Nayla duduk di ruang kerjanya pagi itu, menatap layar laptop yang menampilkan dokumen hasil sidang terakhir dengan sorot mata tajam dan penuh determinasi. Ia sudah terlalu lama menahan emosi, mencoba bersabar, dan membiarkan hukum berjalan pada jalurnya. Tapi semakin hari, ia semakin sadar bahwa Arman bukan hanya keras kepala, tapi juga nekat dan penuh tipu daya. Lelaki itu tak tahu malu, masih bertahan di rumah yang secara hukum kini sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengannya. Putusan sidang bulan lalu begitu jelas: rumah itu—yang berdiri megah di kawasan elit, berarsitektur modern minimalis dengan sentuhan kayu hangat di tiap sisinya—adalah hak milik Nayla sepenuhnya. Pengadilan mencatat setiap bukti pembelian bahan bangunan, cicilan tanah, hingga invoice dari kontraktor yang semuan

