BAB 8

1084 Kata
        Esok paginya wartawan menunggu Evan di depan gedung kantornya. Mereka menunggu klarifikasi Evan karena Abigail baru mengklarifikasi poto ciuman itu. Evan merasa tertekan dengan ulah Abigail yang semakin menjadi-jadi. Dia seperti bukan manusia. Roger menelpon Evan mengatakan kalau para wartawan yang menunggunya.             “Usir mereka.” Titah Evan yang dituruti Roger.             Abigail menelponnya, Evan berniat memblokir nomor wanita itu. sayangnya, sebuah pesan dari Rara membuatnya mengurungkan niat.             Evan, Abigail akan datang ke rumahmu nanti malam. Tolong, cegah dia melakukan hal-hal seperti ini lagi. Aku lelah menghadapinya, Evan. Terima kasih. ***             Damian menyunggingkan senyum sinis saat menatap layar ponselnya. Abigail dan Evan melakukan ciuman di tempat publik. “k*****t!” umpatnya. “Tega-teganya dia mempermalukan Karenina seperti ini.”             Damian merasakan sensasi kebahagiaan, setidaknya kalaupun nanti Karenina berpisah dengan Evan tentulah sepenuhnya bukan karena Damian tapi karena Evan sendiri. Meskipun dia menginginkan Karenina berpisah dari Evan karena dirinya.             Damian mengambil jasnya dan kunci mobil. Dia akan menemui Karenina. Apa pun nanti yang akan terjadi.             Dia menunggu Karenina di depan pintu gerbang yang angker itu sembari meneriaki nama Karenina.             Karenina muncul dengan wajah khawatirnya. “Damian, apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya dengan mata menyapu sekeliling.             “Kamu tahu kan kalau Evan dan Abigail memiliki hubungan affair?” Damian mengecek ponselnya untuk memperlihatkan poto Evan dan Abigail.             “Hentikan, Damian.” pinta Karenina yang melenyapkan senyum cerah Damian.             “Pergilah dari sini. Aku tidak ingin Evan tahu kamu datang ke sini.”             Damian merasakan dentuman yang menyakitkan di dalam dadanya. Dia menatap Karenina yang seakan tidak peduli apa yang Evan lakukan padanya. Karena perasaan yang sulit dijelaskan Damian, dia memeluk Karenina.             Dia selalu merindukan rasa hangat dari tubuh Karenina. Dia hanya ingin memeluk wanita yang tampak tertekan dan tersiksa karena menikah dengan Evan. Damian memeluk Karenina lebih erat lagi.             “Damian, aku mohon lepaskan—“             “Aku merindukanmu.” Lirih Damian.             Karenina sadar air mata mulai meremang. Dia pun merasakan demikian tapi... bagaimana bisa dia harus mengatakan tentang kerinduannya pada Damian saat dia menjadi milik orang lain.             “Kenapa aku tidak bisa melepaskanmu, Karenina? Kenapa kamu begitu sulit untuk dilupakan?”             Karenina akhirnya membalas pelukan Damian. Pria ini terlalu lama tersiksa karenanya dan dirinya sendiri tersiksa akan kehidupannya bersama Evan. Takdir hanya berpihak pada kehidupannya yang buruk.             “Evan bisa membunuh kita kalau dia melihat kita seperti ini, Damian.”             “Aku rela mati dalam pelukanmu, Karen. Aku tidak peduli apa-apa lagi selain cinta kita. Aku akan membawamu pergi dari sini. Aku akan—“             “Tidak semudah itu.” air mata Karenina jatuh membasahi pipinya.             “Kamu hanya perlu yakin padaku.”             Karenina melepaskan pelukan Damian.             “Aku mencintaimu, Karenina. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”             Karenina menggeleng. “Lupakan aku, Damian. Itu permintaanku. Hanya itu.”             Saat Karenina membalikan badan meninggalkan Damian, Damian menarik lengan Karenina dan kembali memeluk wanita yang masih dan akan selalu dicintainya itu.             Evan melihat istrinya dengan Damian berpelukan di depan gerbang rumahnya lewat kaca mobilnya. Seketika dia murka, dia menahan dirinya dari adegan menjijikan yang membuatnya sangat marah. ***             Mata Karenina membelalak ketika melihat mobil sport mewah Evan bergerak mendekatinya. Karenina membeku sesaat sebelum kesadaran mengambil alih dirinya. Dia melepaskan pelukan Damian yang begitu erat padanya.             “Damian, lepaskan!” ujarnya sambil mendorong Damian.             Karenina dan Damian melihat Evan yang keluar dari pintu mobilnya. Dia berjalan dengan gaya angkuh dan tatapan tajam yang mampu menusuk relung hati Karenina.             Evan menggenggam lengan Karenina erat. Tatapannya beralih ke Damian yang tidak terima dengan perlakuan Evan pada Karenina. “Pria macam apa yang datang ke rumah orang dan memeluk istri pria lain?” cemoohnya.             “Pria macam apa yang mencium wanita lain di depan publik?” sindir Damian tajam.             Mereka saling tatap dengan tatapan mengerikan. Karenina merasa takut akan apa yang nanti menimpa Damian.             “Karenina milikku dan dia akan tetap menjadi milikku sampai kapan pun juga. Jangan pernah berharap kamu bisa memilikinya kembali. Dia tidak akan pernah aku lepaskan.” Evan berkata dengan nada tajam, angkuh dan dingin. Tatapannya selalu penuh ancaman.             “Aku tidak akan membiarkanmu terus menerus membuat Karenina terluka.” Damian bersikeras.             “Karenina menyukai semua luka yang aku ciptakan.” Sebelah sudut bibir Evan tertarik ke atas membentuk kurva senyuman sinis.             “Lepaskan Karenina atau aku akan mengambil jalur hukum.”             “Kamu pikir aku takut. Ancamanmu itu seperti makhluk bodoh. Karenina istriku dan yang berhak atas dia adalah aku.”             Karenina seperti piala yang diperebutkan dua tim yang menang dan kalah.             Evan merasa muak dan akhirnya dia membawa Karenina ke dalam rumahnya. Karenina dan Damian sempat saling tatap sekilas sebelum gerbang rumahnya dikunci Evan.             Evan benar. Damian tidak punya hak atas Karenina karena Karenina adalah istri Evan mau bagaimanapun perilaku Evan terhadap Karenina. Ditambah Karenina seakan takut dan patuh pada Evan.             Damian menendang ban mobilnya sendiri sambil mengumpati dirinya yang mirip seperti pecundang. Dia menginginkan peperangan dengan Evan tapi dia tidak memiliki senjata apa pun untuk mengalahkan Evan.             Evan menjatuhkan Karenina di atas lantai. Dia tidak bisa mengendalikan diri saat Karenina dan Damian berpelukan di depannya. Dia mencondongkan tubuhnya ke wajah Karenina. “Kamu tahu konsekuensinya, Karenina?”             Dengan wajah takut dan napas memburu Karenina mencoba mengendalikan ketakutannya pada Evan. “Aku minta ma’af, Evan. Aku benar-benar menyesal. Semua terjadi begitu saja.”             Evan mengangkat dagu Karenina. “Semua terjadi begitu saja?” tanyanya dengan sebelah alis terangkat.             Karenina mengangguk samar.             “Berapa kali kamu sudah bertemu dengan Damian?” Evan bahkan tidak mengedipkan matanya sama sekali saat menatap Karenina.             “Baru kali ini. Dia tiba-tiba datang ke rumah. Aku pikir kamu.”             “Apa kamu masih menjalin hubungan dengannya di belakangku?!” bentak Evan ngeri.             “Tidak, Evan. Tidak. Sungguh!”             Evan melepaskan tangannya dari dagu Karenina. “Terpaksa aku harus mencari Shopia dan membuatnya menderita karena ulah adik kesayangannya.”             Saat Evan berniat berdiri, Karenina mencegahnya dengan memegangi pergelangan tangan Evan. “Jangan, Evan! Biar aku saja yang harus menderita tolong jangan kakakku dan ibuku. Aku mohon.”             Evan melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman tangan Karenina. “Kamu yang memulainya.” Katanya dengan nada rendah.             Karenina berdiri menyusul Evan yang berniat menghubungi anak buahnya untuk menculik Shopia yang keberadaan sebenarnya sudah diketahui Evan.             “Evan, aku mohon. Jangan lakukan itu.”             “Apa kamu sengaja berpelukan dengan Damian?” Evan menatap sinis Kareina.             Krenina kembali menggeleng.                                    Evan menatap Karenina lama seperti menatap barang antik namun ada banyak kerusakan dalam barang antik itu. Dia melemparkan ponselnya di atas sofa kemudian pergi masuk ke kamarnya.             Karenina bernapas lega. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN