Evan belum bisa tidur malam ini. Dia memandang gerimis dari teras rumah sambil melipat kedua tangannya di atas perut. Berdiri di sana seakan menantang gerimis. Dia sedang memikirkan Karenina dan ucapannya pada Abigail. Sejak kapan dia jadi puitis seperti itu? dia tidak berniat menyakiti Abigail tapi dia sangat lelah melayani sifat kekanak-kanakkan Abigail.
“Kenapa kamu di sini?” tanya Karenina takut-takut Evan membentaknya.
Evan menoleh pada istrinya. “Kenapa kamu di sini?” alih-alih menjawab Evan malah balik bertanya.
“Aku hanya ingin bilang kalau besok aku ingin bertemu temanku.”
Raut wajah Evan berubah tajam sekaligus muram. “Damian?” tanyanya dengan nada yang lebih dingin dari air hujan di malam hari.
“Bu-bukan. Dia temanku. Teman masa kecilku. Bukan Damian.”
Evan tidak menjawab apa pun. “Kalian mau bertemu dimana?”
“Di sebuah kafe. Kafe dekat dengan kantormu itu... aku lupa namanya.”
“Ajak dia ke sini.” Perkataan Evan sukses membuat Karenina terdiam.
Pria ini memang agak aneh malam ini. Ada yang berbeda dari dirinya. Pertama, dia batal menelpon anak buahnya untuk mencari Shopia. Kedua, dia menyuruh Karenina dengan nada yang tidak kasar. Biasanya dia memakai nada yang agak tinggi. Ketiga, Karenina tahu kalau Evan membatasi ruang sosialnya dengan siapa pun termasuk ibu kandungnya, tapi kenapa dia malah menyuruh Karenina mengajak temannya ke rumah?
“Apa aku tidak salah dengar?” tanya Karenina mendekati Evan ada kemungkinan kesalahan ada pada pendengarannya karena suara gerimis.
“Ajak temanmu ke sini. Itu bukan berarti dia boleh main ke sini kapan saja. Aku hanya ingin memastikan kamu bertemu dengan temanmu bukan Damian.”
“Oke.” Sebagai ucapan terima kasih Karenina berinisiatif membuatkan seusatu untuk Evan. “Apa kamu mau kopi?” tanyanya.
“Tidak.”
Karenina melesat pergi masuk ke dalam rumah.
“Kenapa aku menyuruhnya membawa temannya ke rumah? Apa yang terjadi denganku?” gumam Evan tak mengerti dengan dirinya sendiri.
Beberapa saat lamanya berdiri dan memandang gerimis dalam kegelapan malam, Evan masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat Karenina duduk di sofa dengan secangkir teh hangat dan beberapa camilan ringan.
Mereka saling bersitatap beberapa saat sebelum Evan bertanya. “Kenapa belum tidur?” tanyanya yang membuat Karenina agak kikuk.
“Aku sedang menonton film.”
Evan mengangguk samar. Dia melesat pergi ke kamarnya. Entah bagaimana tapi dia merasa ingin duduk bersama Karenina di sana. Duduk di samping wanita itu, meminum tehnya, menonton film yang Karenina tonton.
“Ada apa ini?” Evan duduk di tepi ranjang. Mencoba mengendalikan diri untuk mendekati Karenina.
Sejam berlalu Evan masih belum bisa tidur. Dia hanya mengganti-ganti posisi dengan mata terbuka. Akhirnya, dia memilih ke ruang televisi melihat Karenina masih menonton sebuah film romance berlatar musim dingin di London. Dia duduk di sebelah Karenina dengan jarak sekitar 10 senti.
Karenina menatap Evan dengan tatapan heran.
“Apa itu film percintaan?” tanyanya tanpa menatap Karenina.
“Ya,” sahut Karenina.
“Kenapa orang-orang suka film semacam ini sih?” omel Evan menoleh pada Karenina.
“Kalau kamu tidak suka kenapa masih duduk di sini?”
Evan menelan ludah. “Ini rumahku, aku berhak duduk dimana pun.”
“Ya, ini rumahmu.” Karenina kembali fokus menatap layar televisi.
Evan kembali fokus pada satu titik. Satu titik yang malam ini membuatnya kesulitan untuk tidur. Karenina yang merasa heran dengan Evan menoleh ke arahnya dan mendapati Evan menatapnya.
Mereka saling bersitatap dalam atmosfer keheningan yang kaku. Karenina takut Evan sedang berada dalam sesuatu yang mungkin mengarah ke hal yang kotor semacam ingin menidurinya malam ini, ditambah gerimis yang tak henti.
“Kenapa?” tanya Karenina.
Evan menggeleng. Evan memilih bangkit dan kembali ke kamarnya. Karenina menatap Evan hingga dia lenyap dari pandangan matanya.
“Kenapa dia?” gumam Karenina.
Evan masih belum tidur hingga pukul 2 pagi. Dia turun ke bawah untuk memastikan Karenina sudah tidur. Dia melihat Karenina terbaring di atas sofa dengan televisi yang masih menyala. Matanya terpejam. Evan ke kamar Karenina untuk mengambil selimut dan menyelimuti istrinya. Dia menarik selimut sampai ke bahu Karenina.
Evan menatap Karenina selama beberapa saat.
“Astaga!” Evan memalingkan pandangannya. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi malam ini. menyelimuti Karenina? Apa pedulinya pada adik wanita yang telah membuat kakaknya mati bunuh diri.
***
Evan melamun saat dia berada dalam ruang meeting. Keadaan sekelilingnya seakan sepi senyap. Suara-suara orang-orang yang berdiskusi mengenai proyek terbaru mereka tidak terdengar di telinga Evan.
“Bagaimana, Pak Evan, apakah Anda setuju?” tanya seorang pria berkepala botak.
Evan masih terdiam dengan tatapan kosong mengarah pada seorang wanita yang duduk tepat di depan papan yang menjabarkan gambar-gambar, angka-angka dari infokus. Wanita itu tampak malu-malu seolah Evan sedang mengagumi kecantikannya.
Roger yang berdiri di sebelah Evan berbisik. “Tuan,” bisiknya yang membuat kesadaran Evan kembali.
“Apa?” tanya Evan seperti orang yang baru saja bertamasya ke dunia Alice In Wonderland dan tiba-tiba dia kembali ke dunia nyata..
Orang-orang saling memandang satu sama lain. Baru kali ini Evan tampak seperti pria linglung. Tidak mendengarkan isi percakapan meeting mereka. Evan selalu fokus. Bahkan dia bisa menyela atau memojokkan siapa saja kalau ada yang tidak cocok atau kalau Evan sebut ‘terlalu ngawur’ dalam pembahasan proyeknya.
Sepertinya otakku mulai dikendalikan Karenina.
“Oke, kita tutup dulu meeting hari ini. Roger siapkan waktu lagi untuk meeting minggu depan.” Katanya seraya bangkit dan pergi menuju wastafel.
Evan mencuci wajahnya dengan harapan Karenina lenyap dari pikirannya. Dia tidak pernah memikirkan wanita sampai mengabaikan pekerjaannya. Wanita selalu ada dalam daftar terakhir. Bahkkan Abigail yang dulu muncul sebagai wanita kelas atas pun tak pernah membuat Evan tertarik. Baginya, wanita selain ibunya adalah tidak penting. Berapa banyak lelaki yang hancur karena wanita.Wanita-wanita di sekelilingnya mendekatinya hanya karena apa yang dimilikinya. Tapi Karenina bahkan tak pernah berusaha menggodanya hanya untuk sekadar memutus dendamnya pada Shopia.
Mungkinkah ini pertanda dia mulai mencintai Karenina?
“Tidak mungkin,” Evan menggeleng.
“Tuan,” Roger muncul. Dia mengkhawatirkan keadaan Evan. “Apa Tuan sakit?” tanya Roger.
Evan menatap Roger. “Apa kamu punya kekasih?”
Mata Roger terbelalak. Pertanyaan macam apa ini? Pertanyaan macam apa yang ditanyakan oleh bosnya yang dingin dan tak pernah tertarik dengan topik percintaan.
“Maksud Tuan?” Roger bertanya hati-hati.
“Siapa kekasihmu saat ini?”
“Kekasihku seorang penyanyi kafe.” Akhirnya Roger mulai memberanikan diri menjawab pertanyaan bersifat pribadi.
“Dimana pertama kali kalian bertemu?”
Roger mulai salah tingkah. Dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Kenapa Tuan menanyakan ini?”
Sebenarnya dia pun heran sendiri kenapa dirinya malah menanyakan hal semacam ini pada Roger.
“Jawab saja.” pinta Evan mulai penasaran akan kisah cinta orang-orang di sekelilingnya.
“Aku pernah datang ke kafe tempat dia bernyanyi. Dia punya suara yang bagus dan aku mulai sering mengunjungi kafenya. Lalu, akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya sebelum dia bernyanyi dan meminta dia menyanyikan lagu kesukaanku. Dia menatapku sampai dia selesai menyanyikan lagu yang aku suka dan setelah dia turun panggung aku mendekatinya dan menyuruhnya duduk di mejaku. Kita mengobrol dan ya begitulah.”
“Kenapa Tuan menanyakannya?”
“Tidak. aku hanya merasa aneh saja.” Evan menatap Roger beberapa saat seakan ingin menanyakan hal lain. “Apa gejala jatuh cinta adalah selalu memikirkannya?”
Roger ternganga. “Apa Tuan sedang jatuh cinta? Tuan jatuh cinta pada siapa? Karenina atau wanita lain?”
“Ah, tidak. Aku hanya bertanya saja.” lalu Evan melesat pergi emncoba mengendalikan perasaannya yang mulai bergejolak dan sensasi aneh di dadanya saat dia mengingat Karenina.
***
Karenina sedang memikirkan selimut yang semalam menyelimutinya. Dia tidak yakin membawa selimut dari kamarnya malam itu. Lalu siapa yang menyelimutinya. Dia sempat menanyakan itu pada Evan.
“Aku tidak menyelimutimu. Kamu sendiri yang mengambilnya sebelum kamu tidur kan?” dia menjawab tanpa menatap wajah Karenina seakan ada yang ditutupinya.
“Karenina!” teman masa kecil Karenina datang. Dia melambaikan tangan dengan ceria. “Apa kabar?” mereka saling berpelukan.
“Aku baik, Sonya.”
“Apa Evan ada di rumah?” Sonya bertanya dengan ekspresi yang seakan dia membawa misi pada Karenina.
“Dia di kantor.”
“Bagus!” seru Sonya.
“Ya, dia memang lebih baik tidak ada rumah.”
“Astaga, aku melihat poto ciumannya dengan Abigail. Ma’afkan aku, Karenina.”
Karenina tersenyum getir. “Tidak apa. Itu hanya sebuah kesalahan. Mereka tidak benar-benar melakukannya.” Karenina malu sendiri. Dia merasa sedih sekaligus malu bagaimana perasaan ibunya kalau sampai dia tahu meskipun sang ibu tahu kalau Evan menikahinya bukan karena cinta.
“Damian menitipkan sesuatu untukmu.”
***