Malam saat hujan turun, Roger datang ke rumah Evan. Karenina menyambutnya dengan senyum ramah dan seakan semua baik-baik saja. Seakan rumah tangganya dengan Evan tidak ada masalah apa pun.
“Nyonya, seharusnya Anda tidak perlu repot-repot.” Kata Roger saat Karenina meletekkan cangkir di atas meja.
“Tidak apa. Memangnya, Evan mau kemana hujan-hujan begini?” tanya Karenina sebatas basa-basi. Dia tidak peduli Evan akan pergi kemana saat hujan deras turun atau saat malam menjelang pagi. Ini hanya sekadar topik pembicaraan agar semua orang melihat bahwa dia dan Evan sama saja seperti rumah tangga pada umumnya.
“Ehemmm!” Evan berdeham sembari menggulung lengan kemejanya. “Ayo!” kata Evan berjalan menuju pintu keluar.
“Saya permisi, Nyonya.” Roger sedikit membungkuk tanpa menyicipi kopi buatan Karenina.
Karenina hanya tersenyum dan membalas Roger dengan mengangguk.
Menerobos hujan dengan payung hitam yang melindunginya, Evan bertanya pada Roger. “Apa kamu bilang kalau aku akan menemui Abigail?” tanyanya pada Roger.
“Tidak, Tuan. Saya tidak sempat menjawab pertanyaan Nyonya.”
Evan mengangguk samar.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat yang telah disepakati.
Evan tahu bertemu kembali dengan Abigail adalah hal yang buruk. Dia tidak sepenuhnya menginginkan pertemuan itu tapi demi Karenina. Ya, dia tidak mau Abigail ke rumahnya menemui Karenina dan menginjak harga diri Karenina sebagai istrinya.
“Wanita itu seharusnya masuk ke rumah sakit jiwa.” Evan mengatakannya khas Evan. Dingin, sinis, angkuh sekaligus mengerikan.
***
Abigail menatap wajah dirinya di cermin sembari tersenyum menggoda seakan Evan melihatnya. Dia mengenakan gaun hitam super seksi dengan detail fishnet. Rambutnya digerai berharap Evan akan terkesima dengan penampilannya malam ini.
“Harus diancam dulu baru mau bertemu.” Sindir Rara. Dia menggeleng melihat tingkah rendahan aktrisnya. “Berapa kali kamu menjatuhkan harga dirimu untuk pria itu?” Rara melipat kedua tangannya di atas perut dengan tatapan sinis.
“Ow, apa yang aku lakukan akan mendapat balasan yang setimpal, Ra. Cepat atau lambat Evan akan tergila-gila padaku. Kamu tahu kan istri Evan itu jauh dari standar kecantikan di negara kita. Aku bahkan melebihi standar kecantikan di dunia.” Dia berkata dengan sangat percaya diri yang membuat Rara mual dan ingin muntah.
“Secantik apa pun dirimu kalau kamu tidak menghargai dirimu sendiri itu percuma. Abigail, lihatlah dunia ini dipenuhi pria. Seorang pria yang lebih tampan dan lebih kaya dari Evan banyak. Sadarlah karma masih berlaku di dunia ini.”
“Tapi yang seperti Evan sulit ditemukan. Aku belum pernah menemukan pria sedingin dan semagis Evan. Dia membuatku penasaran.”
“Kamu selalu membayangkannya di tempat tidurmu setiap malam?”
Abigail cekikikan. “Kamu tahu, Ra?” pertanyaan Rara dibalas pertanyaan lagi oleh Abigail.
“Bangunlah, Abigail. Kalau Evan menginginkanmu, dia tidak akan membuatmu serendahan ini. Dia akan datang tanpa perlu diminta dan diancam.”
“Sudah kubilang dia akan tergila-gila padaku. Lihat saja.” Abigail duduk di tepi ranjang, mengenakan high heels yang dipenuhi tali pita berwarna senada dengan gaunnya.
“Kalau dia tidak akan tergila-gila padamu, bagaimana?”
Abigail menatap tajam Rara. “Kalau aku tidak bisa memilikinya, wanita lain pun tidak akan bisa memilikinya.”
“Masalahnya Evan milik Karenina—istrinya yang sah.”
“Persetan dengan wanita itu! Evan tidak mencintai Karenina.”
“Evan jelas mencintai Karenina, dia menikahi wanita itu, Abigail.” Kata Rara dengan nada suara paling melelahkan sekaligus menjengkelkan.
Abigail tersenyum kala mengingat seseorang yang memberikan fakta mengejutkan padanya. Seorang pria bertato yang mengaku sebagai kekasih kakak Karenina. “Evan menikahi Karenina karena dia ingin balas dendam pada Shopia.” Abigail mendongak untuk melihat ekspresi Rara.
Dahi Rara mengernyit heran. “Apa maksudmu?”
“Shopia adalah kakak Karenina. Dia yang menyebabkan kakak Evan mati bunuh diri. Dia menikahi dengan Karenina untuk balas dendam atas apa yang kakak Karenina lakukan pada kakak Evan.” Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas.
***
Evan menatap Abigail dengan enggan. Wanita itu terus-terusan tersenyum pada Evan seakan ada yang salah dengan syaraf Abigail. Mereka duduk di sebuah restoran mewah yang sengaja disewa Abigail khusus untuk makan malam mereka berdua.
“Berhentilah menggangguku, Abigail.”
“Berkat ciumanku para wartawan mengejarmu, Evan.”
Evan bahkan tak punya selera makan dengan wanita yang begitu sintingnya.
“Kamu menyukai ciuman kita?”
“Kenapa kamu begitu gila?” nadanya rendah namun sangat tajam. Umpatan dan tatapan sinis Evan malah membuat Abigail semakin penasaran dengan Evan.
“Karena cintaku padamu lebih besar dari kegilaan ini.”
“Aku sudah memiliki istri.”
“Aku tahu. Tidak masalah, Sayang.” Abigail meraih tangan Evan. Dia menggenggam punggung tangan Evan. “Aku tahu kalau kamu tidak mencintainya. Kamu menikahi Karenina karena dendammu pada kakak Karenina kan?”
Dahi Evan mengernyit tebal. Kalau Abigail tahu soal ini bisa dipastikan dia akan lebih gila lagi mengejar Evan. Wajah Karenina tiba-tiba hadir di benak Evan. Dia masih ingat sentuhan tangan Karenina saat tangannya berdarah. Ekspresi kekhawatiran Karenina melihat darah di tangannya membuat Evan merasakan sesuatu lain. Sensasi aneh. Sensasi yang seketika membuat seluruh bagian tubuhnya memanas.
“Aku mencintai Karenina.” Ujarnya.
Abigail terdiam menatap kecewa Evan. Lalu dengan kaku dia tertawa kecil.
“Aku tahu kamu berbohong. Aku tahu semuanya, Evan—“
“Aku mencintai Karenina bahkan lebih dari yang orang-orang tahu.” Evan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Abigail. “Apa yang kamu harapkan dari seorang pria yang sangat mencintai istrinya?”
Abigail merasa semua yang berada di atasnya runtuh menimpa dirinya. Kalimat itu menusuk ke relung hatinya, menghancurkan hatinya yang dipenuhi bunga. Abigail merasa terluka. namun, luka sebesar apa pun tidak akan pernah membuat nyalinya padam untuk mendapatkan Evan.
“Kamu harus menyudahi ini semua. Kamu tahu aku tidak mencintaimu kan? Abigail bahkan aku tidak pernah tertarik padamu meskipun saat aku mabuk parah dan kehilangan kendali. Aku tidak akan meminta dirimu menemaniku.”
Otak Abigail lumpuh. Ini pertama kalinya Evan berkata sepanjang dan semenyakitkan ini. Matanya berkaca-kaca. “Aku yakin kamu hanya ingin membuatku berhenti mengejarmu karena kamu ingin fokus membalaskan dendammu pada Karenina kan?” harapnya.
“Dendam atau apa pun itu, aku tetap mencintai Karenina. Tak peduli seberapa aku membenci kakaknya, aku mencintai adiknya. Karenina.”
***
Karenina menatap hujan yang turun dari langit lewat jendela di lantai dua kamarnya. Kehangatan pelukan dari Damian menghangatkan tubuhnya yang dingin. Karenina memeluk dirinya sendiri sambil membayangkan dan meresapi pelukan Damian.
Damian mengajak Karenina tidur di apartemen mewahnya. Setiap kali Damian mengajaknya ke apartemen mewahnya, Karenina selalu merasa tidak layak mendapatkan Damian. Pria itu terlalu sempurna dengan segala kebaikannya.
“Aku mencintaimu lebih dari mencintai diriku sendiri, Karenina.” Bisik Damian saat dia mulai menindih tubuh Karenina.
Karenina dan Damian saling bersitatap lama. Sebelum akhirnya Karenina memberanikan diri mencium bibir Damian lebih dulu.
“Buatkan aku makanan.” Suara Evan yang muncul membuat Karenina berjingkat kaget.
Dia menatap Evan beberapa saat sebelum menyadari keberadaan Evan di dalam kamarnya.
“Apa kamu mulai tuli?”
“Kamu sudah pulang?” Karenina heran sendiri karena dia bahkan tidak tahu Evan sudah pulang ke rumah. Dia tidak mendengar suara mesin mobil, gerbang yang dibuka. Satu hal yang membuatnya bisa lupa pada keadaan sekelilingnya.
Dia merindukan Damian. Merindukan pelukan hangat pria itu. Merindukan sentuhan lembut Damian.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Evan curiga.
“Tidak.” Karenina menggeleng. Dia segera meluncur ke dapur.
Evan menatap Karenina hingga punggung wanita itu lenyap dari tatapannya. Evan curiga kalau Karenina mungkin mengenang masa-masa indahnya dengan Damian mengingat tadi siang pria itu memeluknya erat. Sangat erat hingga memunculkan sensasi terbakar di d**a Evan.
***