Lilac bangkit dan mengambil dokumen dari meja. Dia lihat itu benar, dia melihat ke semua orang semua orang ikut senang melihat Andre. Kini wajah Lilac tetap dingin, tangannya mengepal. Dia tidak keberatan dengan Lilac General Corporation, usaha yang dibangun dengan penuh perjuangan, saat ini harus berpindah ke tangan Andre. Lilac mencoba untuk tenang, dia mengangguk sedikit dan melihat mereka. Namun, Lilac yakin sebentar lagi Lilac General Corporation pasti akan tetap kembali menjadi miliknya. Andre dan Lilac berjabat tangan.
“Baiklah, sepertinya Anda baik-baik saja akan meninggalkan perusahaan ini, Lilac General Corporation,” ucap Andre.
Richard yang baru saja mendengar berita perihal Andre di perusahaan, dia langsung menelepon Angel lagi untuk memberitahunya.
“Angel, posisi Ketua telah diambil-alih oleh Andre dan sekarang Lilac sedang mengemas barang-barangnya untuk meninggalkan perusahaan,” ucap Richard dalam telepon. Angel sudah menduga ini pasti terjadi, dia menyusun rencana dia pasti akan bantu kekasihnya mendapatkan kembali posisi Ketua di perusahaan dan akan mengklaim semuanya.
“Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Richard aku mau meminta bantuanmu hari ini. Andre hari ini akan pergi ke mana saja? Jika kamu tahu kabarnya tolong beritahu aku ya,” ucap Angel. Richard juga tidak bertanya apa pun lagi dia setuju saja dengannya.
“Baiklah,” ucap Richard kepada Angel.
Di Lilac General Corporation, Marcel mengemas semua barang milik Lilac dan kemudian perlahan meninggalkan perusahaan. Lilac pergi ke lobi, dia melihat semua staf itu berdiri dalam dua baris dengan ekspresi sedih, sangat kesal, seseorang bahkan menangis. Ketika dia tiba mereka semua membungkuk padanya. Lilac menatap semua orang dengan lembut mengucapkan selamat tinggal dan meninggikan suaranya.
“Semuanya, tetap semangat dan tolong lakukan yang terbaik. Aku harus pergi,” ucap pria itu. Lilac dan Marcel meninggalkan perusahaan, semua orang dengan air mata berlinang menatap bayangan dua orang itu. Ketika Charles mendengar berita itu dia segera memanggilnya dan menyuruhnya untuk segera menemuinya. Dia segera menyuruh Marcel untuk mengemudi mengantarkan dia ke sana.
Richard juga meminta penyidik ke tempat di mana Andre sering datangi, jika menemukan sesuatu untuk segera memberitahunya.
***
Pada malam hari bar, Angel mengenakan gaun hitam off-the-shoulder yang memperlihatkan tulang selangka yang indah, dan rambut panjang terurai. Begitu dia masuk dia melihat Andre duduk dengan banyak gadis yang mengenakan pakaian terbuka, dia menarik napas dalam-dalam dan datang berjalan ke arahnya. Angel berdiri di belakangnya, Andre berbalik untuk melihat, dia benar-benar tertarik dengan kecantikan yang menggoda ini, dia seperti tersesat ketika melihatnya.
“Angel, kenapa kamu di sini, jangan bilang padaku kalau kamu ke sini untuk menemuiku?” tanya Andre. Angel sedikit memiringkan kepalanya dan mengangkat alis ke arahnya.
“Tidak, aku hanya datang ke sini untuk bermain tetapi tidak menyangka berjumpa kamu di sini. Ada banyak gadis malam di samping kamu, itulah mengapa aku tidak percaya kata-katamu,” ucap Angel. Andre mendengarnya mengatakan itu dan buru-buru mengusir semua gadis di sampingnya. Andre mengajak Angel untuk duduk, pria itu juga khawatir jika nanti Angel akan terbiasa pergi ke bar sehingga dia menanyakannya karena begitu penasaran.
“Tadi kamu mengatakan ke sini untuk bermain, aku pikir kamu suka di rumah saja, tempat ini bukanlah tempat di mana kamu berada Adikku, apa kamu lagi frustrasi?” ucapan Andre. Angel berkata agak jengkel dan kesal.
“Jangan sebut aku lagi frustrasi,” ucap Angel. Andre mengangkat satu alis dan bertanya.
“Apakah kalian berdua bertengkar?” tanya Andre penasaran dengan keadaan asmara Lilac dan Angel.
“Tidak, aku bosan saja dan satu lagi aku tidak mau mengenal pria lain sekarang selain dia. Ini tidak ada hubungannya dengannya, tetapi di sisinya aku akan sangat menderita. Kamu tahu bahwa aku adalah seorang Putri sejak aku lahir, di garis takdir aku tidak akan pernah hidup dalam penderitaan,” ucap Angel. Andre merasa bahwa dia seperti gadis lainnya, tetapi dia menyukai gadis ini, diam-diam dia coba untuk memeluknya dan tidak mau melewatkan kesempatan ini.
“Jika itu masalahnya silakan datang kepadaku. Aku sama sekali tidak akan membiarkan kamu menderita kesulitan apa pun bahkan seujung kuku pun,” ucap pria itu dengan senang. Angel mengangkat alisnya dan tersenyum menatap Andre.
“Benarkah, apakah kamu benar-benar menyukaiku?” tanya Angel. Andre mengangguk duduk di sampingnya meraih tangan gadis itu dan mengeluarkan kata-kata manis.
“Aku sangat menyukaimu, hatiku berdebar saat pertama kali melihatmu. Aku harap kamu menerimaku, apakah tidak apa-apa jika aku menjadi pacarmu?” tanya Andre to the point.
“Oke, aku setuju jadi pacarmu, tetapi ayo kita beritahu Lilac dengan jelas dan antarkan aku ke mansion,” ucap Angel.
“Oke, aku akan mengantarmu pulang, aku sangat senang hari ini,” ucap Andre segera mengantarnya pulang.
Lilac berdiri di luar, duduk di ayunan di mana tempat Angel sering duduk di sana sambil menunggu kekasihnya kembali. Melihat cahaya mobil dia langsung bangun dan membuka pintu untuk menyambutnya. Tepat setelah membuka pintu dia tak sengaja tersandung dan jatuh. Lilac berbaring sambil mengaduh dengan keras, tapi tiba-tiba berhenti dan wajahnya menjadi gelap penuh amarah ketika dia melihat Andre membukakan pintu mobil untuk Angel. Gadis itu melangkah keluar membuat tangan Lilac mengepal dan langsung menarik kerah kemeja Andre dengan tatapan matanya yang terbakar amarah.
“Bukankah aku sudah memperingatkanmu sejak awal, jangan pernah mendekatinya,” ucap Lilac.
“Lilac, apa yang kamu lakukan?” tanya Angel meneriakinya membuatnya bingung terpana. Andre mengangkat alis dan tersenyum padanya. Lilac bingung berdiri menatapnya. Angel berbalik dan berkata kepada Andre.
“Ayo, sudah bisa kita bicarakan?” ucap Angel sambil merangkul lengan Andre untuk masuk ke dalam rumah itu.
“Hm,” Andre berdeham dan mengikuti Angel masuk ke dalam rumah. Lilac mengikuti kekasihnya, dia mau bertanya apa yang terjadi sebelumnya, kenapa dia berteriak padanya.
“Angel, kenapa kamu berteriak padaku tadi, kenapa kamu marah saat aku akan memukulnya?” tanya Lilac melangkah masuk, dia meraih tangannya dan Angel menariknya kembali membuat Lilac bertanya-tanya. Angel mengalihkan pandangannya, tangannya tergenggam, sekali lagi dia menarik napas dalam-dalam dan mencoba mengatakan itu padanya.
“Kita putus,” ucap Angel langsung. Ucapan itu seperti kilat menyambar di telinga Lilac, ketika mendengar dia mau berpisah Lilac merasa salah dengar.
“Angel, apa yang kamu bicarakan? Apakah kamu bercanda, candaan itu agak keterlaluan,” ucap Lilac memastikan lagi dengan wajah yang sangat serius.