Chapter 4

1003 Kata
“Kekasih?” Semua orang berteriak secara bersamaan dalam keterkejutan dan juga keheranan. Marcel melanjutkan perkataannya kepada semua orang di sana. “Jika kita semua memanggilnya Nona Muda, dan Nona Muda itu sangat senang. Sepertinya Tuan Muda akan menaikkan gaji semua orang di sini,” ucap Marcel. Setelah semua orang mendengar ucapan Marcel, mereka semua mencerahkan matanya. Sebelumnya mereka tidak pernah yakin akan mendapatkan kenaikan gaji, bahkan untuk menatap wajah Lilac saja mereka merasa segan. Dan ternyata gadis muda itu membawa kebahagiaan untuk mereka semua, karena jika Lilac merasa bahagia setiap harinya, semua pelayan di rumah besar itu juga akan merasa tenang dan aman. *** Setelah membawa pakaian ke kamar, Angel dan Lilac turun, saat pertama kali turun, Angel terkejut melihat pelayan itu berdiri dalam barisan rapi, membungkuk dan berteriak keras …. “Nona Muda,” ucap para pelayan serempak. Lilac juga memutar matanya heran. Angel menyipitkan mata ke arah Lilac, gadis itu ingin Lilac memberikan penjelasan yang jelas tentang ini. “Nona Muda? Kapan aku menjadi istrimu?” tanya Angel kepada Lilac sambil menggelengkan kepalanya dengan ekspresi polos tak peduli. Lilac dengan tergesa-gesa hendak menjelaskan kepadanya. “Apa kamu yang menyuruh mereka melakukan itu? Mengapa aku tidak tahu apa-apa?” ucap Angel lagi. Lilac mengalihkan pandangannya pada semua orang dan bertanya dengan dingin. “Siapa yang menyuruh kalian melakukan itu? Saya tidak pernah mengatakan untuk memanggilnya Nona Muda,” tanya Lilac. Semua pelayan secara bersamaan mengacungkan tangan ke arah Marcel. Seketika wajah mereka menunduk tidak berani mengangkat kepala untuk melihat Lilac lagi. Sudut bibir Marcel bergerak-gerak menatap jari para pelayan yang mengacung ke arahnya. Namun, beda halnya dengan Lilac, pria itu memberikan senyuman pada Marcel, tetapi senyuman itu penuh dengan keanehan dan ketakutan. “Gajimu bulan ini saya potong setengah, serta kamu harus lembur sampai akhir bulan ini,” ucap Lilac dengan senyum anehnya. Marcel mematung, hanya satu menit dia melakukan kesalahannya, tetapi dia kehilangan setengah gajinya dan harus bekerja lembur pula sampai akhir bulan. Angel kembali ke kamarnya dengan wajah tak terduga. Sedangkan Lilac masih berdiri di tempatnya tadi. Melihat Angel telah masuk dan menutup pintu kamar, lalu Lilac tertawa, kemudian mengeluarkan suaranya berbicara kepada pelayan yang berbaris itu. “Aku sangat senang kalian memanggil wanitaku Nona Muda. Bulan ini semua orang bisa mendapatkan kenaikan gaji,” ucap Lilac. Semua orang melompat dan bersorak. Sedangkan Marcel memasang wajah berkerut. “Tuan Muda, bagaimana denganku, mengapa semua orang mendapat kenaikan gaji, hanya aku yang tidak?” tanya Marcel. Lilac tersenyum dan menepuk bahu Marcel. “Gajimu tidak akan dipotong, kamu akan mendapatkan kenaikan gaji juga. Jika tadi saya bilang akan potong gajimu bulan ini dan kemudian lembur sampai akhir bulan ini, karena saya harus menjaga imej saya di depan Angel,” jelas Lilac. Mendengar kenaikan gaji, Marcel dengan senang hati mengucapkan terima kasih. Ketika tadi dia mendengar bahwa dia harus bekerja lembur selama sisa bulan ini ternyata hanya untuk menjaga citra bosnya. Marcel tersenyum, sekarang dia tidak perlu khawatir akan kehilangan separuh gajinya. Tok … tok … tok …. Angel berjalan membuka pintu. Dia melihat Lilac yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum dan langsung bertanya padanya. “Angel, apa kamu ingin makan sesuatu malam ini? Biar aku meminta pelayan untuk membelikannya untukmu?” tanya Lilac. Angel menggelengkan kepalanya. “Jadi apa kamu ingin kita keluar malam ini?” tanya Lilac lagi. Angel menggelengkan kepalanya lagi. “Aku malas mau pergi ke mana pun. Apa ada pertanyaan lagi? Jika tidak aku mau mandi,” ucap Angel kepada Lilac. Lilac menggelengkan kepalanya. Angel kembali menutup pintu. Di balik pintu wajah Lilac terlihat sangat menyedihkan seperti anjing yang ditinggalkan oleh majikannya. Karena sebenarnya dia berharap bisa keluar lagi bersama Angel malam ini—memandang indahnya langit malam di Kota Z. Lilac perlahan berjalan kembali ke kamarnya dengan perasaan sedih. *** Keesokan paginya Angel keluar dari kamar dan saat berjalan di tangga, Lilac yang sedang duduk melihatnya dan langsung menyuruh turun. Lilac yang melihatnya menuruni anak tangga, mulutnya tidak bisa terkontrol dengan terus tersenyum menatap gadis itu. “Apa kau sudah bangun, ayo cepat turun. Setelah sarapan aku akan membawamu ke perusahaan,” ucap Lilac. Saat pria itu menyebutkan akan bekerja di perusahaan, Angel langsung melotot. “Tidak, jika aku pergi bersamamu, aku tidak tahu bagaimana aku menjelaskannya kepada orang-orang,” ucap Angel khawatir orang-orang di kantor mengetahui bahwa dirinya dekat dengan Lilac. Lilac tertawa mendengar ucapan gadis itu. “Kalau begitu aku harus mengumumkannya sendiri nanti,” ucap Lilac. Angel mengerutkan alisnya bingung. “Kamu bilang akan mengumumkan?” tanya Angel. Lilac tidak mengatakan apa-apa lagi tetapi terus tersenyum. “Kamu bisa mengecewakanku kalau kamu menolak,” ucap Lilac. Setelah sarapan mereka pergi bersama ke perusahaan untuk bekerja. “Aku takut orang-orang akan melihat kita,” ucap Angel. Lilac pura-pura tidak mendengar apa yang dia katakan dan terus melajukan mobilnya. Setelah tiba di luar gedung perusahaan, di tempat itu sepi dari orang-orang kantor. Angel mengerutkan bibirnya dengan marah, dia jengkel dan berteriak di dalam mobil. “Jika kamu tidak berhenti di sini, aku akan lompat keluar, aku tidak akan tinggal di rumahmu lagi!” teriak Angel. “Santai,” ucap Lilac setelah mendengar bahwa Angel akan lompat keluar, pria itu dengan santai mengangguk kepalanya. “Apa kamu ingin menakutiku seperti itu?” tanya Lilac dan menghentikan mobilnya di sana. Sontak Angel membuka pintu mobil dan melangkah keluar dan berdiri di pintu dengan wajah marah. “Aku tidak suka diintimidasi, aku katakan aku tidak semudah itu,” ucap Angel marah. Angel menutup pintu mobil dan berjalan ke perusahaan. Dia lalu berlari perlahan ke perusahaan sambil terus menengok ke belakang. Angel dengan cepat berjalan ke dalam, dia merasakan banyak mata yang menatapnya. Di dalam dia melihat Olivia datang dan meletakkan lengannya di bahu Angel, dengan matanya yang tajam, kata-kata interogasi pun terlontar. “Angel, apakah kamu satu mobil dengan Ketua kemarin?” tanya Olivia dengan santai namun tajam. Angel menelan ludah dan menarik napas dalam-dalam sambil menertawakan Olivia. “Hei, apaan sih kamu? Kamu pasti salah lihat, aku pulang naik taksi kemarin itu,” ucap Angel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN