Satu jam perjalanan dari Port Vallen ke pusat kota Vilmera terasa seperti berabad-abad. Di depan kami, lampu strobo ambulans transfer yang membawa Roseline membelah kegelapan jalan tol, meraung-raung meminta jalan. Di belakangnya, di dalam kabin SUV yang kedap suara dan berbau kulit mahal, aku duduk memeluk lutut. AC mobil menusuk tulang. Atau mungkin itu darah Roseline yang mengering di kulitku, menyerap kehangatan tubuhku. Leonard tidak bicara sepatah kata pun. Dia menyetir dengan tenang—stabil, presisi, seolah kami baru pulang dari acara formal, bukan dari rumah yang penuh darah. Saat mobil akhirnya meluncur masuk ke area drop-off lobi gawat darurat Rumah Sakit Pusat Vilmera—bangunan kaca yang lebih mirip hotel mewah daripada rumah sakit—aku merasa asing dengan tubuhku sendiri. Leon

