BAB 7

1301 Kata
            Evan menatap Karenina yang tertunduk lesu di atas meja makan. Dia tidak menggigit daging panggang yang sudah tersedia di atas mejanya. Kejadian semalam membuatnya malu sekaligus jijik. Bagaimana bisa Evan dan Abigail berciuman di tengah kerumunan orang meskipun sangat disadari Karenina kalau Evan mencoba melepaskan kegaresifan dan kerakusan Abigail tapi tetap saja dia merasa malu akan kejadian itu seolah-olah dirinya tidak dianggap keberadaannya sebagai istri Evan.             “Makanlah,” perintah Evan dengan suaranya yang dalam sekaligus dingin.             “Aku tidak lapar.” jawab Karenina tanpa mau menatap suaminya.             “Aku tidak tahu kalau Abigail akan melakukan itu di depan umum. Dia mau jatuh dan aku berusaha untuk membantu keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh.” Evan mencoba menjelaskan sesingkat mungkin agar Karenina tidak berburuk sangka padanya. Sebenarnya Evan tidak harus menjelaskan demi Karenina karena toh, dia dan Karenina tidak memiliki hubungan apa pun selain status suami-istri yang hanya dijadikan sebagai status semata. Sayangnya, Evan merasa bersalah pada Karenina.             “Abigail melakukannya dengan sengaja. Dia sengaja mempermalukan aku.”             “Mempermalukan aku, Evan.” Karenina mengangkat wajahnya menatap suaminya. “Apa karena aku berdansa dengan Damian sampai kamu mencium Abigail di sana.” Ada getar samar di suara Karenina.             Evan membatu. Dia hanya menatap Karenina tanpa menyela.             “Abigail sengaja mempermalukan aku dengan melihatmu dan dia berciuman. Setelah berciuman mungkin dia akan mengajakmu masuk ke kamarnya atau melakukan—“             “Cukup!” bentak Evan. “Kamu tidak berhak marah padaku.”             Dahi Karenina mengernyit heran. “Apa kamu bilang?”             “Kamu tidak punya hak untuk marah padaku, Karenina.” ulang Evan. “Sadarlah kamu bukan siapa-siapa dan aku lebih berhak marah padamu daripada kamu. Kamu berdansa dengan Damian tanpa memikirkan betapa malunya aku harus melihat istriku berdansa dengan mantan kekasihnya.”             Hening.                                              Mereka tenggelam dalam perasaan masing-masing.             Evan memilih pergi meninggalkan Karenina yang masih tenggelam dengan perasaannya sendiri.             Dering ponsel Karenina menginterupsinya.             Shopia.             Karenina menghiraukan dering ponselnya dan memilih mematikan panggilan telepon kakaknya itu. saat ini dia tidak ingin mendengarkan pertanyaan Shopia tentang kejadian tadi malam yang mempermalukannya. Dia berdansa dengan Damian dan Evan berciuman dengan Abigail.             Berita selebriti diramaikan oleh poto Evan dan Abigail.             Kesengajaan, pikir Karenina.                                         Ya, kesengajaan Abigail untuk menciptakan skandal dengan Evan. Dia sengaja membuat publik berpikir kalau dirinya dan Evan memiliki hubungan di belakang Karenina, ralat bahkan di depan Karenina.             Karenina menghela napas panjang sebelum bersiap diri membersihkan meja makan dan membereskan rumah seperti kegiatannya sehari-hari dan menenggelamkan diri dengan kegiatan kebersihan. ***             “Kamu mempermalukan diri sendiri dan merendahkan diri sendiri.” Rara membenarkan letak kacamatanya.             Abigail tampak acuh tak acuh dan berpura-pura tidak mendengar ocehan Rara. Dia senang karena bisa menyebarkan poto ciumannya dengan Evan di media sosial dan akun gosip. Dia merasa puas karena malam itu untuk pertama kalinya dia berhasil merasakan bibir Evan di depan Karenina dan banyak orang.             “Ini baru pemanasan, Ra.” ucap Abigail tanpa memandang Rara.             Rara menggeleng ironi. “Abigail, kalau kamu berbuat jahat pada orang, kamu akan mendapatkan kejahatan yang serupa bahkan lebih.”             Abigail menatap Rara dengan tatapan mencemooh. “Omong kosong!”             “Kamu sudah dewasa dan tugasku hanya mengingatkan.”             “Yayaya.”             Bel apartemennya berbunyi. Rara segera bangkit dan membuka pintu apartemennya. Dia melihat pria mengenakan pakaian formal.             “Saya ingin berbicara dengan Abigail.” katanya.             Rara yang merasa bertanggung jawab atas Abigail mempertanyakan pria itu. “Anda siapa?”             “Saya Roger, tangan kanan Pak Evan.” jawab pria itu tenang setenang air danau.             Rara permisi sebentar untuk menyampaikan kedatangan Roger pada Abigail.             Dan kini di sinilah Roger duduk di hadapan Abigail. Wanita labil dengan ego tinggi dan kekagumannya pada Evan yang jelas-jelas tak menginginkannya.             “Kenapa tidak Evan yang datang ke sini?” tanya Abigail yang menuai tatapan sinis Rara.             “Pak Evan tidak ingin menemui Anda.” jawab Roger formal.             