Seperti menyaksikan kematian diri sendiri, dan kematian itu disebabkan oleh dia sendiri pula. Imam merasakan sesuatu yang aneh. Tentang perasaan. Sebuah perasaan yang aneh. Entah sedih, senang, takut atau apa, ia tak tahu. Kalau disebut senang, apa mungkin membunuh makhluk yang wujudnya mirip dengan dia sendiri itu disebut kesenangan? Kalau dianggap sedih, bukankah harusnya ia tidak bersedih ketika kenyataannya, satu musuh sudah berhasil ia kalahkan? Takut, kah? Tapi apa yang ditakutkan? Ketika Imam memandang terus-terusan ke arah sosok yang ia bunuh itu, lambat laun ia melihat sesuatu yang menakjubkan. Kepala dan tubuh yang sudah terpisah itu secara perlahan mulai menghilang dan berubah menjadi asap. Ia tak habis pikir dengan semua itu, namun ia hanya bisa menyaksikannya tanpa melakukan

