SANG PHEONIX

1689 Kata
Leon mengerjapkan matanya karena dia terbangun dari tidurnya , Leon duduk lalu melihat ke sekitarnya , Leon melihat Darren masih tidur nyenyak , Leon melihat naga yang masih menjadi patung , Leon meminum air dari sungai “Haaaah.... siapa wanita itu?” Guman Leon Leon mimpi dia melihat wanita yang sangat cantik dan anggun , dalam mimpinya wanita itu selalu memanggil dan menanyakan kabarnya Leon sangat bingung setiap dia menanyakan siapa wanita itu , wanita itu hanya tersenyum lalu dia akan terbangun dari tidurnya Leon berjalan menyusuri sungai itu untuk keluar dari gua , dia memerlukan udara segar saat ini , dia perlu melepaskan seluruh beban pikirannya untuk sementara Leon keluar dari gua dan turun lewat sulur , dia keluar dari balik air terjun . Dia berjalan menuju tepi danau yang penuh dengan rumput hijau Leon merebahkan tubuhnya di rerumputan hijau dan melihat ke arah langit yang masih gelap dan di taburi oleh bintang-bintang Leon memejamkan matanya , ketenangan ini lah yang Leon harap saat ini . Leon berharap dia bisa menikmati waktu sendirinya sebentar saja tanpa kesedihan , kemarahan , dan kerinduan Tanpa sadar Leon ketiduran karena ketenangan dan kenyamanan yang di rasakannya , angin dingin menerpa Leon tapi tidak membuat Leon kedinginan Leon tidak menyadari ada yang mengikutinya siapa lagi jika bukan Darren , Darren mendengar apa yang di katakan Leon saat bangun tadi “Wanita? Beban apa yang kau pikul Leon , kau terlihat sangat tertekan” guman Darren yang melihat Leon dari balik air terjun “Aku hanya tahu ayahmu di penggal atas kesalahan yang tidak kalian perbuat , aku bersumpah Leon di balik air terjun ini akan selalu menjadi sahabatmu walaupun nyawa taruhanku dan aku akan mengurangi seluruh bebanmu secara perlahan” ujar Darren yang menggores tangannya dan meneteskannya ke dalam danau “Dewa/dewi kau lah saksi sumpahku untuk Leon , semoga kau menerima sumpahku dewa/dewi” ujar Darren Darren berjalan ke arah Leon tapi sedikit menjauh dari Leon agar saat Leon bangun tidak melihat Darren , dia juga akan merasakan dingin yang di rasakan Leon Sinar biru keluar menyinari mereka berdua , sesuatu turun dari langit lalu memasuki mereka berdua . Cahaya itu membuat seluruh kerajaan di sekitar hutan kematian melihatnya termasuk raja Piliph “Cahaya apa itu?” tanya raja Piliph yang ke bangun dari tidurnya karena retinanya di terpa cahaya biru Raja Piliph membuka korden jendela dan melihat ke arah hutan kematian , sinar biru itu membuat raja Piliph mengerutkan dahi penasaran Raja Piliph tidak mau mencari tahu jika sudah menyangkut hutan kematian , dia sudah tidak mau lagi melewati hutan kematian Bahkan lewat udara sekalipun karena dia sudah kapok di kejar oleh pheonix saat pertama kali pindah kerajaan “Lebih baik tidur saja , akan aku tanyakan sama peramal” guman raja Piliph yang langsung menutup kordennya Sinar mentari pagi membangunkan Leon dan Darren , Leon melihat sekitar dia mengingat kejadian tadi malam “Aaah ternyata aku ketiduran , lebih baik aku ke atas untuk segera bersiap karena hari ini misi pertamaku “ ujar Leon Leon bangun lalu pergi menuju balik air terjun , Leon melihat tali dan batu yang tergeletak . Leon mengambil tali itu lalu menyeretnya keluar dari balik air terjun “Hei!” panggil