Ocha terus berjalan sambil melipatkan kedua tangannya di depan d**a. Ia takut kalau nantinya akan ada kejadian tak terduga lagi yang menimpanya. Seperti yang tadi-tadi, di mana karena kejadian-kejadian demikian, dirinya harus merasakan ketakutan yang teramat sangat. Belum lama setelah pemikiran buruk itu terlintas di benaknya, keburukan itupun menimpanya. Ketika dirinya sampai tepat di bawah sebuah pohon yang lumayan besar, hampir saja kepalanya menjadi korban atas jatuhnya salah satu dahan pohon tersebut. Ia masih beruntung. Ia masih diselamatkan oleh sang pencipta. Kalau saja ia lebih cepat melangkah satu langkah ke depan, mungkin nasib buruk itu benar-benar akan menimpanya. Hal pertama yang ia pikirkan ketika melihat dahan pohon yang terjatuh adalah tentang kenapa bisa terjatuh. Angin

