Sebuah tamparan keras melayang di pipi Karenina. Hening. Karenina memegangi pipinya yang perih dengan suasana hati yang dipenuhi duka. Di kamar lantai dua, Damian nyaris menjatuhkan gaunnya. Evan datang mengamuk seperti seorang pejantan yang marah karena betinanya diambil. Wajah Damian terluka dipenuhi darah. Evan menarik Karenina dan membawanya pulang. “Aku benar-benar marah padamu, Karenina.” Evan berkata di depan wajah Karenina. Setiap patah katanya keluar dengan penekanan yang terasa ngilu di telinga Karenina. Karenina tidak membela diri. Dia pun merasa bersalah pada Evan. Ya, dia merasakan hal demikian meskipun Evan mungkin tak mencintainya. Tapi ini seperti pukulan terhadap harga diri Evan sebagai suaminya. “Apa kamu pe