Darren yang membuat Leon terkejut “Kau ini mengagetkan saja” ujar Leon “Maafkan aku , apa kau mau aku bantu?” tanya Darren “Boleh , tolong carikan kayu dan ranting yang kuat ya , aku mau membuat tangga” ujar Leon “Baiklah” jawab Darren yang langsung pergi memenuhi ke inginkan Leon “Dia terlihat berbeda” guman Leon “Dewa/dewi aku mohon semoga saja Darren tidak terpaksa bersahabat denganku” guman Leon tiba-tiba “Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu Leon?” tanya seseorang di dalam pikiran Leon “HA? SIAPA ITU?” Teriak Leon panik “HA? LEON? APA ITU KAU? APA PIKIRAN KITA TERHUBUNG? AKU DARREN” Ujar suara yang dalam pikiran Leon dengan panik! “Ha? Tidak mungkin!” panik Leon Leon berlari mencari Darren , begitu pula Darren yang mencari Leon , mereka bertemu di tengah hutan berduri “Leon?” panggil Darren “Apa? Aku panik! Bagaimana bisa kau berbicara lewat pikiran denganku?” tanya Leon “Aku menanyakan hal yang sama!” pekik Darren “Lebih baik kita tanya para naga!” usul Darren “Bagaimana dengan tangganya?” tanya Leon “Nanti saja!” ujar Darren Leon dan Darren berlari menuju gua bahkan mereka tidak sadar lari mereka serang lebih cepat dan mereka memanjat sulur mereka dengan cepat Saat sudah sampai ke tempat naga , sang naga sedang berdiskusi tentang mereka berdua yang membuat mereka berhenti menemui sang naga “Aku tahu dia adalah sang singa , kalian lihat perubahan yang ada pada dirinya?” tanya naga perak “Ya , kami melihatnya . Aku sudah tidak ragu padanya” ujar naga putih “Sekarang sudah saatnya kita mencari tahu siapa dia” ujar naga emas “Apa kalian sudah selesai menguping?” tanya naga perak ke arah Leon dan Darren “Maafkan kami sudah mendengar pembicaraan kalian , kami ke sini hanya ingin bertanya , apa yang terjadi pada kami?” tanya Leon “Ada apa dengan kalian?” tanya naga perak balik “Pikiran kami terhubung , kami bisa berbicara lewat pikiran masing-masing” jawab Darren cepat “Seperti raja dan tangan kanannya” guman naga emas “Apa kau turunan raja?” tanya naga putih ke Leon “Sungguh kalian sangat lucu! Aku sudah bilang ayahku adalah seorang pedagang sedangkan ibuku sudah meninggalkan aku sejak lahir” ujar Leon “Kau belum menceritakan kepada master Leon!” ujar Darren yang membuat Leon teringat jika belum memberi tahu apa pun kepada masternya “Akan aku cari tahu nanti , sebaiknya kalian menjalankan misi kalian yang pertama” ujar naga perak cepat “Baiklah” jawab Darren dan Leon secara bersamaan Leon dan Darren bersiap-siap untuk pergi ke bukut kunba yang berada di tepi utara perbatasan hutan kematian “Butuh 4 hari untuk kita sampai di bukit kunba , aku rasa kita harus membawa beberapa makanan” ujar Leon “Makanan sedikit saja karena kita bisa mencari di hutan untuk makanan tambahan , kita tidak boleh terlalu banyak membawa barang” ujar Darren “Baiklah” jawab Leon Leon dan Darren memakai baju zirahnya , dan membawa pisau dan pedang mereka , mereka membawa 4 bungkus nasi dan 3 buah Mereka berpamitan kepada 3 naga lalu berjalan keliar dari gua naga , kepergian mereka membuat 3 naga menghela nafas . 3 naga berubah menjadi wujud menjadi 3 manusia tampan , 3 naga langsung membagi tugas “Putih pergilah ke kerajaan Serpent , emas pergilah ke kerajaan witch dan mencari tahu semuanya , aku akan pergi ke kerajaan Rion yang runtuh untuk mencari ramalan” ujar naga perak “Baiklah!” jawab naga putih “Berhati-hati lah” ujar emas Mereka semua pergi berpencar , mereka memang sudah berubah wujud menjadi manusia tapi mereka masih bisa mengeluarkan sayap naga mereka , Leon dan Darren sampai pada percobaan mereka pertama , mereka berjumpa dengan pheonix kembali “Mereka lagi?” keluh Leon “Kita harus apa Leon?” tanya Darren “Kenapa kau bertanya kepadaku Darren , dengar! Pheonix terkenal dengan burung abadi walaupun dia mati dia akan bangkit lagi” ujar Leon “Lebih baik kita jangan membunuhnya , dia hanya merasa terancam” ujar Leon yang membuat Darren menatapnya tidak percaya “Apa kau bilang?” tanya Darren “Begini kau akan merasa terancam kan bila orang asing mendekati gua naga?” tanya Leon “Aku akan sangat waspada dan merasa terganggu” jawab Darren “Begitu juga pheonix , kita akan melewati sarang mereka agar mereka tidak merasa terancam lebih baik kita duduk di sini dan membuat mereka menerima keberadaan kita” ujar Leon “Kita akan sampai ke bukit lebih dari 4 hari!” ujar Darren “Tidak masalah! Lagi pula naga tidak memberikan waktu untuk kita , kita hanya di suruh ke sana dan mengalahkan penyihir hitam tidak lupa membawa pedang lors” ujar Leon “Terserah kau saja!” jawab Darren kesal “Darren kau harus belajar rasa simpati karena kau adalah calon tangan kanan raja , jika kau mendapatkan raja yang sangat baik hati dan kau adalah tangan kanan yang kejam itu sangat tidak baik bagi hubungan kau dengan raja” ujar Leon yang menasihati Darren “Apa kau lupa jika aku adalah senjata kerajaan bukan tangan kanannya” ujar Darren “Kau sangat temperamen , itu juga tidak bagus . kau harus tenang Darren karena musuh akan sangat gampang memancingmu , lebih baik kau ubah sifat dan sikapmu” ujar Leon lagi yang membuat Darren memikirkan perkataan Leon “Diamlah! Sekarang pikirkan bagaimana cara kita membuat pheonix menerima kita dan tidak merasa terancam” ujar Darren mengalihkan pembicaraan karena dia tahu dia salah “Kalau kau merasa salah lebih baik kau mengaku saja karena aku tidak caramu mengalihkan pembicaraan” ujar Leon “Baiklah! Aku salah , lalu apa rencana kau” ujar Darren emosi “Ahahaha lebih baik kita makan di sini dan biarkan pheonix melihat kita , kita akan bergerak jika dia tidak merasa terancam , bagaimana cara mengetahui dia sudah merasa terancam?” tanya Leon ke Darren yang membuat Darren menghela nafas “Kau lihat api sedang membara?” tanya Darren yang mendapatkan anggukkan dari Leon “Jika dia sudah tidak membara artinya dia sudah tidak merasa terancam” ujar Darren “Oh begitu , sepertinya hanya satu yang masih tidak merasa nyaman terhadap kita” ujar Leon yang melihat kelompok burung pheonix “Itu adalah rajanya burung pheonix” jawab Darren “Oh begitu , apa kau lapar?” tanya Leon “Iya , kita belum makan dari pagi sekarang sudah siang” ujar Darren “Baiklah kita makan dahulu” ujar Leon Saat Darren dan Leon mau mengambil bekal mereka , mereka mendengar suara yang membuat mereka berhenti mengambil bekal mereka “Apa setelah membicarakan kami , kalian langsung langsung lapar” ujar seseorang yang membuat mereka menatap tidak percaya kepada seorang perempuan yang sangat cantik duduk di pohon
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN