Langkah Luna sempat terhenti. Sepatunya yang semula bergerak mantap di atas lantai semen basemen kini melambat, nyaris tak bersuara. Dadanya berdebar tak karuan. Ia berusaha memastikan pandangannya tidak salah. Karena pada detik itu, matanya menangkap pemandangan yang tidak pernah ia sangka akan ia lihat—bahkan dalam mimpi buruk sekalipun. Jarak antara tempatnya berdiri dan pojok parkiran cukup jauh, tapi penerangan dari lampu neon di atas cukup terang untuk menyingkap wajah-wajah di sana. Dua orang, berdekatan dengan tubuh saling menempel. Sang pria membungkuk sedikit, wajahnya menekan wajah sang perempuan yang tampak menahan tubuh itu dengan kedua tangannya yang terangkat—seolah ingin menjauh tapi tak bisa. Luna menyipitkan mata. Jantungnya berdetak makin keras. Langkahnya tertahan di

