Menantu tidak berguna
Kota X Distrik JX, Blast Town, Restoran Fortnite.
Sebuah resepsi mewah sedang berlangsung di ruangan VIP nomor 2.
“Selamat ya, Pak Jhonson, atas kenaikan pangkatnya jadi general manager! Pak Jhonson memang royal banget langsung traktir kami makan di sini.”
“Posisi general manager memang dari awal seharusnya jadi jadi milik Pak Jhonson. Kenapa selama ini malah Claire Wharfi si anak haram itu yang menepati posisi itu?”
“Bagaimana nasibnya sekarang? Hanya karena si menantu tak berguna itu membuat keribuatan dengan berselingkuh dengan wanita lain, membuat si Claire mau tidak mau dipecat! Rumah Sakit Fairmont sekarang jatuh di tangan Pak Jhonson!”
Semua orang menunjukkan rasa hormat mereka kepada Jhonson, yang baru saja menggantikan posisi Claire sebagai general Manager.
Jhonson tersenyum bangga, dan berkata, “Promo yang aku dapat kali ini juga berkat usaha kalian para reporter. Semuanya mau minum apa langsung pesan saja. Pokoknya malam ini semuanya aku yang bayar. Kalau nanti kalian butuh bantuan apa langsung ngomong saja. Di satu kota ini tidak ada yang tidak bisa aku atasi.”
Pada saat itu juga, tiba-tiba pintu restoran terbuka. dandi dan Claire masuk ke dalam restoran. Jhonson yang melihat kedatangan Dandi itu meledeknya, “Eh, ini bukannya si menantu tidak berguna dari keluargaku? Gimana sekarang? Claire juga sudah dipecat? Kamu mau tidak menjadi pelayan di restoran sini demi menghidupi istrimu? Kerja jadi pelayan di sini sebulan bisa dapat 4 juta loh Hahaha.”
“Loh, itu bukankah si menantu tak berguna yang ketahuan selingkuh itu, ya? Kenapa si Claire masih belum juga menceraikannya?”
“Dasar pria yang tidak tahu malu, masih punya muka untuk datang kemari? Apa dia tidak takut mempermalukan orang lain? Ini bisa jadi berita besar nih, Aku mau bikin artikel dulu deh buat dipublish nanti.”
Para reporter ini dengan sinis terus mengingatkan Claire pada foto Dandi memeluk wanita asing yang diposting online kemarin. Dia tak pernah menyangka Dandi akan berselingkuh.
Sampai saat ini, Claire masih dipenuhi dengan rasa sakit dan amarah. Dia tidak sabar untuk memukul Dandi sampai mati!
Yang paling menyebalkan adalah Jhonson yang merupakan adik sepupunya sekarang mengantikan posisinya sebagai General Manger, sebagai sanak saudaranya Claire tidak bisa untuk tidak hadir dan memberikan selamat kepadanya. Hal ini membuat dia semakin kesal.
Awalnya Dandi masih ingin menjelaskan bahwa semua itu adalah jebakkan dari Jhonson, tapi Claire tidak mempercayainya. Dandi pun merasa tak berdaya. Dandi yang mendengar semua orang yang sedang menyindir Claire pun tidak bisa menahan diri, dan marah.
“b*****t! Claire dipecat karena hasil foto editanmu itu. Kamu sengaja meminta wartawan untuk mempublish foto tersebut, iya kan?”
Dandi tiba-tiba mendekati Jhonson, dan menarik kerah bajunya dengan kesal.
Jhonson terkejut melihat keberanian Dandi. Jhonson mulai panik dan berusaha melawan, lalu menatap teman-temannya, dan berkata, “Kalian nunggu apa sih? Cepat, bantu aku menghajar sampah ini!”
Beberapa wartawan itu merasa ragu. Lalu mereka menyergap Dandi di tengah dan berkata, “Lepaskan Jhonson, atau tidak kita akan sungkan padamu!”
Dandi menatap beberapa orang itu dengan tatapan yang membara, dan tertawa dingin, lalu berkata, “Siapa yang berani menggertak istriku, tidak akan aku lepaskan!”
Tidak ada yang tahu, Dandi yang dulu adalah seorang dewa perang terkuat di dunia! Menghabisi mereka semua itu baginya adalah hal yang mudah.
Tiga tahun lalu, Dandi terluka parah saat di medan perang. Itu semua karena dia dikhianati oleh bawahnnya. Claire lah yang menolongnya. Jika bukan karena Claire, mana mungkin dia bersedia berpura-pura menjadi seorang menantu yang tak berguna seperti sekarang!
Jhonson dengan sombong berkata, “Sini, sini. Manusia yang tak berguna seperti dirimu mana bisa mengalahkan kita semua!”
Tepat ketika Dandi ingin mengayunkan sebuah tinjuan ke wajah Jhonson, Claire dengan wajah yang kecewa dan putus asa itu, berteriak, “Cukup sudah! Jangan bikin masalah lagi! Kamu ini masih belum puas sudah mempermalukan aku?”
Melihat raut wajah Claire yang begitu menderita, Dandi hanya bisa menahan amarahnya dan melepaskan Jhonson.
“Maafkan aku, Claire. Aku tidak bisa menahan diri melihatmu dipermalukan oleh mereka semua.”
Claire tidak mengatakan apapun, dia hanya mentap Dandi dengan tatapan dingin. Lalu dia pergi mencari tempat duduk yang di sudut.
Suasana acara tersebut menjadi menjadi semakin meriah, semua orang berkumpul di sekitar Jhonson untuk bersulang dan mengobrol, dan tidak ada yang peduli tentang Dandi dan Claire yang duduk di sudut.
Setelah mereka semua meminum cukup banyak, Jhonson memukul meja dan berteriak, “Minta bill!”
Esther selaku manager restoran tersebut menghampiri Jhonson, “Pak Jhonson, totalnya 16 miliar. Pembayaran melalui kartu atau tunai?”
“Berapa?”
Jhonson sempat mengira dirinya mungkin salah dengar dan bertanya sekali lagi.
“Total tagihan malam ini 16 miliar. Ini struknya, silakan dicek terlebih dahulu.”
Jhonson mulai panik dan langsung mengambil struk tersebut. Di dalam struk itu tertulis ada sebuah minuman yang bernama ‘Polandy’ dengan harga 15,9 miliar!
Sontak Jhonson pun langsung kaget, “15,9 miliar? Kamu pikir aku bego ya? Panggil bos kamu kemari!”
“Kalau mau ketemu bos kami tidak murah, takutnya kamu tidak sanggup bayar.”
“Cuma bos restoran saja berani jual mahal sama aku? Kalau bos kalian tidak datang, aku lapor polisi dan bilang kalau dia melakukan pemerasan,” ancam Boris.
Esther hanya bisa mendesah dan menghubungi bosnya.
Pada saat itu juga, Dandi yang duduk di sudut itu beranjak berdiri dan berjalan ke arah mereka.
Yang membuat orang terkejut adalah raut wajah Esther yang sangat ketakutan ketika melihat wajah Dandi. Lalu, Esther dengan cepat berlari ke depan Dandi, dan membungkukan badan memberi hormat dan berkata, “Maafkan saya, Bapak Dandi yang terhormat. Aku tidak tahu Anda sedang berada di sini.”
“Eh … apa-apaan ini? Dia itu hanyalah seorang sampah masyarakat! Dia setiap hari kerjaannya hanya meminta-minta pada Claire untuk bertahan hidup. Bagaimana bisa menjadi Bosnya restoran sini? Kamu tidak salah lihatkan, Esther?” Tanya Jhonson, kebingungan.