“Angel? Dia pacar kamu?” tanya Sandra dengan nada tinggi. Deasy yang juga masih berdiri di sana, matanya menatap tajam ke arah Angel.
“Aku tidak akan menerima gadis ini sebagai pacarmu. Cepat putuskan!” ucap Deasy dengan marah. Lilac menunjukkan wajahnya sedingin biasanya, dia tidak peduli dengan kata-kata ibunya barusan.
“Kami tidak akan pernah putus. Ibu tidak berhak memaksaku harus putus dengannya,” ucap Lilac langsung meraih tangan Angel dan berjalan ke kamar. Baru beberapa langkah dia berhenti dan berkata lagi kepada ibunya dan Sandra.
“Aku juga ingin memberitahu kalian, bahwa sepanjang hidupku aku hanya mencintai Angel. Dan hanya dia yang memenuhi syarat sebagai calon istriku untuk menjadi Nyonya di mansion ini,” ucap Lilac. Setelah itu mereka pergi ke kamar meskipun ibunya sedang marah.
Mereka berdua masuk ke kamar Lilac. Gadis itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya diam memandang Lilac yang duduk di sampingnya.
“Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu bilang aku pacarmu tanpa bilang-bilang dulu, Ibumu pasti akan marah?” tanya Angel. Lilac hanya menatapnya dan tidak menjawab pertanyaan itu.
“Aku pikir ibumu orang baik, tapi siapa nenek sihir yang berdiri di samping ibumu tadi, apa dia tante kamu?” tanya Angel penasaran. Lilac tertawa terpingkal-pingkal hingga perutnya terasa kram. Pertanyaan Angel membuatnya teringat saat pertama kali gadis itu bertemu Sandra, dia juga mengatakan hal yang sama.
“Dia adalah teman masa kecilku, Sandra. Ibu selalu ingin menjodohkan kami,” ucap Lilac.
“Oh, benarkah? Dia temanmu? Kupikir dia tante kamu, karena tampak lebih tua dari ibumu sih,” ucap Angel jujur.
Lilac menatap gadis itu dengan tatapan penuh kasih sayang.
“Apa kamu lapar? Aku akan membawakan makanan ke sini untukmu, kamu tidak perlu turun untuk makan di bawah dan melihat wajah ibuku,” tanya Lilac dengan lembut. Angel mengangguk sambil sedikit tersenyum.
“Tentu saja aku lapar,” ucap Angel malu-malu. Lilac mencubit pipinya dan kemudian turun untuk memberitahu Bibi Anna agar menyiapkan makanan untuk Angel.
Setelah makanan siap, pria itu langsung membawanya ke atas. Lilac mengabaikan dan melewati saja ibunya dan Sandra yang sedang duduk di sofa.
Deasy benar-benar penasaran Angel itu bagaimana orangnya, sampai mampu membuat Lilac dari orang yang dingin menjadi lembut dan hangat seperti itu. Deasy bertekad untuk menyelidikinya, siapa sebenarnya gadis yang dipacari anak kesayangannya.
“Angel, kamu kenapa? Kenapa wajahmu pucat banget, apa kamu tidak enak badan?” tanya Olivia melihat Angel yang wajahnya sudah pucat. Sedangkan Angel terus memeluk perutnya sendiri sambil menahan rasa sakit.
“Aku baik-baik saja kok, aku ke pantry dulu mau mengambil air hangat untuk aku minum,” ucap Angel kemudian berdiri dengan tidak nyaman. Kakinya tampak melangkah dengan berat dan baru beberapa langkah—
“BUG …” Angel pingsan dan tergeletak di lantai.
Olivia panik dan semua orang bergegas untuk melihat apa yang terjadi. Sesegera mungkin dia dibawa ke rumah sakit. Sedangkan Olivia berlari ke kantor Lilac untuk memberitahu pria itu mengenai Angel. Mengetahui bahwa bosnya ada di ruang rapat, Olivia juga memaksa untuk masuk, tetapi dihadang oleh Marcel.
“Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tahu di mana ini, Ketua sedang rapat di dalam?” ucap Marcel memelototi gadis itu.
“Tolong cepat lapor ke Ketua, Angel tiba-tiba pingsan dan sudah dibawa ke rumah sakit,” ucap Olivia terburu-buru.
“Apa?” ucap mata Marcel dengan mata terpejam dan kemudian buru-buru berlari untuk memberitahu Lilac. Marcel masuk dan berbisik ke telinga Lilac bahwa Angel pingsan. Pria itu langsung berdiri dengan panik.
Baru saja menyelesaikan perkataannya, Lilac dengan cepat pergi dan bergegas melajukan mobilnya. Lilac dengan cepat tiba di rumah sakit dan mendatangi bangsal di mana tempat Angel dirawat. Setelah pria itu bertanya kepada perawat jaga dan dengan cepat lari ke kamar yang dia cari.
Melihat gadis itu yang terbaring lemah, Lilac dengan cepat berjalan ke arah perawat di samping Angel.
“Bagaimana Lily? Apakah Angel baik-baik saja?”
Lily tersenyum ringan dan menjawabnya. “Dia baik-baik saja. Perutnya sakit jadi dia pingsan.”
“Sakit perut? Sakit perut kenapa sampai pingsan?” jawab Lilac sambil mengerutkan kening, heran, dan penasaran.
Perawat Lily tersenyum dan menjelaskan padanya agar pria dingin itu paham.
“Banyak wanita yang mengalami ini saat menstruasi, ini kita kenal juga dengan dismenorea. Dalam kasus perut nyeri dan terkadang sampai pingsan, ini adalah hal yang sangat normal. Anda tidak perlu khawatir.”
“Sekarang aku mengerti,” jawab Lilac singkat sambil mengerutkan kening.
Lily tersenyum dan berjalan keluar. Sedangkan, Lilac menarik kursi untuk bisa duduk dekat dengan ranjang Angel. Dia memperhatikan gadis itu dengan saksama tanpa berkedip sekalipun.
Sesaat kemudian alis cantiknya dengan lembut mengerutkan keningnya, dia melihat Lilac yang menatap matanya. Pria itu tersenyum dan masih terus menatapnya. Lilac tak bisa mungkiri bahwa ketika tadi gadis itu sedang tidur terlihat sangat cantik.
“Hatiku bisa kacau, ternyata kamu diam-diam melihatku yang sedang tidur, kenapa? Kamu tersentuh oleh kecantikanku ini?” tanya Angel sambil tersenyum. Lilac melebarkan matanya sangat karismatik menatapnya dengan penuh kasih. Angel mengalihkan pandangannya dan cemberut, seolah-olah tidak memedulikan pria di sampingnya.
“Apakah kamu paranoid? Apakah kamu masih tersentuh oleh kecantikan yang sepele ini?” tanya Angel lagi tanpa menatap pria itu lagi.
Tok ... tok ... tok ....
Olivia berdiri di luar sambil mengetuk pintu. Dia tidak berani langsung masuk ke dalam setiap kali dia melihat Lilac. Sejujurnya dia takut pada bosnya itu.
“Masuk,” ucap Lilac dari dalam mengeluarkan suaranya. Olivia tersenyum dan masuk menyapanya dengan kaku, dan kemudian bertanya pada Angel.
“Angel, bagaimana kabarmu, apa kamu semakin baikkan? Saat kamu pingsan aku kaget, rasanya jantungku seakan berhenti berdetak,” ucap Olivia. Angel tertawa mendengar ucapan sahabatnya yang terdengar hiperbola.
“Aku sudah jauh lebih baik, Sis. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucap Angel menoleh untuk melihatnya. Kemudian Angel mengatakan sesuatu kepada Lilac dengan terburu-buru.
“Kamu harus pergi ke bagian administrasi dan mengeluarkanku dari rumah sakit ini. Aku ingin pulang, aku tidak suka berada di rumah sakit,” ucap Angel. Lilac agak ragu-ragu pada awalnya.
“Jika Angel kembali ke mansion Anda, Anda dapat dengan mudah merawatnya,” sambung Olivia.