Cahaya putih. Itu yang pertama kulihat saat mataku terbuka paksa. Cahaya itu terlalu terang, terlalu steril. Kepalaku berdenyut nyeri. Aku mengerjap, mencoba mengusir kabut tebal yang menyelimuti otakku. Bau antiseptik yang tajam langsung memenuhi hidungku, menggantikan bau amis darah dan aspal basah yang terakhir kali kuingat. Aku tidak lagi berada di lantai marmer dingin VIP Lounge. Aku terbaring di atas kasur yang empuk, diselimuti seprai putih bersih yang berbau detergen mahal. Suara bip-bip-bip yang ritmis dan pelan terdengar di samping kepalaku, menandakan bahwa jantungku masih berdetak, meski jiwaku rasanya sudah mati separuh. "Kau sudah sadar." Suara itu datang dari sudut ruangan yang remang-remang. Jantungku tersentak kaget. Monitor di sampingku langsung berbunyi lebih cepat

