Hari keberangkatan itu akhirnya tiba. Udara pagi di Palembang terasa masih segar, meskipun di dalam hati Talia ada semacam kegelisahan yang tak bisa ia abaikan. Ia berdiri di depan cermin, mengenakan jaket tipis di atas pakaian travel casual-nya, sambil menatap bayangannya sendiri. Matanya sedikit sembab karena semalaman ia tak benar-benar bisa tidur. Ia memikirkan banyak hal — tentang perjalanan panjang yang akan ia mulai hari ini, tentang sahabat-sahabatnya yang hubungannya belum sepenuhnya pulih, dan tentu saja tentang Jason. Di sudut kamar apartemennya, koper besar berwarna abu-abu sudah siap. Semuanya sudah dikemas rapi: pakaian, dokumen perjalanan, paspor, tiket pesawat, bahkan buku catatan kecil yang biasa ia bawa ke mana-mana. Talia menghela napas panjang, mencoba mengusir kekhawa

