Setibanya di apartemen mewah yang mereka sewa di Singapura, suasana langsung terasa sibuk dan sedikit riuh. Angin sore yang hangat menerpa dari jendela besar yang terbuka sebagian, membawa aroma khas perkotaan yang bercampur dengan embusan udara laut. Apartemen itu benar-benar mewah — dinding kaca setinggi langit-langit, lantai marmer mengilap, furnitur modern berwarna netral yang tampak mahal, serta balkon luas yang menghadap ke cakrawala kota yang penuh gedung pencakar langit. Namun semua itu nyaris tak sempat dinikmati oleh Raisa. Ia tampak ngos-ngosan, berjuang menggendong Rafael yang mulai rewel. Di punggungnya masih bergelayut ransel berat yang berisi kebutuhan harian Rafael — popok, botol s**u, camilan, baju ganti, segala macam. Sementara koper besarnya yang berat sudah lebih dulu

