Leon dan Darren sudah mendapatkan baju zirah , pedang , baju sehari-hari , bahan makanan , dan sendal mereka
“Tinggal berapa uang kita?” tanya Leon penasaran karena mereka sudah terlalu banyak berbelanja
Leon takut mereka terlalu boros dan tidak bisa menabung uang untuk kebutuhan mendadak , dia tidak mau bergantung dari sisik naga emas terus – terusan
“Aku tidak tahu , mari kita hitung” ujar Darren
“Jangan hitung di sini!” Ujar Leon
“Aku tahu! Aku tidak bodoh mau menghitung uang di tengah kerumunan orang!” Guman Darren yang gemas dengan Leon
“He he... aku pikir kau mau menghitungnya sekarang” ujar Leon sambil menyengir
“Hitung belanjanya , lalu kurangkan dengan jumlah uang kita di awal” jelas Darren yang membuat Leon langsung mengerti
“Baju zirah kita karena terbuat dari bahan paling bagus habis 500 koin emas , baju sehari-hari 50 koin emas 47 koin perak , sendal kita 33 koin perak , seluruh bahan makanan habis 30 koin perak , pedang kita 150 koin emas 900 koin perak” ujar Leon sambil mengingat seluruh total belanjaan mereka
(Note : 1 koin emas senilai 50 koin perak , 1 perak senilai 100 koin perunggu)
“Jadi semua totalnya 700 koin emas , 1010 koin perak . jumlah awal koin kita 5000 koin emas , 3000 koin perak kalau di kurangi total keseluruhannya 4300 koin emas , 1990 koin perak” ujar Leon
“Cepat sekali kau berhitung” ujar Darren yang hampir tidak bisa menghitung semua jika tidak ada alat bantu
“Wajar saja , ayahku seorang pedagang uang yang dia terima selalu di kasih padaku dan tanggung jawabku untuk mengatur segalanya” ujar Leon senang namun tersirat kesedihan tatkala mengingat ayahnya
“Jangan sedih , kita akan membalas raja Piliph suatu saat nanti” ujar Darren
“Hmm” jawab Leon singkat
Mereka kembali ke toko emas untuk mengambil pisau yang mereka tempah , pengrajin yang melihat mereka datang langsung menyambut mereka dengan senyuman
“Mana pisau kami?” tanya Darren yang sudah tidak sabaran
“Bersabar lah , karena kalian akan sangat takjub dengan karyaku!” ujar pengrajin itu
Pengrajin itu mengeluarkan kain sutra berwarna putih , pengrajin itu membuka kain sutra dan memperlihatkan 2 pisau bermata 2 yang berwarna perak namun terlihat ada bintik-bintik emas
“Kenapa kau tidak membuatkan aku pisau berwarna emas?” tanya Darren
“Aku tidak mau merusak lambang heptagram yang berada di tengah pisau yang berwarna emas!” ujar pengrajin itu ketus
“Wow indah sekali , kenapa di tengah heptagram terdapat mata singa?” tanya Leon
“Aku tidak tahu , aku hanya merasa itu sangat keren” jawab pengrajin itu
“Kenapa yang aku punya malah gambar sayap?” tanya Darren
“Kau terlihat seperti malaikat , aku mau gabungkan singa dan sayap tapi itu butuh dua hari pengerjaan” ujar pengrajin itu
“Ambil lah 500 koin emas ini” ujar Leon yang mengambil sekantong kecil koin emas yang sudah ia pisahkan
“Aku tidak berhak menerimanya , simpan saja! Aku ikhlas , lagi pula anggap saja itu kenangan dari leluhur kalian” ujar pengrajin itu tersenyum
“Terima kasih!” ujar Leon dan Darren tulus
“Terima kasih kembali , oh iya kalian bisa mengalirkan sihir ke pisau ini dan kalian harus berhati-hati pisau ini sangat tajam , kalian bisa menusuk orang semudah menusuk nasi" ujar pengrajin itu
“Oh begitu , kami sangat berterima kasih! Kami akan selalu mengingat dirimu , siapa namamu?” tanya Leon
“Jerry! Jerry Parker!” pengrajin itu memperkenalkan dirinya
“Leon, hanya Leon” jawab Leon yang memperkenalkan dirinya yang membuat Jerry mengangkat alisnya
“Darren , Darren Miyazaki” ujar Darren perkenalan diri
“Kau dari jepang?” tanya Leon dan Jerry bersamaan
“Aku tidak tahu , marga keluargaku seluruhnya bernama Miyazaki kemungkinan besar kakek buyutku bernama Miyazaki” jawab Darren yang membuat Leon dan Jerry mengangguk bersamaan
“Sudah mau menjelang malam , lebih baik kami cepat bergerak karena kami takut kemalaman di jalan” ujar Leon yang bermaksud berpamitan
“Kalian tinggal di mana? Kenapa buru-buru? Bukan dari daerah sini kah?” tanya Jerry
“Kami bukan dari sini , kami datang dari desa pembatas” ujar Darren
“Oh begitu , ya sudah berhati-hatilah . Jangan lupa padaku ketika kalian main ke kota sini singgalah ke tokoku , kita akan berpesta” ujar Jerry
“Baiklah Jerry akan kami ingat” jawab Leon
Leon dan Darren pergi dari toko Jerry , pelayan Jerry Angelina langsung mendekati Jerry
“Kakak , pria yang bernama Leon itu tidak memiliki nama belakang?” tanya Angelina memastikan
“Mungkin saja karena dia bilang ‘hanya Leon’” jawab Jerry
“Aku mendapatkan penglihatan kak” ujar Angelina
Jerry dan Angelina keturunan Fairy , Jerry mewarisi kekuatan ayahnya bisa menciptakan barang dan merasakan perasaan seseorang kalau Angelina mendapatkan kekuatan ibunya yang bisa melihat masa depan seseorang namun hanya sekilas
“Leon akan di kenal seluruh dunia , aku tidak tahu di kenal dalam hal baik atau hal buruk . Setelah dia pergi aku hanya melihat punggungnya dan suara teriakan namanya” jelas Angelina
“Jika itu kenyataan sangat lah bagus , karena aku bisa merasakan kesedihan yang mendalam di dalam hatinya” ujar Jerry
“Oh maka dari itu kau tidak mau menerima bayaran mereka?” tanya Angelina
“Bukan seperti itu Angelina , aku tahu dia orang baik tapi apakah kau tahu jika aku menerima uang yang mereka berikan sama saja aku tamak , karena barang yang mereka kasi akan membuat kita sangat kaya Angelina” jelas Jerry yang membuat Angelina bingung
“Memang barang apa yang dia kasi?” tanya Angelina
“Sisik naga emas , jika di tambahkan sedikit saja ke dalam suatu benda maka benda itu bisa mengalirkan sihir” jawab Jerry
“Benarkah? Waaah cepat kak kita bikin barang yang banyak agar kita cepat kaya” ujar Angelina senang
“Aku hanya mau buat 5 barang karena sisik ini hanya satu , harus berhemat kita tidak tahu apakah mereka kita akan menjumpai lagi sisik ini atau tidak” ujar Jerry
“Oh begitu , baiklah terserah kakak saja . Aku mau memasak makan malam” ujar Angelina yang langsung pergi ke dalam
Namun tak lama Angelina keluar lagi dan menatap kakaknya yang sibuk memotong kecil bagian sisik naga emas . Angelina menghela nafas
"Kak apa kau sadar jika di perbatasan tidak ada kota?" tanya Angelina yang membuat Jerry bekerja dan mulai menatap Angelina
"Kau benar , aku lupa akan hal itu . jadi mereka dari mana dan siapa?" tanya Jerry ke Angelina lebih tepatnya ke dirinya sendiri
"Jika mereka datang ke sini lagi , tanya kan saja kepada mereka" ujar Angelina yang hanya mendapatkan jawaban anggukan dari Jerry
Namun tidak bisa di pungkiri jika Jerry akan tetap kepikiran dan tidak akan fokus kerja , akhirnya Jerry memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan beritirahat lebih tepatnya memikirkan kota di perbatasan
Leon dan Darren masih di dalam perjalanan menuju gua , Leon dan Darren sudah melewati lumpur dan pohon berduri
Leon dan Darren sampai di tepi danau , merek takjub dengan keindahan danau yang memantulkan sinar rembulan dan bintang-bintang
“Itu air terjunnya , bagaimana cara kita naik ke atas dengan barang seberat ini?” tanya Leon
“Apa kita membeli tali?” tanya Darren
“Ada , kenapa?” tanya Leon
Darren tidak menjawab , dia hanya berjalan di tepi danau yang diikuti Leon , lalu mereka melompati batu satu persatu yang akhirnya sampai di belakang air terjun
“Kemarikan baju zirahmu dan peralatan-peralatan berat lainnya” ujar Darren lalu di berikan oleh Leon semua permintaan Darren
Darren mengikat seluruh barang berat mereka berdua di ujung tali , setelah merasa cukup kuat Darren menyuruh Leon memanjat dulu sambil membawa ujung tali yang lain
Darren menyuruh Leon mencari batu yang licin di salah satu batu yang tergantung di pintu gua dan mencari batu-batu besar lalu ikat dengan jarak satu meter
“Apakah panjang talinya akan cukup?” tanya Darren ke Leon
“Aku tidak tahu , aku membeli tali ini sepanjang 120 meter” jawab Leon
“Baiklah , silahkan manjat” ujar Darren
Leon memanjat sulur yang sebelumnya mereka pakai untuk turun , jika turun membutuhkan 29 menit maka naik membutuhkan 30 menit
Leon telah sampai di pintu gua dan langsung melaksanakan perintah Darren , Leon mencari batu besar yang sebesar kepalanya hampir lalu mengikat batu-batu itu
Leon mencari batu yang agak menonjol dan menyangkutkan tali di atas batu , batu di jatuhkan satu per satu oleh Leon
Batu itu berlahan-lahan mengangkat barang belanjaan mereka ke atas tanpa memerlukan tenaga lebih
Darren memanjat untuk masuk ke gua , setelah sampai dia membantu Leon menarik barang belanjaan mereka ke dalam mulut gua , ujung tali lepas begitu saja dan jatuh ke dasar membuat Darren tidak percaya yang di lakukan oleh Darren
“Apa yang kau lakukan?” tanya Darren
“Besok aku akan membuat tangga , biarkan saja di bawah lagi pula batu-batu itu membuat tanda dimana aku harus mengikat kayu” jawab Leon
“Terserah kau saja” ujar Darren
Leon dan Darren mengendong belanja mereka masing-masing dan mulai menelusuri sungai dari gua naga
“Aku lelah” guman Leon untuk ke sekian kalinya yang membuat Darren kesal
“Menuju kota kau mengeluh lelah padahal kau belum membawa apa pun , sekarang kau mengeluh lelah sebanyak 20 kali dalam satu jam , kapan kau tidak akan lelah?” tanya Darren dengan nada kesal
“Kau tahu aku bukan kaum immortal aku manusia biasa!” ujar Leon marah , karena kelelahan maka emosi Leon tidak stabil
“Kau adalah kaum immortal Leon! Lebih baik kita cepat berjalan jadi kita bisa tidur dengan nyenyak malam ini” ujar Darren yang membentaknya
Leon tidak suka dengan cara Darren membentaknya , dia manusia bukan kaum immortal di umur 17 tahun seharusnya dia sudah mengusai sihir dan mengetahui dia dari ras mana
Jangankan kaum dirinya , kaum ayah dan ibunya saja dia tidak tahu! Ingin sekali dia bertiak marah kepada Darren namun Leon sadar harus menyimpan sisa tenaganya agar bisa segera sampai
“Jangan menatapku dengan tatapan dingin” ujar Darren yang tidak di pedulikan Leon
Setelah 30 menit akhirnya mereka sampai ke dalam gua , Leon membangunkan para naga . Naga sangat terkejut melihat Leon dan Darren selamat
“Bagaimana cara kau turun dari sini?” tanya naga perak tanpa basa basi lagi
“Di pintu gua terdapat banyak sulur yang menjuntai , kami menggunakan itu sebagai tangga” jawab Leon
“Kami juga menyeberangi lumpur sihir itu , entah kenapa lumpur itu seperti tidak ada sihir ketika kami menyeberanginya” ujar Darren
“Bagaimana dengan pagar berduri? Seharusnya kalian tidak akan bisa melewati gerbang itu” ujar naga putih
“Oh hutan pohon berduri itu adalah pagar? Hutan itu membukakan jalan untuk kami” ujar Leon
“Sepertinya dugaan perak memang benar adanya!” ujar naga emas
“Dugaan naga perak?” tanya Leon
“Abaikan mereka , aku lihat ada perubahan di badanmu sedikit . Maafkan kami , kami ingin menguji kalian berdua . Apa kalian pantas di latih oleh kami” jelas naga perak
“Oh begitu , kalau begitu aku mau istirahat” ujar Leon
“Aku juga” ujar Darren
“Ya lebih baik kalian istirahat karena besok kalian akan ke bukit kunba” ujar naga putih
Leon dan Darren langsung menuju di tempat mereka masing-masing dan mulai memejamkan mata mereka berdua
Mereka tidur hanya beralaskan selembar kain yang sudah di beli mereka saat di kota dan bantal yang mereka beli
Tidak lupa mereka juga membeli selimut saat di kota , naga-naga yang melihat mereka tidur dengan nyenyaknya
“Kau benar perak , dia lah anak yang di takdirkan” ujar naga putih
“Lebih baik kita bersemedi lagi , aku takut mereka berdua mendengarkannya” ujar naga perak yang di turuti naga emas dan naga putih
Ketika para naga menjadi patung , Leon membuka matanya perlahan tanpa naga itu tahu dia mendengar apa yang di katakan naga putih
‘Anak yang di takdirkan , kalian sama saja seperti Darren yang mengira aku adalah singa yang harus dia ikuti’ ujar Leon dalam hati
Leon menutupi kepalanya menggunakan selimut , dalam diam Leon menangis karena merindukan ayahnya
Menangis karena mempunyai teman yang sangat terpaksa mengikutinya dan mempunyai guru yang juga terpaksa melatih dirinya
Leon tidak sadar ia menangis hingga ketiduran , Leon sudah lelah dengan semua situasi yang di hadapinya saat ini , dia hanya perlu istirahat sejenak.