Pagi itu, suasana di bandara Haneda agak sibuk, tapi tetap teratur seperti biasa. Mereka berlima duduk di dekat gate keberangkatan, masing-masing menenteng kopi panas dan roti isi halal dari toko kecil di lobi terminal. Rafael, seperti biasa, duduk manis di stroller-nya sambil mengunyah biskuit bayi dengan tampang puas. Sementara menunggu panggilan boarding, obrolan pun berlanjut ke topik yang tidak sengaja terus saja muncul: Daichi. “Aku masih kepikiran, loh. Dia tuh kayak... karakter drama Jepang tapi Muslim. Gimana bisa?” kata Mira, memeluk jaketnya erat karena AC bandara yang keterlaluan dinginnya. “Gak usah sok kaget,” Nayla menanggapi santai sambil membuka bungkus sandwich-nya. “Orang Jepang tuh banyak yang diam-diam nyari makna hidup. Agama datang bukan karena warisan, tapi karen

