“Dua jam yang lalu Pak Dandi baru saja beli restoran ini.”
Jhonson berusaha untuk menenangkan dirinya dan melihat suasana restoran di sekelilingnya.
“Kalau mau beli restoran ini juga minimal sampai puluhan miliar. Ternyata Claire banyak duit juga ya, berani dia ambil duit perusahaan untuk kepentingan pribadi. Awas saja pulang nanti aku laporkan ke Nenek.”
Esther hanya tertawa geli mendengarnya.
Puluhan miliar?
Interior satu ruangan VIP ini saja sudah tak terhitung harganya. Dan Dandi baru saja membayar 600 miliar untuk membeli seisi restoran ini.
“Polandy ini dibuat di Polandia di tahun 1975, dan hanya ada 88 botol. Keluarga kerajaan Polandia baru saja buka 1 botol di pesta mereka tiga bulan lalu, dan harganya memang 15.9 miliar. Kamu masih mau lapor polisi? Kalau begitu lapor saja. Aku hanya mau mengingatkan kalau sampai polisi datang dan cek harganya, sekarang bisa tembus 20 miliar.”
Jhonson masih tidak percaya dan mengeceknya di internet. Di situ dia melihat berita yang menyatakan bahwa Restoran Fortune benar-benar melakukan pembelian dua botol Polandy tahun 1975 dari kilang anggur di Polandia.
Seketika itu juga Jhonson langsung lesu dan tersadar kembali dari pengaruh alkohol.
Meski dia naik jabatan menjadi general manager di Rumah Sakit Fairmont sekalipun, gajinya selama 1 tahun tidak lebih dari ratusan juta. Dia membutuhkan waktu 20 tahun jika dia harus membayar wine tersebut.
“Kalau tidak sanggup bayar, suruh dia setiap hari datang kemari untuk cuci piring. Kasih dia gaji sebulan 6 juta sampai dia bisa bayar lunas,” kata Dandi kepada Esther.
“1 bulan 6 juta, berarti satu tahun hanya 70-an juta. Itu berarti cuci piring seumur hidup juga tidak akan lunas.”
“Masih ada empat orang lainnya, ‘kan. Suruh mereka bagi rata saja, kurang lebih 40 sampai 50 tahun cukuplah.”
Rona wajah Jhonson langsung muram mendengarnya. Tiga hari lagi dia akan resmi menjabat sebagai general manager Rumah Sakit Fairmont. Masa seorang general manager pulang kerja masih harus cuci piring?
Bukankah itu sama saja dengan menjadikan dirinya bahan lelucon?
“Papaku, Joyzt Wharfi, direktur di Wharfi Group, mana mungkin aku mau cuci piring untuk kamu? Hanya 16 miliar doang, ‘kan? Kamu pikir aku tidak sanggup bayar?”
Lalu Jhonson mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, “Pa, aku ditipu nih sama restoran tidak jelas ….”
Beberapa wartawan lainnya yang mendengar itu pun bisa bernapas lega, “Pak Jhonson kan pewaris keluarga Wharfi, 16 miliar buat dia mah kecil.”
Setelah menutup telepon tersebut, Jhonson dipenuhi dengan rasa percaya diri, “Bos restoran apanya, tetap saja kamu hanya orang yang hanya bisa mengandalkan orang lain untuk hidup. Masih berani bersandirwara di sini, nyali kamu memang besar ya. Kalau memang kamu sehebat itu, jangan kabur. Sebentar lagi orang suruhan papaku datang. Kita lihat saja nanti akan jadi bagaimana.”
“Papanya Pak Jhonson itu direktur Wharfi Group. Dandi, lebih baik kamu biarkan kami pergi sekarang juga, atau kamu yang akan kena akibatnya sendiri kalau bikin keluarga Wharfi marah.”
“Benar, wine 16 miliar anggap saja untuk rasa hormat ke Pak Jhonson. Kamu tidak akan bisa apa-apa kalau sampai bikin mereka tersinggung!”
Keempat wartawan yang lain tak hentinya terus menjilat Jhonson.
“Tadinya aku tidak mau bikin masalah ini jadi besar, tapi kalian sendiri yang meminta. Tapi jangan menyesal ya nanti,” ujar Dandi.
“Aku mau lihat apa kamu bisa sesombong ini waktu kamu harus berlutut minta maaf di depanku,” balas Jhonson.
Dandi sudah tidak banyak bicara lagi karena tidak ingin menghabiskan tenaganya dengan Jhonson.
Tak lama berselang, dari luar restoran terdengar suara langkah kaki yang padat seolah ada sebuah pasukan yang sedang melaju. Kemudian disusul dengan pengawal berseragam hitam yang membentuk dua barisan. Setiap dari pengawal itu berdiri tegak dengan tubuh mereka yang kekar.
Seketika pria dengan jas putih berjalan memasuki barisan, semua pengawal berseragam hitam itu serentak membungkuk dan menyapa dengan sebutan Kak Harvey.
Melihat kedatangannya, raut wajah Esther langsung berubah dan ia pun membungkuk, “Kak Harvey, ada apa Kakak datang kemari?”
Pria dengan nama lengkap Harvey Henson itu adalah mafia ternama di wilayah Blast Town ini. Dia adalah penguasa di sini. Semua orang yang ingin berbisnis di Blast Town harus tunduk kepadanya atau bisnis mereka takkan berjalan lancar.
Esther sendiri sudah cukup lama bekerja di restoran tersebut dan setiap tahunnya dia membayar upeti miliaran sebagai biaya keamanan. Tentunya dia tahu sebesar apa kapasitas yang Harvey miliki.
“Jhonson itu anaknya temanku, bisa dibilang dia sudah seperti keponakanku. Katanya kalian suruh dia cuci piring untuk bayar utang ya?” ujar Harvey.
“Dia buka botol Polandy yang harganya 16 miliar dan tidak punya uang untuk bayar. Jadi aku suruh dia cuci piring untuk melunasi utangnya,” balas Esther sembari menyeka keringat dingin yang membasahi kepalanya.
Harvey mengangkat botol Polandy tersebut dari atas meja dan memerhatikannya baik-baik, lalu dia pun berkata, “Esther, kamu sudah hidup di Blast Town sekian lama, seharusnya kamu mengerti peraturan di sini. Kalau kali ini kamu mau lepaskan Jhonson, aku anggap masalah ini selesai.”
“Maaf, Kak Harvey, tapi sekarang aku bukan yang punya restoran ini, jadi keputusan bukan di tanganku.”
Memang dulu Esther mau tidak mau harus tunduk kepada Harvey, tapi sekarang sudah berbeda karena dia bukan lagi pemilik restoran tersebut.
“Semua orang di sini juga tahu yang punya restoran ini kamu, mau menipu aku ya?”
“Dua jam yang lalu Pak Dandi baru saja membeli seluruh restoran ini seharga 600 miliar. Sekarang aku hanya jadi manajer.”
Seusai mengatakan itu, Esther mundur ke belakang Dandi. Sikapnya ini sudah jelas menunjukkan berada di pihak mana Esther sekarang.
Ini pertama kalinya Harvey bertemu dengan Dandi. Tubuh Dandi terlihat biasa saja bahkan cenderung kurus. Tapi Harvey tidak peduli dengan itu. Sudah banyak orang-orang kaya yang tunduk kepadanya.
“Wine ini anggap saja sebagai hadiah untukku karena kamu baru buka usaha di sini, bagaimana?” ujar Harvey.
“Aku tidak terbiasa memberikan hadiah ke orang lain. Lagi pula memangnya kamu pantas aku kasih hadiah?”
Dua belas orang pengawal yang berjaga langsung bersikap agresif ketika mendengar ucapan Dandi tadi.
“Oh? Kamu berani meremehkan aku?”
“Kak Harvey, dia ini menantu tidak berguna dari keluargaku, setiap hari kerjanya hanya menyusahkan orang lain. Berani dia meremehkan kamu. Pokoknya kamu harus kasih dia pelajaran, biar dia tahu seperti apa kehebatan Kak Harvey,” ucap Jhonson.
“Oh, parasit sudah berani kurang ajar sama aku? Sekarang masalahnya bukan hanya sebotol Polandy lagi. Aku kasih kamu kesempatan, berlutut dan minta maaf. Setelah itu kasih aku satu botol Polandy baru. Kalau tidak mau, jangan harap kamu bisa hidup sampai besok.”
“Dandi, kamu tuli ya? Kak Harvey menyuruh kamu berlutut dan kasih dia satu botol Polandy baru. Masih tidak mau menurut? Mau mati ya!”
Esther mulai tampak gelisah, dia hendak meleraikan suasana namun upayanya dicegah oleh Dandi, “Anjing-anjing liar di sini sudah berani ya menggonggong di depanku? Kalian tidak tahu dunia ini sudah berubah ya.”
Seketika itu Mary mendatangi Dandi dan membisikkan sesuatu di telinganya, “Sudah datang.”
Lagi-lagi terdengar suara langkah kaki berderap dari luar, sekelompok pengawal berbaju hitam menyerbu masuk dan dengan mudahnya menghabisi kedua belas pengawal yang dibawa Harvey.
Mereka sama-sama pengawal, tapi kekuatannya sangat jauh berbeda.
“Berani sekali kalian macam-macam sama anak buahku, sudah bosan hidup ya?” teriak Harvey.
Di saat itu juga datang seorang pria tua dengan pakaian tradisional berwarna hitam. Mata Harvey langsung terbelalak dan tubuhnya gemetar melihat kedatangan pria itu.
Harvey mengenali siapa dia. Dia adalah Darman, penguasa Distrik JX. Dialah yang menguasai semua club hiburan dan dunia bawah di Distrik JX. Mengepalai ratusan anak buah dan memiliki harta senilai triliunan. Bahkan bagi orang seperti Harvey saja sangat sulit baginya untuk bertemu dengan Darman.
Tapi sekarang Darman justru berdiri di pintu masuk dan membungkukkan badannya seolah sedang menyambut seseorang yang sangat penting.
Harvey merasa begitu tegang menatap apa yang ada di sana.
Apa jangan-jangan akan datang orang yang jauh lebih hebat daripada Darman?
Tak lama kemudian seorang pria paruh baya dengan T-shirt putih datang terburu-buru.
Semua orang yang ada di sana sontak terkejut.
Dia adalah Yusrin, orang terkaya di Distrik JX.
Semua orang sering melihatnya di TV. Kekayaannya mencapai puluhan triliun dan usahanya yang bernama Yusrin Land sudah tersebar di seluruh penjuru Distrik JX.
Yusrin buru-buru datang ke restoran itu segera berlutut di hadapan Dandi, “Aku patut dihukum karena sudah bikin Pak Dandi terkejut!”