukuman untuk Alia, aku dan Papah, serta Mamah juga datang, menghadiri sidang itu.
Alia di vonis hukuman seumur hidup, namun wajahnya tidak bereaksi sama sekali, ia bahkan terkesan santai.
Sidang berakhir, Mamah berlari memeluk Alia. Ia menangis terisak-isak, sambil mengusap rambut hitam panjang, milik Alia.
Alia menyeka air mata Mamah, kemudia ia tersenyum.
"Jangan menangis, Alia tidak layak untuk di tangisi seperti ini, seorang pendosa yang kejam, apa Mamah tidak membenciku?" tanya Alia.
"Ya Allah, Nak. Mamah mencintai kamu, Mamah yakin, jauh di dalam sini, kamu sangatlah baik."
Sambil menunjuk ke arah hati Alia.
"Aku pembunuh menantu kesayangan Mamah, menyakiti Ibuku sendiri, aku tidak layak untuk kalian kasihani."
"Alia, Mamah tidak mengasiani kamu, Mamah tulus menyayangi kamu, Nak. Kamu buang keburukan yang merugikan itu, Nak. Mamah akan selalu menunggu kepulangan kamu, selalu."
Mamah memeluk erat Alia, Alia menangis, kemudian ia tersedu-sedu, seakan menanggung beban berat dihatinya yang kini mulai perlahan ia lepas.
Mamah semakin ikut terisak, semua yang berada di persidanganpun memandang haru kepada Mamah dan Alia.vonis