Abigail tampak kecewa lalu wajahnya berubah cerah mengingat dia sudah memiliki bukti adanya hubungan di antara mereka.             “Saya ingin menyampaikan pesan dari Pak Evan bahwa Anda harus mengadakan konferensi pers dan mengatakan yang sebenarnya.”             Sebelah sudut bibir Abigail tertarik ke atas. “Aku tidak mau melakukannya.”             “Pak Evan menegaskan kalau Anda tidak mau, Anda akan berada dalam ancaman.”             “Aku tidak takut.” Abigail tak menampakkan ketakutan sedikit pun. Dia malah terkesan meremahkan perkataan Roger.             Hanya Rara yang mendadak cemas dengan perkataan Roger. Pria itu memang tampak tenang tapi dia tahu kalau Roger seakan memiliki loyalitas tinggi pada Evan. ***             “Jadi begitulah hidup Karenina bersama Evan.” Joe, teman dekat Shopia mengatakan sebuah kebenaran pada Damian yang membeku sesaat karena terkejut akan apa yang menimpa Karenina-nya.             “Dia menderita, Damian. Demi keselamatan ibu dan kakaknya, Karenina merelakan dirinya untuk Evan.” Joe menyalakan pemantik api dan rokok di sudut bibirnya menyala. Tato di lengan kirinya menatap Damian angker.             Damian menarik napas perlahan. Dia kira Karenina menikahi dengan Evan karena cinta. Karena, ya, karena memang mereka saling mencintai meskipun Damian sendiri ragu akan cinta Karenina pada Evan. Tangannya terkepal, pelipisnya berkedut.             “Selamatkan Karenina sebelum Evan menyiksanya lebih lagi, Damian.”             Damian menatap Joe. “Kamu yakin apa yang kamu katakan itu benar?”             “Shopia kekasihku. Dia menceritakan semuanya dan kami sudah sebulan ini tidak bertemu karena nyawaku terancam. Evan mengancamku.”             Karenina... Karenina... Karenina...             Nama Karenina terus membayangi Damian seperti denyut nadinya. Bagaimana bisa dia membiarkan Karenina menderita. Dan semua tatapan enggan Karenina padanya adalah ketakutan Karenina akan Evan.             Joe menghampiri Damian, dia mengulurkan leher dan berbisik ke telinga Damian. “Ambil Karenina kembali, Damian.” ***             Malam itu hujan turun lebar disertai petir yang menggelepar dan menakutkan. Karenina menutup gorden yang masih dibuka beberapa saat sebelum hujan lebat turun di malam hari. Sejujurnya, dia ingin sekali kembali bertemu Damian. Dia jelas ingin memeluk Damian dan menumpahkan semua keluh kesah dalam hidupnya yang semakin tak terarah. Sikap otoriter Evan membuatnya muak pada Evan juga pada dirinya sendiri yang lemah dan rapuh.             “Karenina,” Evan memanggilnya dengan suara dingin.             “Ada apa?” Karenina muncul. Dia selalu tampak seperti pelayan Evan dibandingkan seperti istri Evan.             “Buatkan aku kopi.” Titahnya dengan sikap dingin menyebalkan.             “Oke.” Karenina menuju dapur untuk membuat kopi.             Evan merasa snewen dengan mimpi buruk yang diciptakan Abigail. Ciuman itu tidak pernah diinginkannya. Abigail memang wanita aneh yang kurang ajar. Obsesi terlarangnya pada Evan malah membuatnya semakin menjadi-jadi. Belum lagi permasalahan Damian yang masih menginginkan Karenina.             Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini?             Karenina meletakan kopi di atas meja. Dia tidak mengharapkan ucapan terima kasih dari Evan karena ucapan itu tidak akan pernah meluncur dari kedua daun bibir Evan.             Saat Karenina kembali ke kamarnya, Evan mencegahnya.             “Karenina,” cegah Evan.                                    “Apa lagi, Evan?” tanyanya enggan.             Evan tidak pernah merasakan perasaan aneh seperti ini. damian yang masih memiliki ambisi untuk memiliki Karenina membuatnya agak khawatir. Bukan karena dia tidak bisa memerintah Karenina lagi tapi... perasaan ini sulit dijelaskan.             “Ingat, kaau aku melihatmu bertemu Damian. Aku tidak akan segan-segan membunuh ibu dan Shopia.” Ancamnya.             “Aku tidak akan bertemu Damian.” kata Karenina sebelum meninggalkan Evan dalam kekhawatirannya.             “Dan soal ciuman itu,” Evan kembali mencegah Karenina.             “Aku tidak pernah menginginkan mencium Abigail.” Ada perasaan malu dalam diri Evan setelah mengatakan hal demikian.             “Aku tidak berhak marah kan.” Karenina berkata tanpa menoleh pada Evan. “Lakukan saja apa yang kamu mau.” Dia kembali melanjutkan langkahnya.             Entah kemurkaan macam apa yang merasuki Evan hingga dia memukul cangkir kopi keras dan membuat tangannya terluka.             Karenina menoleh dengan perasaan waswas. Dia melihat darah dari jari Evan.             “Astaga, apa yang kamu lakukan.” Dia segera mendekati Evan. Memegangi sebelah tangan Evan yang berdarah dengan ekspresi yang—siapa pun bisa melihat kekhawatiran di sana.             Evan tidak merasakan sakit apa pun. Matanya hanya fokus menatap satu titik. Wajah Karenina. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN