Cahaya matahari pagi menyusup lewat celah tirai, menciptakan garis-garis emas di lantai kayu. Aku mengerjapkan mata, terbangun dengan perasaan disorientasi yang aneh. Tubuhku terasa berat, tenggelam dalam kasur yang terlalu empuk dan selimut tebal. Di sekelilingku, aroma sandalwood dan musk—aroma khas Leonard—menguar kuat. Aku masih di Villa Tebing. Di ranjang yang sama yang kutempati sejak malam pertama kami tiba di sini. Tapi suasananya terasa berbeda. Biasanya, aku bangun dengan perasaan waspada—takut Leonard akan menarik selimutku secara kasar atau Silas tiba-tiba menggedor pintu. Pagi ini, suasananya hening. Tenang. Mencekam. Aku menoleh ke samping. Sisi ranjang di sebelahku sudah kosong, tapi bantalnya masih melesak, menyisakan hawa hangat. Leonard baru saja bangun. Aku mencoba

