Raisa menunduk dalam diam di dalam mobil yang terhenti. Ia menggenggam erat tas di pangkuannya, menahan gemetar yang pelan-pelan merayap ke seluruh tubuhnya. Dari kaca spion, ia bisa melihat Akbar masih berdiri beberapa langkah dari mobil, bercakap-cakap santai dengan sopir mereka. Pak Darto, sopirnya, jelas berusaha bersikap sopan, menahan situasi agar tidak lebih buruk. Tapi Raisa tahu persis bagaimana Akbar. Ia bukan tipe yang paham batasan. Ia berani. Terlalu berani. Raisa ingin sekali mengabari Khalil. Ingin sekali sekadar menulis pesan, meminta tolong, atau sekadar mendengar suaranya yang selalu mampu menenangkan. Tapi di saat bersamaan, ia takut. Bukan takut membuat Khalil marah. Bukan takut membuat masalah lebih besar dengan Khalil. Tapi hatinya. Ia takut hatinya. Padahal sekara

