Pecah

2222 Kata

Suasana di rumah Nayla sore itu sebenarnya hangat. Aroma masakan yang sedang dimasak oleh Nayla dan Mira memenuhi ruangan, menyatu dengan suara tawa kecil mereka yang sesekali terdengar dari dapur. Lampu-lampu gantung menyala temaram, menciptakan kesan nyaman di ruang tamu yang biasa mereka pakai untuk berkumpul. Namun, kehangatan itu hanya berlaku di satu sisi rumah. Di sisi lain, tepat di area depan, ketegangan membentuk udara yang berbeda. Sesuatu yang begitu kentara ketika Luna—dengan mata tajam dan ekspresi wajah yang jelas tak bersahabat—berdiri di ambang pintu, menatap Talia yang baru saja melangkah masuk. "Dasar pelakor." Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Luna, pelan, tapi tajam, nyaris seperti desisan ular yang menyengat. Dan meskipun tak diucapkan dengan nada tinggi, na

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN