Talia berdiri di sisi ruang bersalin, masih mengenakan jas dokternya lengkap dengan masker yang sudah ia turunkan ke dagu. Tangannya yang terbiasa tangguh kini sedikit gemetar ketika melihat pemandangan yang terbentang di hadapannya. Raisa yang terbaring lelah namun bersinar, dengan bayi mungil di dadanya dan Khalil yang duduk di sisi tempat tidur, menggenggam tangan istrinya dan sesekali mencium kening keduanya dengan penuh cinta. Ia menelan ludah perlahan, berusaha menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba menghantam dadanya. Perasaan yang tak pernah ia undang tapi kini menyelinap begitu saja—iri. Iya, Talia iri. Bukan karena ingin menjadi Raisa. Tapi karena ia ingin merasakan hal yang sama: dicintai tanpa keraguan, ditemani dalam saat-saat paling lemah, dan dipandang dengan mata penuh ra

