Luka

2154 Kata

Jason membanting ponselnya ke sofa dengan napas berat. Hatinya sudah penuh. Sudah tak sanggup lagi menelan amarah yang terus membuncah tiap kali Sonia muncul di media sosial dengan drama-drama murahan yang sengaja disusun untuk menarik simpati publik. Semakin hari, semakin menjadi. Caption-caption menyedihkan, foto-foto lama mereka berdua yang diedit dengan nuansa kelabu, bahkan sesekali video dirinya menangis diiringi musik galau dan kutipan tentang pengkhianatan. Dan Jason tahu betul arah dari semua itu—bukan sekadar luapan perasaan yang tak tertahan, tapi strategi. Strategi untuk menjatuhkan dirinya dan, lebih parahnya, menyudutkan Talia. "Berhenti bikin drama," gumamnya tajam, seperti menyumpahi udara kosong. Sonia bukan orang bodoh. Ia tahu caranya bermain narasi. Ia tahu bahwa di d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN