Sebuah cincin berlian sebening wajah Karenina.
Karenina menatap cincin yang sedang digenggamnya. Cincin ini adalah pemberian Damian yang Damian titipkan pada Sonya.
“Karenina!” suara Evan mengejutkannya. Karenina buru-buru memasukkan cincin beserta boxnya ke dalam laci sebelum Evan masuk ke kamarnya.
“Apa kamu tuli?” tanya Evan sinis.
“Aku dengar.”
“Kenapa tidak menyahut?”
Karenina membuka kedua daun bibirnya tapi tak ada satu kata pun keluar dari sana.
“Malam ini ada acara di rumah kolegaku. Kita harus ke sana.” Evan melipat kedua tangannya dengan gaya angkuh. “Kamu mencemaskan sesuatu?”
“Apa di sana ada Damian atau Abigail. Aku tidak ingin dipermalukan mereka lagi.”
Sebelah sudut bibir Evan tertarik ke atas. “Aku tidak tahu pasti.” Evan mendekati Karenina. Dia duduk di tepi ranjang di sebelah Karenina.
Karenina menatap heran Evan. Dia agak takut Evan melakukan sesuatu padanya secara tiba-tiba meskipun sampai sekarang pria itu belum sekalipun menyentuhnya. Tapi dia masih merasakan sentuhan erat tangan Evan saat Evan meraih pinggangnya. Karenina juga masih merasakan gesekan hangat dari tubuh Evan saat mereka berdansa dulu.
Hening.
Karenina menundukan wajahnya dan Evan menatap Karenina tanpa mengedipkan matanya. Wanita ini akhir-akhir ini menyita banyak pikirannya. Tatapan mata Evan terjun ke arah bibir Karenina. Bibir itu berwarna pucat. Tak ada polesan lipstik sama sekali tapi kenapa hal itu malah membuat gairah Evan untuk menikmati bibir Karenina.
Berengsek!
Evan mengumpati keinginannya.
Dia bangkit berdiri. “Jangan mengenakan gaun yang terbuka di bagian atas.”
Karenina mendongak.
Evan tampak sedikit salah tingkah. “Kamu dengar kan apa yang aku katakan?”
“Aku mendengarnya.”
“Oke.” Dia melesat keluar dari kamar Karenina.
***
“Kamu menambah masalah antara Karenina dan Evan.” Shopia menenggak alkihol langsung dari botol.
Pria bertato yang memberitahu Damian dan Abigail tentang pernikahan balas dendam Evan meringis. Entah dia meringis atau tersenyum karena yang jelas dia mabuk dengan mata merah, wajah merah dan meracau tak keruan.
“Damian masih sangat mencintai Karenina, Sayang.”
Shopia menoleh pada Joe sebelum menenggak habis alkohol langsung dari botolnya.
“Dia sangat terluka saat aku menceritakan apa yang Evan lakukan pada Karenina.”
“Karena aku Karenina harus kehilangan Damian. Aku sudah memisahkan mereka berdua. Aku merasa bersalah pada adikku dan Damian.” matanya mulai meremang.
“Jangan dipikirkan. Mereka akan kembali bersatu. Damian akan merebut kembali Karenina dan Evan akan bersama Abigail. Tapi...” Joe mengernyitkan dahi seakan sedang berpikir keras. “Apa Evan mau dengan Abigail? Aku kira dia akhir-akhir ini lebih agresif pada Evan.”
“Abigail seperti wanita yang tak memiliki harga diri. Menurutku dia akan menjadi bintang yang paling bersinar kalau dia bisa menghargai dirinya sendiri. Dia punya masa depan yang cerah kalau dia fokus pada karirnya. Fansnya mulai meninggalkannya setelah poto ciuman Abigail dengan Evan.”
“Abigail itu sinting! Dia tidak peduli dengan karirnya tapi dia akan selalu peduli pada Evan. Sayang, menurutmu apakah Abigail dan Evan sudah melakukan hal yang lebih dari hanya sekadar ciuman?”
“Aku tidak tahu. Meskipun Evan terkenal sebagai pria dingin tapi semua bisa saja terjadi. Kecuali—“
“Kecuali apa?”
“Kalau Evan mencintai seorang wanita. Maksudku, siapa pun wanita itu selain Abigail dia pasti bisa menolak Abigail meskipun mereka berada dalam satu kamar hotel.”
“Abigail jauh lebih cantik dari Karenina.”
Pernyataan Joe membuat Shopia menatap tajam kekasihnya. “Apa maksudmu?”
“Aku tidak punya maksud apa-apa. Aku hanya berbicara soal fakta. Abigail memang lebih cantik dari Karenina tapi bukan berarti karena kecantikan Abigail, Evan mau bersama Abigail kan.”
“Sewaktu kecil, Karenina adalah anak tercantik yang pernah aku lihat. Aku terkadang iri padanya. Dia bisa menarik semua perhatian orang-orang yang melihatnya saat dia kecil dulu. Tapi, sejak kejatuhan keluarga kami, dia berubah. Kecantikannya mulai tersembunyi. Sinar cerah dari wajahnya terenggut. Dia bekerja keras demi bisa menghidupi kami, dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.”
Pipi Shopia basah karena air mata.
***
Karenina mengganti gaunnya hingga dua kali karena Evan merasa gaun yang dikenakannya cukup terbuka dengan belahan bagian bawah yang panjang hingga mencapai paha Karenina. Kali ini Karenina menggunakan gaun yang benar-benar tertutup. Tak ada belahan dimana pun. Semua menutupi tubuh Karenina namun Evan masih merasa tidak nyaman karena gaun itu tetap memperlihatkan lekuk tubuh Karenina.
“Tidak ada gaun lagi. Ini yang paling tertutup.” Karenina hampir putus asa karena keinginan berlebihan Evan.
Evan mengeluarkan napas dengan kasar. Dia masuk ke kamar Karenina dan mengecek semua gaun di lemari Karenina. “Kenapa tidak ada gaun yang benar-benar tertutup tanpa memperlihatkan lekuk tubuhmu!” protes Evan.
“Kamu yang memilih dan membelikannya.” Kata Karenina mengingat Evan kalau semua gaun yang dimilikinya adalah pilihan dari Evan.
Evan terdiam sesaat, tersadar akan perkataan Karenina. “Oke, ayo kita berangkat.” Katanya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Saat sampai di tempat pesta, Evan dan Karenina tahu akan bisik-bisik orang-orang di sana tentang mereka. Bukan. Bukan tentang mereka tapi tentang ciuman Evan dan Abigail. Evan sempat memperhatikan ekspresi istrinya yang tertunduk malu saat beberapa wanita berbisik dan membicarakan skandal Evan.
“Aku merasa tidak nyaman.” ucap Karenina.
“Sebentar saja.” kata Evan tanpa keangkuhannya. Dia agak lembut malam ini.
Mereka menyapa kolega Evan. Karenina meminta ijin untuk pergi ke toilet saat Evan berbincang serius dengan koleganya.
Saat Karenina berjalan menuju toilet dia berpapasan dengan Damian. Mereka saling menatapa dalam keheningan seribu dongeng. Ketika tepat berada di samping Karenina, Damian meraih pergelangan tangan Karenina.
“Ikut aku.” Katanya.
Mereka pergi ke lantai dua dan masuk ke salah satu kamar.
“Kenapa kamu membawaku ke sini?” tanya Karenina dengan pandangan mata waspada.
Damian melepas jas yang membalut tubuhnya. “Duduklah.” Pintanya.
“Tidak. Evan akan mencariku kalau terlalu lama.”
“Aku tahu semua tentang pernikahanmu dengan Evan, Karenina. Aku tahu kalau dia tidak mencintaimu dan begitupun kamu.” Dia mendekati Karenina. “Hiduplah bersamaku. Tinggalkan semua kesengsaraan ini. Aku akan membahagiakanmu.”
Karenina menggeleng. “Ma’afkan aku, tapi aku tidak bisa.”
“Kenapa? Kenapa tidak bisa? Kita bawa Shopia dan ibumu. Kita bawa mereka ke negara yang jauh dari sini. Ke tempat yang tidak bisa Evan jangkau.”
Damian menempelkan kedua tangannya pada kedua pipi Karenina. Karenina merasakan kehangatan telapak tangan Damian.
“Kamu masih mencintaiku kan?” tanya Damian menatap intens mata Karenina.
Karenina tidak ingin menangis. Dia tahu akhir-akhir ini dia memang cengeng apalagi setelah dia sering melihat wajah Damian.
Karenina menggeleng. “Aku mencintai Evan.”
Raut wajah kecewa Damian melukai Karenina. “Ma’afkan aku. Aku sudah tidak mencintaimu lagi.”
“Kamu berbohong.”
“Aku akan mempertahankan pernikahanku dengan Evan apa pun yang terjadi. Jangan melakukan hal yang sia-sia, Damian. Pikirkan saja hidupmu. Tak perlu mengkhawatirkanku. Aku bahagia bersama Evan.”
Damian menggeleng. “Kalau kamu mencintainya kamu tidak akan mengatakannya dengan menangis di depanku.” Damian melihat buliran bening jatuh di pipi Karenina.
Dia mencium bibir Karenina. Lama. Sangat lama hingga Karenina menganggap itu adalah ciuman terpanjang dengan Damian tanpa jeda. Kemudian Damian melepaskan beberapa kancing kemejanya dan melepas bagian atas gaun Karenina. Dia kehilangan kendali. Dia merindukan Karenina. Merindukan kebersamaan mereka.
“Jangan, aku mohon. Aku tidak ingin melakukan apa pun, Damian. Aku takut Evan akan tahu.” Kata Karenina saat Damian mulai menyentuh bagian belakang tubuh Karenina.
“Tenang saja, rumah ini adalah rumahku. Aku sengaja mengadakan pesta atas nama orang lain. Ini adalah rumah yang kubeli agar aku dan kamu bisa bertemu, Karenina.”
“Evan, akan curiga kalau aku berlama-lama—“
“Aku menyuruh orang-orangku untuk membuatnya sibuk.”
“Aku rasa aku—“
“Jangan menolakku, kumohon.”
Damian mencium leher Karenina.
Pintu terbuka dengan mudahnya. Wajah dingin yang murka penuh amarah muncul.
Karenina dan Damian terkejut.
Senyap.
Tidak ada yang berkata apa pun.
Karenina segera melepaskan tubuhnya dari Damian dan membenarkan gaun tertutupnya dengan tangan gemetar.
Evan memukul Damian berkali-kali. Karenina histeris dia berusaha mencegah Evan melakukan pemukulan pada Damian yang terbaring lemah dengan darah yang keluar dari hidungnya. Sayangnya, Karenina malah mendapat pukulan tak sengaja dari Evan hingga Karenina tersungkur.
***