Raisa menghela napas panjang. Udara Kuala Lumpur yang hangat tak mampu mengusir beban yang tiba-tiba menyeruak ke dadanya. Ia baru saja menutup telepon dari Mira dan masih tenggelam dalam pikiran ketika suara Khalil menyadarkannya dari lamunan. Ia menoleh pelan ke arah pintu balkon, tempat sosok tinggi besar suaminya berdiri dengan wajah santai, menyandarkan diri pada kusen pintu sambil menyeringai kecil. "Kenapa?" tanya Khalil dengan nada lembut, matanya menatap istrinya yang tampak terpaku dan gelisah. Raisa tersentak pelan. Ia baru menyadari kehadiran Khalil di kamar itu. "Oh, Abang udah pulang ya?" ucapnya cepat, lalu berdiri dari kursi rotan tempatnya duduk sejak tadi. Seperti biasa, ia menyodorkan tangan untuk disalami, dan Khalil menyambutnya dengan hangat. Setelah itu, seperti ri

