"Aku akan pergi sebentar,” ucap Akai. Saat itu sudah menjelang sore, Osaka juga sudah benar-benar pulih. "Ke mana?" tanyanya. "Ke tempat kerjaku." "Aku ikut!" "Hah? Ikut?" Osaka mengangguk cepat. "Ya, aku takut sendirian di sini. Dan juga, aku bisa membantumu. Sebagai imbalan Karena mengizinkanku tinggal." Akai mengerjap mendapati senyum kaku Osaka dan bahkan gerak-geriknya mengingatkan laki-laki itu pada si adik. “Ya sudah. Sana ganti baju. Sekalian pakai syal dan sarung tangan.” Yang benar saja, adikku sudah lama tiada, batinnya sembari bangkit dan bersiap keluar. Gadis bersurai panjang hitam itu terdiam sejenak. “Aku baru sadar, sejak kemarin di sini tidak ada orang selain Akai-san.” Pria itu berhenti, menjawab tanpa membalik badan. “Mereka sudah tidak ada karena kecelakaan.”

