Ia tak pernah benar-benar mampu menolak apapun yang Khalil inginkan. Apapun. Mulai dari permintaan kecil hingga hal-hal yang terkadang membuat Raisa sendiri harus mengorbankan rasa lelahnya, atau bahkan mengubur ketidaknyamanannya. Bagi Raisa, memenuhi keinginan Khalil seperti sebuah keharusan, seolah itu sudah menjadi tugas tak tertulis yang ia emban sejak mereka memutuskan untuk menikah. Namun sikap itu, alih-alih membuat Khalil bangga atau merasa diistimewakan, justru diam-diam menimbulkan kekhawatiran di hatinya. Ia tahu, terlalu banyak memberi tanpa benar-benar mau, pada akhirnya hanya akan melahirkan kehampaan. Khalil adalah laki-laki yang peka, terlalu peka mungkin, terhadap perubahan halus dalam sikap Raisa. Ia bisa merasakan, betapa semua yang Raisa berikan padanya—sentuhan, pelu

