Lilac melayangkan senyuman pada Angel dan bangun dengan cepat. Dia mengurus prosedur keluar rumah sakit untuk wanita terkasihnya.
Olivia melihat gelagat Angel yang mampu membuat bos mereka tersenyum. Dia perhatikan di mata sahabatnya seolah-olah ada bintang yang jatuh di dalam sana. Itu adalah pertama kalinya dia melihat Angel dengan ekspresi begitu bahagia yang sulit digambarkan, apalagi pria dingin itu juga ternyata bisa tersenyum. Angel tersenyum balik ke arah temannya, dia mencubit tangan Olivia dengan kuat untuk membuyarkan prasangka Olivia.
“Angel? Ada apa? Apa aku salah lihat? Tadi Ketua tersenyum, kan? Apa dia benar-benar bisa tersenyum?” tanya Olivia memastikan. Angel tertawa dan mengangguk berulang kali.
“Kamu terkejut, iyakan? Dia robot yang tidak bisa tersenyum,” sambung Angel sambil tertawa.
“Kamu tahu, dari saat aku mulai bekerja sampai sekarang, aku tidak pernah melihat Ketua tersenyum sekalipun. Bahkan staf lain juga belum pernah melihatnya tersenyum,” ucap Olivia sambil tersenyum kaku pada Angel.
“Yang pasti hanya kamu yang bisa membuat Ketua tersenyum. Aku kagum ucapanmu dipatuhi oleh Ketua. Dan kamu juga merupakan teman dekat dari Ketua Rich Group. Jujur, aku benar-benar tidak mengerti mengapa kamu yang karyawan kecil tapi kamu kenal begitu banyak orang hebt?” tanya Olivia mengangkat bahunya.
“Mungkin karena aku tidak ingin bergantung pada orang lain, aku ingin menjadi diriku sendiri dan juga mandiri,” jawab Angel sambil tersenyum.
***
Setelah menyelesaikan prosedur pemulangan. Lilac dengan lembut dan perhatian dia menuntun Angel naik mobil dan kembali ke mansion milik Lilac. Selama waktu di perjalanan Lilac menoleh untuk melihatnya sebentar. Sehingga Angel terlalu terbiasa dengan ini. Lilac tidak mengatakan apa-apa atau melakukan apa pun.
Setibanya di mansion, Lilac dengan cepat keluar dari mobil dan pergi ke arah Angel yang baru saja membuka pintu dan hendak keluar. Angel digendong oleh Lilac dan dibawa masuk ke dalam. Angel memukul-mukul bahu Lilac.
“Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku,” ucap Angel. Meski dia dipukuli tetapi Lilac bersikeras menggendong gadis itu ke kamar di lantai atas. Lilac dengan lembut membaringkannya di tempat tidur.
“Kamu tidak boleh turun dari tempat tidur sampai waktu yang ditentukan! Saat waktunya makan atau apa yang ingin kamu makan, kamu cukup katakan padaku, aku akan membawakannya untukmu. Kamu tidak perlu pergi bekerja, setelah sembuh baru boleh bekerja,” ucap Lilac. Angel benar-benar tidak punya cara untuknya kabur dari peraturan pria dingin itu.
“Kalau Ibumu yang datang, apa yang harus aku lakukan? Apa masih tidak boleh bangun seperti ini?” tanya Angel.
Lilac mencengkeram tulang belikat gadis itu dan mereka kini beradu pandang.
“Kamu pikir aku terlalu kejam, tahukah kamu bahwa ketika aku mendengar kamu pingsan di rumah sakit, rasanya jantungku seperti akan copot?” ucap Lilac sambil menatapnya lembut. Angel merasa jantungnya berdegup semakin kencang. Dia merasa pria itu sangat hangat.
Setelah Lilac keluar kamar, Sandra segera berjalan cepat masuk dan berdiri dengan tangan disilangkan, dan menatapnya dengan muka masam serta tatapan tajam.
“Sepertinya Lilac juga memanjakanmu, kan? Tetapi kubilang kamu tidak layak untuknya. Hanya aku yang layak untuk Lilac, jadi sebaiknya kau tinggalkan dia dan jangan pernah ganggu dia lagi,” ucap Sandra. Angel tertawa membalas dengan ejekan dan sindiran kepada perawan tua itu. Dia berbaring di tempat tidur dengan menyilangkan kaki dan menjawabnya.
“Aku pantas kok dan sebelumnya siapa pun yang mengatakan kepada aku bahwa aku tidak pantas, orang itu sebaiknya berhati-hati. Jaga kata-kata kamu itu, jika terjadi sesuatu jangan pernah salahkan aku.”
“Kenapa kamu di sini?” Tiba-tiba suara Lilac mengagetkan Sandra yang sedang berdiri di ambang pintu. Lilac masuk dan melihat wajah Sandra. Seketika mimik wajah pria itu langsung berubah, suasana menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Sandra sedikit ketakutan saat melihatnya seperti itu, jadi dia mengerahkan semua keberaniannya untuk memberitahunya.
“Aku datang ke sini untuk memperingatkan dia agar berhenti bergantung padamu. Tipe orang seperti dia, tidak pantas untukmu. Tipe wanita rendahan yang hanya merebut pria milik perempuan lain,” ucap Sandra.
Angel melangkah maju dan menampar wajah Sandra dengan keras. Sandra memegang wajahnya yang perih, dia hanya memelototinya. Lalu tiba-tiba menoleh ke arah Lilac sambil terisak.
“Lilac, kenapa kamu hanya diam berdiri saat melihatnya memukulku?” tanya Sandra dengan air mata palsunya meminta belas kasih. Wajah Lilac menjadi lebih menakutkan.
“Kamu keluar sekarang. Aku tidak memperhitungkan hari ini setelah kamu memarahi Angel, karena aku masih menghormati dirimu. Tetapi ke depannya, jangan pernah kamu tidak beretika lagi, aku melarang kamu masuk bahkan setengah langkah pun atau aku tidak akan memaafkanmu,” ucap Lilac dengan marah memperingatkan Sandra. Sandra terkejut dan bergegas keluar. Lilac berbalik dan menatap Angel.
“Angel, kamu baik-baik saja, apakah dia melakukan sesuatu padamu?” tanya Lilac penuh rasa khawatir. Angel duduk di tempat tidur menyilangkan lengannya dan tersenyum.
“Apa yang bisa dia lakukan padaku, dia tidak seberapa dibandingkan dengan Grace pernah yang mengganggu hubungan Via dan Dion waktu itu. Tetapi kenapa kamu membawa laptop dengan file-file itu ke kamarku?” tanya Angel bingung. Lilac meletakkan barang-barangnya, mulutnya diam kemudian tertawa.
“Aku tidak akan meninggalkan kamarmu sampai wanita itu pergi. Setelah kamu merasa lebih nyaman, baru aku akan pergi bekerja,” ucap Lilac. Angel menepuk keningnya dan menyerah.
“Lalu kamu akan tidur di mana? Hei aku beritahu kamu sebelumnya aku tidak akan tidur denganmu di bed ini ya!” ucap Angel.
“Sebentar lagi aku akan menyuruh Bibi Anna untuk membawa kasur ke sini. Aku akan tidur di sini,” jawab Lilac sambil menunjuk di mana dia harus meletakkan kasur itu.
“Terserah kamu,” ucap Angel singkat.
***
Tengah malam Angel bangun dari tempat tidur untuk minum. Lilac segera duduk dan menyalakan lampu.
“Angel, mau ke mana?” tanyanya. Angel terkejut sambil mengelus dadanya dan menjawab pertanyaan Lilac.
“Aku haus jadi aku mau turun untuk minum air,” ucap Angel. Lilac langsung berdiri.
“Biarkan aku yang mengambilnya dan membawakannya untukmu,” ucap Lilac. Begitu dia membuka pintu dan turun untuk mengambil air untuk Angel, tiba-tiba bibirnya berkedut. Dia mengira dia seperti orang stroke karena bibirnya terasa begitu tak nyaman.
Makanan dan minuman telah Lilac bawa ke kamar kemudian meletakkannya di atas meja. Lilac berbaring kembali sambil menarik selimutnya. Dia mencoba untuk memejamkan matanya untuk tidur sambil sesekali melihat ke atas—ke arah ranjang untuk mengawasi sambil menunggu gadis itu sampai benar-benar tertidur pulas.